Selama ini Anda merasa suami selalu mengandalkan arahan Anda dalam melakukan segala hal, mulai dari membeli mobil, memilih sekolah anak, sampai menentukan tujuan berlibur. Kalau Anda mencoba menyerahkan tanggung jawab kepada suami, ada saja yang salah. Saking tergantung, Anda juga menentukan kebutuhan suami, misalnya memilih pakaian. Sifat suami yang peragu dan selalu tergantung agak membuat Anda terkesan dominan dalam rumah tangga.
Menurut Konsultan Monty Satiadarma, bukankah sebelum menikah Anda telah lebih dahulu belajar mengenal dirinya? Jangan-jangan salah satu aspek yang membuat diri Anda terpikat kepadanya adalah karena ia memberikan peluang kepada Anda untuk bertindak lebih dominan dan lebih menentukan. Demikian pula Anda, yang selama ini merasa nyaman dan bermakna di dalam keluarga karena merasa amat diandalkan oleh suami.
Jika Anda ingin mengubah kebiasaan ini, berikan kesempatan kepadanya untuk membuat keputusan. Tapi, apa pun hasil keputusannya, Anda jangan mencela, jangan pula mempersalahkannya, sekalipun tidak selaras dengan selera Anda. Karena, bisa jadi selama ini ia enggan membuat keputusan karena enggan dicela, enggan disalahkan, enggan pula dikritik.
Anda benar, ia cenderung menjauhi peluang tanggung jawab dan cenderung menyerahkannya kepada Anda karena ia merasa Andalah yang mendominasi segalanya. Di satu pihak ia menikmati sikap Anda, karena lebih memberikan kemudahan baginya dan tak harus berpikir lebih saksama, cukup menyerahkan segalanya kepada Anda. Di lain pihak, Anda pun menikmati pola hubungan ini karena Anda merasa yang memiliki otoritas untuk memutuskan.
Jika Anda ingin mengubah sikap seseorang terhadap diri Anda, awali dengan mengubah sikap Anda terhadap dirinya. Jangan lagi pilihkan pakaian yang ingin ia pakai. Biarkan ia memilihnya sendiri, tapi jangan pula mengkiritik jika pilihannya tak sesuai selera Anda. Jangan Anda yang menentukan tujuan berlibur, serahkan saja kepadanya. Jika ia tak memberikan keputusan, tak harus juga berlibur. Sekiranya kondisi-kondisi seperti ini belum juga bisa dilakukan, ada baiknya Anda berdua memperoleh bantuan tenaga konselor perkawinan atau konselor keluarga.
Menurut Irma Makarim, tak ada yang memaksa Anda memberi bantuan untuk suami, kecuali diri Anda sendiri. Anda menginginkan agar semua kegiatan rumah tangga berjalan sesuai harapan. Namun, bila Anda jujur pada diri sendiri, sebenarnya harapan siapa yang lebih dominan?
Menetapkan standar secara sepihak menunjukkan bahwa Anda menganggap cara Anda lebih baik dari cara suami. Tanpa disadari, Anda memandang diri Anda lebih unggul darinya. Padahal, tak selamanya orang yang memiliki cara berbeda berarti salah. Keinginan Anda agar semua berjalan sempurna membuat Anda sulit menoleransi perbedaan cara dengan suami. Akibatnya, suami menjadi tidak berani membuat keputusan karena takut Anda pojokkan. Sedikit saja yang terlewat atau tidak sesuai dengan selera Anda, maka Anda langsung mengambil alih perannya. Ia pun makin berperilaku pasif. Tanpa Anda sadari, perilaku Anda justru mendukung sikap suami untuk terus bersikap pasif.
Sesungguhnya, tak ada yang salah atau benar dalam masalah ini. Semua terpulang lagi pada hubungan seperti apa yang diinginkan oleh Anda berdua. Bila pasangan yang satu merasa lebih mampu dari yang lain, biasanya dialah yang mengendalikan rumah tangga. Bila Anda menghendaki hubungan yang setara, Anda harus bisa berbagi tugas dan kewajiban. Selain dibutuhkan kesabaran, Anda berdua pun memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan peran baru ini. Dukung suami untuk menjadi lebih tegas dan mandiri. Jangan terburu-buru memojokkan keputusannya. Lakukan apa yang ia mau dan nikmati saja hasilnya. Sehingga, suasana rumah tangga menjadi lebih nyaman.(f)
baca juga Suami Tidak Teratur!