Bagi boyband/girlband, terkadang harus diakui bahwa skill menyanyi dan menari anggotanya jadi tak terlalu penting lagi, sebagaimana pada penyanyi solo. Sebab, menurut Adib, bagi fans fanatik yang sangat mengidolakan grup musik atau tokoh tertentu, mereka tak memedulikan kekurangan. “Mau dia jelek, enggak bisa nyanyi, atau narinya jelek, yang penting gue suka gayanya!” kata Adib.
Sebagai contoh, Taylor Swift, di awal karier bermusiknya, ia kerap terdengar fals saat membawakan lagu country di atas panggung. Namun, kenyataannya, ia telah berubah menjadi seorang diva dan pertunjukannya selalu sold out! Kunci keberhasilannya adalah karena ia terus belajar dan selalu menyajikan show yang wah dengan konsep kuat. Kini, ia telah bertransformasi dari penyanyi country menjadi diva pop dunia.
Menurut Adib, kesuksesan dan kemampuan bertahan lama boyband/girlband memang lebih banyak ditentukan oleh konsep lagu yang bagus ketimbang keindahan vokal personelnya. Lagu-lagu ChiBi seperti Beautiful, Love is You, tak hanya enak didengar, tapi juga lebih universal tentang persahabatan, cinta kepada orang tua.
Selain kualitas lagu, kata Adib, brand image grup juga harus kuat. Brand image seperti memberikan gimmick interaksi dengan penonton dalam pertunjukan yang dilakukan JKT48 membuat grup musik tetap punya tempat di hati penggemarnya.
Dari nobody menjadi somebody di usia remaja tentunya bisa membawa pengaruh psikologis tersendiri. “Masyarakat pastinya akan berekspektasi tentang perilaku yang nantinya akan dipantau atau dikomentari lewat media sosial. Jika menjadi artis berdasarkan keinginan sendiri, ia akan cenderung lebih tangguh daripada yang terpaksa,” jelas Ine.
Bekal mental menjadi artis yang harus disiapkan, saran Ine, meliputi rasa percaya diri, tangguh terhadap komentar pedas, disiplin, semangat terus belajar, dan tentu saja rendah hati sehingga ia memiliki personal branding yang oke. “Apabila tak siap mental, mereka yang telah menjadi bintang cenderung akan bersikap sombong dan sulit diajak bekerja sama,” tambahnya.
Skill menari dan menyanyi memang bisa dilatih belakangan, tapi mental dan attitude itu mutlak jadi modal dasar seorang calon bintang agar tak menjadi bumerang saat mereka telah di atas. Hal penting lain yang harus disiapkan adalah menghadapi saat popularitas menurun.
“Anak itu tak hanya butuh disiapkan untuk melejit, tapi juga menghadapi kejatuhan. Sebagai orang tua, kita perlu mendengarkan perasaan mereka agar mereka tak menjadi down atau menyalahkan diri sendiri dan orang lain,” kata Ine.
Artis yang tak rela menghadapi penurunan popularitas biasanya dengan cara mencari-cari sensasi. “Supaya anak menjadi bintang yang sehat secara emosi, maka ia perlu diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri ketimbang dipaksakan memiliki karakter tertentu yang bukan dirinya,” pungkas Ine. (f)
Baca Juga:
Tak Sekadar Hore-hore
Girlband Mulai Pudar?