Atau Bitcoin, sistem pembayaran online yang sempat populer namun kini diragukan stabilitasnya. Pasalnya, Bitcoin adalah digital currency atau mata uang digital (tanpa uang fisik) yang memakai sistem peer-to-peer, di mana uang tidak diterbitkan oleh bank atau negara tertentu, tapi oleh individu atau perusahaan, dan memiliki tingkat inflasi yang sama sekali berbeda dari yang ditentukan oleh bank sentral tiap negara.
Inovasi bentuk pembayaran lainnya kebanyakan masih mengandalkan kartu kredit. Namun, seiring dengan makin berkembangnya e-commerce dan teknologi digital, platform dan cara pembayaran yang bermunculan makin beragam. Efektivitasnya juga masih harus diuji dengan waktu. Seperti Apple Pay, aplikasi iPhone 6 ke atas dan Apple Watch yang dibuat untuk menggantikan dompet, karena dapat menyimpan semua kartu bank di satu tempat.
Meski tren globalnya memang mengarah ke sana, Peter Jacobs, Direktur Komunikasi Bank Indonesia, menilai istilah cashless agaknya kurang tepat. Menurutnya, di Indonesia dan mungkin juga di negara lain, uang tunai sulit untuk sepenuhnya ditinggalkan.
“Mungkin istilah yang lebih tepat adalah less cash, atau lebih sedikit uang tunai. Teknologi memang membuat penggunaan nontunai lebih nyaman, namun pilihan untuk bisa menggunakan uang tunai itu harus selalu ada. Sebab, penggunaan nontunai selalu memiliki risiko yang terkait dengan infrastruktur, misalnya server down, mesin atau kartu yang tidak berfungsi, dan sebagainya,” kata Peter.
Faktanya, penggunaan uang nontunai di dunia makin meningkat. Berdasarkan data yang dikumpulkan BI, pertumbuhannya sebesar 7,7% di tahun 2012. Sebagai salah satu negara emerging market, masyarakat Indonesia memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menjadi less cash society. Namun memang jalannya masih cukup panjang. Oleh karena alasan inilah Bank Indonesia menggalakkan Gerakan Nasional Non-Tunai sejak Agustus 2014.
PRIMARITA S. SMITA