Trending Topic
Seleksi sebelum Posting

5 May 2015

Mengunggah foto atau kata-kata ke media sosial, tak sesederhana yang dikira. “Banyak orang lupa bahwa meskipun akun sosial media itu milik pribadi, tapi sebetulnya sosial media adalah ruang publik,” kata Monica Sri Kumalasari, lifecoach dan psikoterapis. Dalam etika menyebarkan informasi di ruang publik tentu ada aturan mainnya sendiri agar tak mengganggu orang lain. .

“Bayangkan, bagaimana perasaan orang yang melihatnya. Tidak semua teman kita punya pasangan. Barangkali ada yang baru ditinggalkan pasangannya karena perceraian atau kematian. Bahkan, banyak juga yang sulit mendapatkan pasangan dan telah jomblo bertahun-tahun. Memamerkan kemesraan seperti itu hanya akan menyakiti hati orang-orang yang tak punya pasangan,” tukas Monica.

Jika sampai terjadi perpisahan, bagaimana seharisnya menjaga laku dan ucap di media sosial? Agar tak membuat keruh keadaan, sebaiknya memang tak perlu lagi umbar curhat, memaki-maki pasangan atau melabrak selingkuhan. Karena itu semua tak ada gunanya, hanya akan menjadikan citra diri kita menjadi lebih buruk. Untuk menumpahkan perasaan negatif, Monica menyarankan untuk membuat akun anonim di internet. "Di situ bebas mau memaki, menangis, mengumpat. Sakit hati mereda dan nama baik pun tetap terjaga," sarannya. 

Menurut Nukman Luthfie, online strategist, foto berdua yang telah diambil atau diposting memang menjadi hal milik masing-masing dan sulit ditarik kembali. "Itulah alasannya mengapa kita perlu menyeleksi foto untuk diunggah. Mana foto yang pantas untuk dilihat semua orang dan mana yang sebaiknya hanya disimpan sebagai koleksi pribadi." 
Advertisement