Sex & Relationship
Sayang, Aku Bukan Dia!

16 Oct 2013


Kalau kamu berusaha lebih keras, bisnis kamu juga pasti bisa melejit seperti sahabatmu. Walaupun diungkapkan dengan nada kalem, ucapan Anda ini langsung ditanggapi dengan nada tinggi oleh pasangan. Bukannya terpacu untuk menjadi lebih baik, suami atau kekasih malah drop dan uring-uringan. Lalu, mesti bagaimana membuat pasangan tahu apa yang Anda mau tanpa membuatnya merasa sedang dibanding-bandingkan dengan orang lain?

Setiap orang punya gambaran ideal tentang kehidupan pernikahan yang ia impikan. Bahkan, ketika Anda sadar bahwa calon pasangan bukan orang yang sempurna, Anda punya keyakinan kuat bahwa Anda bisa mengubahnya menjadi sosok ideal yang Anda harapkan.

Ternyata, harapan melencos dari kenyataan. Suami tidak seulet yang Anda bayangkan. Ia juga bukan tipe pria hangat seperti ayah Anda. Jangankan membelikan bunga, ingat tanggal anniversary saja tidak! Atau, dengan alasan mengikuti filosofi hidup yang mengalir seperti air, Anda merasa suami minus ambisi. Ketika karier teman seangkatannya sudah berada di level top management, posisi suami baru beranjak ke middle management.

Dunia memang tidak lagi sesimpel seperti ketika hanya ada sepasang manusia, Adam dan Hawa. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa, setiap hari Anda berjumpa lawan jenis dengan beragam kepribadian dan tingkat kesuksesan. Apakah itu di kantor, di komunitas yang Anda ikuti, di sekolah Anak Anda, atau bahkan di lingkungan keluarga.

Banyak di antara orang-orang tersebut yang kemudian membuat Anda tertarik dan terinspirasi. Ini tentu saja bukan masalah, dan merupakan hal yang wajar. Namun, akan menjadi masalah ketika hal-hal tersebut mulai membuat Anda mempertanyakan kualitas pasangan dan hubungan Anda bersamanya. Bukannya membangun kebaikan dalam kehidupan pernikahan, yang ada hubungan Anda dan suami malah makin menjauh.

Advertisement
“Tanpa sadar, Anda akan terjebak dalam upaya membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain. Dan biasanya, perbandingan ini dilakukan dalam konteks negatif, yaitu membandingkan pasangan dengan orang lain yang dianggap memiliki kualitas lebih baik,” ungkap Tri Swasono Hadi, M. Psi, psikolog perkawinan dari Klinik Rumah Hati.

Karena dilakukan dalam konteks negatif, tanpa sadar pilihan kata dan intonasi Anda pun ikut-ikutan negatif – terdengar sebagai serangan atau sindiran tajam yang menjatuhkan ego suami sebagai seorang pria. Kalau sudah begini, Anda tentunya tidak bisa berharap bahwa suami akan berubah seperti yang Anda harapkan. ”Sebaliknya, suami merasa dirinya tidak berharga, dan berkembang menjadi sosok yang rendah diri,” tambah Tri.

Tidak mustahil, hal ini akan menimbulkan ketegangan dan pertengkaran yang semakin menurunkan kepuasan atas hubungan pernikahan. ”Jika rasa ketidakpuasan ini mencapai batas ambang toleransi, maka hubungan bisa berakhir,” lanjut Tri.

Apabila maksudnya memang untuk memacu pasangan menjadi sosok yang lebih baik, harusnya himbauan itu tidak bernada menyerang. ”Apabila memang ingin belajar dari kesuksesan orang lain, nyatakan saja dalam bentuk kekaguman atau pujian kepada sosok tersebut tanpa melakukan perbandingan ke pasangan. Fokuskan pada usaha yang dilakukan orang tersebut dan bukan pada kondisi akhirnya,” ujar Tri menyarankan.

Daripada menunjuk kelemahannya, Anda bisa langsung menyasar kelebihan-kelebihan suami, dan mendorongnya untuk mempertajam potensi-potensi yang dimiliki agar performa suami dalam beberapa bidang makin meningkat. Pujian ini akan menaikkan egonya, membuat suami lebih percaya diri, optimistis, dan termotivasi untuk membuat perubahan yang lebih baik.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?