Berbicara soal investasi memang selalu menarik, karena pasti ada iming-iming keuntungan yang menggiurkan pada akhirnya. Tak heran jika seorang anggota keluarga atau teman menawarkan kita sebuah investasi, pastilah janji manis keuntungan berlipat ganda yang akan disodorkan dalam proposalnya. Secara manusiawi, otak manusia memang lebih mengedepankan kesenangan dan menolak sengsara. Maka, tawaran investasi berbentuk money game yang menjanjikan hasil luar biasa, membuat seseorang lebih mudah tergiur.
Ada banyak tujuan orang berinvestasi. Salah satunya, untuk mempertahankan nilai aset terhadap inflasi. Jika rata-rata inflasi 10% pertahun, maka dengan berinvestasi tentunya hasil yang diharapkan di atas 10%. Selain itu, investasi juga untuk mencapai tujuan keuangan tertentu, misalnya mempersiapkan dana pensiun. Untuk semua tujuan ini, menurut Lukas, investasi tak bisa instan, butuh waktu untuk menikmati manisnya keuntungan. Contohnya, dana pensiun butuh setidaknya 15 tahun untuk bisa mencapai target investasi yang diharapkan.
Sayangnya, karena sifat manusia yang cenderung menginginkan hasil yang cepat dengan cara mudah, berinvestasi jadi tidak lagi mempertimbangkan faktor risikonya. Tak dipungkiri, tiap investasi pasti melekat pula risikonya. Tapi, ini bukan berarti kita menjadi takut berinvestasi atau justru menganggap risiko sebagai hal yang lumrah terjadi.
Misalnya saja MMM, orang hanya tergiur pada iming-iming keuntungan 30% per bulan dan cenderung tutup mata mengenai pihak penjaminnya atau izin usahanya. Padahal, kalau diteliti kembali, MMM tak bisa menjamin ada pihak yang akan mentransfer balik ke anggotanya. Dengan demikian, risiko apa pun yang terjadi pada nasabah, tidak tergolong risiko berinvestasi, melainkan risiko berjudi.
Ketika berinvestasi jangan mudah percaya pada penawaran investasi yang sifatnya mendapat hasil berlipat ganda dan dalam kurun waktu yang singkat, sebulan misalnya. Sebenarnya, ada banyak produk investasi yang aman yang bisa Anda pilih, seperti emas, properti, dolar, ORI, sukuk, hingga interpreneurship. “Ingatlah bahwa dalam berinvestasi Anda butuh strategi. Jadi, jangan masuk ke dalam investasi yang kita sendiri tidak tahu kedalaman kolamnya,” ungkap Lukas.
Sekarang, coba bandingkan investasi-investasi favorit ini. Produk yang aman dan terjamin seperti emas dan obligasi pemerintah nilai investasi per tahunnya sekitar 15%, sedangkan saham perusahaan bluechip bisa mencapai 20% setahun. Dari sini saja, Anda seharusnya sudah bisa melihat apakah sebuah investasi itu menjanjikan atau justru merugikan pada akhirnya. Perlu dipahami bahwa produk investasi seharusnya adalah produk yang berada di bawah pengawasan otoritas terkait, dalam hal ini OJK.
Lantas, bagaimana mewaspadai suatu investasi agar tidak terjebak dalam investasi abal-abal alias investasi bodong? Saran Lukas, lakukan dulu tiga hal berikut sebelum memutuskan berinvestasi. Pertama, kuncinya adalah keamanan. Sebelum menginvestasikan dana Anda, pastikan perusahaan yang Anda pilih aman. Mulai dari siapa pemilik usahanya, investasi apa yang ditawarkan, hingga ekspektasi return yang masuk akal. Kedua, lakukan analisis secara menyeluruh dan detail. Ketiga, harus mengetahui dengan sadar imbal hasil yang didapatkan. Belum tentu imbal hasil yang besar berarti keuntungan yang didapat juga besar, bisa saja apes yang dituai.(FAUNDA LISWIJAYANTI)