Jauh sebelum negara kita ini melakukan pemilihan umum secara langsung seperti sekarang, sudah ada prediksi bahwa profesi konsultan politik akan banyak dibutuhkan. Prediksi tersebut disampaikan oleh pakar komunikasi politik, Effendi Gazali. “Kala itu, di masa pemerintahan Orde Baru, saya sudah memprediksi bahwa Indonesia pasti akan mengalami era di mana komunikasi politik berperan besar. Alhasil, profesi konsultan politik akan banyak dibutuhkan,” tutur pria yang kini aktif menjadi personal political consultant ini.
Terbukti, apa yang diprediksi Effendi menjadi kenyataan. Aturan pilkada hingga pemilihan presiden di Indonesia dilakukan secara langsung, menjadikan profesi konsultan politik makin diperlukan. “Coba Anda lihat sekarang. Profesi ini menjadi tren. Banyak lembaga konsultan politik yang bermunculan. Ini menjadi bukti bahwa komunikasi politik mulai menjadi industri,” tuturnya.
Walau sedang booming, menurut Effendi, menjadi konsultan politik tidaklah gampang. Ada banyak langkah yang harus dilakukan seseorang yang ingin menggeluti bidang ini. “Yang paling utama, konsultan politik harus memahami teori komunikasi politik dan melakukan tugasnya secara fair. Tidak hanya mengusahakan kandidatnya menang,” ujar Peneliti Terbaik Universitas Indonesia (UI) 2003 bidang Social & Humanity ini.
Bagi Effendi, selain menguasai dunia politik, pekerjaan ini juga membutuhkan skill komunikasi yang baik. Pasalnya, seorang konsultan politik harus mampu bekerja sama dan berkoordinasi dengan banyak pihak, seperti tim sukses kandidat, lembaga survei, advertising agency, media center, hingga event organizer. “Harus luwes berkomunikasi dan punya relasi luas. Itu jadi syarat utama, karena nantinya, konsultan politik harus mampu menciptakan strategi berkampanye yang berbeda dari kebanyakan,” tutur pria yang meraih gelar Ph.D di bidang komunikasi politik dari Radboud Nijmegen University, Belanda, ini.
Bagi Effendi, profesi yang satu ini memang kompleks. “Pada dasarnya, tugas seorang konsultan politik yakni memberikan gambaran komprehensif untuk membuat sebuah kebijakan komunikasi politik yang pada akhirnya akan melibatkan aspirasi masyarakat,” papar Effendi.
Jika tertarik menggelutinya, saran Effendi, Anda sebaiknya menguasai ilmunya terlebih dahulu. Tak harus dimulai dari dunia politik, tetapi juga bisa diawali dari bidang komunikasi. “Yang terpenting, Anda harus memiliki pengetahuan luas antara bidang komunikasi ataupun politik terlebih dahulu, agar nantinya Anda bisa memadukan keduanya dengan baik,” tegas Effendi.
Ke depannya, Effendi yakin profesi konsultan politik memiliki prospek yang baik. Karena, akan ada banyak aktivitas pilkada yang membutuhkan lebih banyak konsultan politik, baik yang berbentuk personal maupun lembaga. “Seperti yang sudah saya ramalkan, bahwa pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Tak mengherankan, profesi ini memiliki prospek bagus,” tuturnya.