Meski tidak ada aturan untuk ke kantor, Putri mengaku senang datang ke kantor untuk makan siang atau ngobrol dengan kolega dari tim lain. “Justru dari percakapan informal seperti ini, selalu ada banyak cerita atau perkembangan menarik yang mereka bagi dengan saya, dan ini krusial untuk pekerjaan saya sebagai public relations.”
Sebagai warga Jakarta, Putri merasakan bisa mengontrol jadwal bekerja sendiri sebagai anugerah. ”Saya bisa memilih untuk berada di jalan di jam-jam tertentu saja untuk menghindari macet. Untuk mendisiplin diri, saya menggunakan kartu Now di Google App yang memberi ‘now-tifications’ untuk hal-hal urgent yang tertulis di kalender dan di e-mail saya. Misalnya, perhatian saya teralih pada hal-hal lain, kartu now ini akan muncul di smartphone dan kembali mengingatkan saya akan hal-hal yang penting dan harus diselesaikan saat itu juga,” kata Putri.
Hebatnya, kekompakannya dengan tim tetap terjaga. “Google mengadakan banyak aktivitas sesama googler, seperti yoga tiap Kamis di kantor, atau TGIF tiap hari Jumat sore. Kami tinggal mengatur jadwal dengan baik, misalnya di pagi hari saat jalanan masih macet, kami kerja dari rumah. Sore hari kami di kantor untuk bertemu kolega. Sangat menyenangkan,” katanya.
Menurut Putri, ia pernah berada pada pekerjaan yang mengharuskannya untuk berangkat kerja pukul 06.00 karena macet, lalu sampai di rumah pukul 21.00 dalam keadaan lelah dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. “Beda sekali dengan sekarang, saya bisa mengatur jadwal sedemikian rupa supaya saya bisa menyelipkan hal-hal personal yang saya butuhkan, seperti yoga atau belajar masak dari YouTube, ha… ha… ha….”
Perusahaan seperti Google memiliki banyak fasilitas penunjang yang memungkinkan karyawannya bekerja secara telecommuting. Namun secara umum, masih banyak perusahaan di Indonesia yang belum siap melakukan sistem telecommuting ini karena infrastruktur perusahaan belum memadai untuk menunjang sistem kerja jarak jauh. Selain tentu saja faktor corporate culture perusahaan tersebut. (f)