Sekarang Piyu memiliki koleksi 40 gitar Gibson. "Banyak yang berpikir, buat apa punya gitar sebanyak itu? Mengoleksi gitar, menurut saya, adalah salah satu hobi pria yang susah dimengerti, terutama oleh wanita. Saya memang sejak dulu senang sekali mengoleksi barang klasik, seperti mobil Mercedes Benz C250 dengan motif batik karya Carmanita yang saya dapat dari lelang, juga apartemen Da Vinci dengan furniture-nya yang bergaya Eropa klasik. Saya nggak boros, tapi saya percaya, sesuatu yang harganya mahal pasti ada nilainya, yaitu kualitas yang bagus."
Bagi Piyu, kemewahan hanya aktualisasi diri, sesuatu yang wajar ia nikmati setelah segala usahanya selama ini. Tapi, bukan berarti ia lantas harus bergaya hidup mewah setiap saat. "Saya senang jalan-jalan ke luar negeri, tapi saya juga masih senang pergi ke daerah-daerah di Indonesia. Saya masih menikmati makan gorengan di pinggir jalan, ngobrol dengan tukang parkir atau siapa pun. Justru saat ini saya harus lebih fleksibel."
Barang mahal yang ia beli harus punya nilai investasi. Hal ini adalah sesuatu yang sudah ia mengerti betul sejak muda. Saat Padi menerima royalti pertama, uangnya langsung ia belikan tanah untuk dijadikan studio. "Studio ini tidak hanya kami pakai, tapi juga bisa disewakan. Jadi, perputaran uangnya akan jalan terus. Karena sering menangani uang dalam jumlah besar, diam-diam saya ingin belajar tentang financial planning. Sejauh ini saya sudah pernah mencoba bermain investasi, mulai dari reksa dana sampai trading saham. Saya ingin punya ilmu lebih banyak untuk mengelolanya supaya lebih menguntungkan," tegasnya.
Primarita Smita
Baca juga:
Bruno Mars, Bermusik dari Hati