Trending Topic
Perlu Untuk Menjauh

11 Dec 2014


“Menikmati liburan bersama keluarga besar, kenapa tidak? Apalagi di akhir tahun, di mana kesempatan libur dipunyai hampir semua orang. Tak ada salahnya senang-senang bersama keluarga besar,” ujar Etyastari Soeharto (35), seorang freelance writer dari Yogyakarta. Selain sebagai ajang reuni, liburan bersama ini menurut Etyas juga menjadi alternatif agenda tahunan untuk saling bertemu dan mengeratkan tali persaudaraan.
    Ibarat sebuah perhelatan, liburan bersama keluarga perlu perencanaan yang matang. Segala sesuatu harus didesain sedemikian rupa sehingga setiap anggota keluarga merasakan betul asyiknya liburan. “Saya butuh paling tidak 2-3 bulan untuk merancang segala pernak-perniknya,” tambah Etyas.
    Apa yang ada di benak Etyastari pasti juga menjadi keinginan banyak orang. Hari-hari kita memang sudah sibuk pekerjaan dan otak kita diperas untuk menyelesaikan urusan kantor. Belum lagi untuk pergi ke kantor saja bagi warga kota besar menjadi perjuangan tersendiri, kemacetan berjam-jam atau harus berjibaku dengan penumpang lain di kereta commuter line atau Transjakarta. Perjalanan pun jadi nggak santai. Dan begitu kembali di rumah, segera disambut urusan anak dan rumah tangga.
    Anak-anak pun menghadapi hal yang nyaris sama. Pelajaran di sekolah yang sulit, plus semua kegiatan ekstrakurikuler yang bejibun. “Ketika otak kita sudah begitu penuh, yang kita rasakan adalah kok, jadi lemot ya? Sulit konsentrasi, atau bisa juga ke masalah emosi. Menjadi sensi, mudah marah, kesal atau kecewa,” kata Ratih Pramanik, psikolog dari Personal Growth.
    Ketika sudah begitu, itulah saatnya kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk ‘menjauh’ dari hiruk-pikuk itu. Tujuannya, agar kita memiliki waktu untuk mendinginkan ‘mesin’ dan merevitalisasi tubuh dan pikiran. Dan liburan itu –menurut Ratih-  menjadi salah satu caranya, selain bisa juga dilakukan dengan meditasi, tidur atau melakukan aktivitas fisik di lingkungan yang hijau, seperti bersepeda misalnya.
Advertisement
    Saat ini, liburan sudah menjadi bagian dari gaya hidup warga. Hal ini diiyakan Yulita Widiastuti, freelance tour leader yang sudah mengelilingi dunia karena pekerjaannya. “Betul, sekarang trennya kalau punya uang tidak harus membeli barang-barang mewah melainkan memilih untuk berlibur. Alasannya, karena memori yang didapat dari liburan lebih long lasting.”
Berjumpa dan mengobrol dengan para tamu –begitu ia mengistilahkan orang yang mengikuti paket tour-nya – menurut Yulita, sekarang reward dari perusahaan saja bentuknya traveling. Perusahaan seperti asuransi, otomotif, bahkan BUMN, ketika karyawan mereka mencapai target, maka bonus tidak lagi dalam bentu uang, melainkan liburan.
”Menurut bos mereka, bila diberikan dalam bentu uang itu cepat habis dan tidak ada bentuknya. Sedangkan kalau jalan-jalan memorinya lebih panjang, meski sebetulnya di tempat tujuan nggak selalu bagus, ya, karena pasti adalah berantem-berantem,” katanya, tertawa.
Anak-anak muda yang baru bekerja ,yang artinya uangnya belum seberapa pun menurut Yulita juga banyak yang request dibuatkan tur rute-rute pendek. Negara-negara seperti Thailand, Malaysia atau Vietnam menjadi tujuan. “Untuk tiket biasanya mereka book sendiri, namun bila pergi berombongan biasanya mereka minta bantuan travel agent untuk booking kamar hotel bila jumlahnya lebih dari 5 kamar,” imbuhnya.

Yoseptin Pratiwi



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?