Jelas, hampir semua industri kini digerakkan oleh teknologi informasi (TI). Menurut riset situs penyedia tenaga TI, Modis.com, pekerjaan terkait TI, seperti web development, programming, software engineering, atau application engineer adalah yang berpotensi banyak dicari hingga tahun 2022.
Kebutuhan SDM di bidang ini pun terus bertambah. Artinya, peluang berkarier kian terbuka. Tidak sedikit pula anak bangsa yang sukses dan namanya sudah mendunia. Misalnya, Jim Geovedi (35), pakar keamanan komputer dan satelit yang telah cukup dikenal dunia. Saat ini, ia berkarier di London dengan mendirikan perusahaan Xynesis International.
Menurut Anthonius Henricus (Anthon), Direktur Developer Experience and Evangelism (DX) PT Microsoft Indonesia, SDM Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi programmer kelas dunia. Hal ini sudah terbukti dengan beberapa anak bangsa yang sudah bekerja sebagai programmer di perusahaan multinasional di dalam dan luar negeri, termasuk di Microsoft.
Programmer-programmer muda Indonesia juga sudah berhasil membuat aplikasi game yang mendapat sukses secara global, contohnya Ragnarok. Ada pula tim programmer mahasiswa dari Universitas Trunojoyo, yang berhasil merebut Juara II di tingkat dunia untuk kompetisi Microsoft Imagine Cup tahun 2013. Tim dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia sudah sejak tahun 2005 berhasil masuk babak final di tingkat dunia di kompetisi ini.
”Setelah merasa cukup di IBM, saya melihat ada peluang sangat prospektif di bidang Big Data Analytics. Saya pun menerima tawaran dari Traveloka untuk bergabung sebagai Data Scientist sejak Januari tahun ini,” kisahnya. Namun, ia tetap memilih berbasis di Singapura, demi menjaga kenyamanan istri dan dua anaknya. Menurut Ainun, yang pernah menggagas situs KawalPemilu.org, biasanya di dunia programming itu bukan soal lulusan dari mana, namun soal skill. ”Skill itu didapat dari pengalaman, termasuk keisengan ngulik dan belajar secara autodidak,” ujar Ainun, yang mengatakan, dunia kini sudah globalized dan flat.
Senada dengan Ainun, Calvin Kizana (42), founder aplikasi foto PicMix, dengan yakin mengatakan, ia lulusan perguruan tinggi tanah air, sempat berkarier di Singapura dan Amerika Serikat selama beberapa tahun. Setelah itu, Calvin dipercaya memimpin Elasitas, perusahaan jasa TI yang membuatkan peranti lunak, aplikasi, dan permainan.
”Banyak perusahaan luar yang mengalihdayakan pekerjaan di sini. Misalnya, developer games Agate dan Touchten. Artinya, mutu dan kualitas kerja SDM kita sudah diakui di luar. Sayangnya, karena penghargaan di sini belum sebaik di luar, banyak SDM bagus yang memilih berkarier di luar tanah air,” ujar Calvin.
Pengalaman yang sama juga dirasakan Calvin saat mengadu nasib di luar negeri. Di luar negeri, ijazah bukan jaminan. Asal lolos tes, seseorang bisa diterima kerja. Calvin pun menerapkan hal ini di kantornya. Dengan diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN, Calvin mengingatkan SDM lokal mesti meningkatkan keahlian agar bisa bersaing. ”Di skala Asia, Cina dan India adalah sarangnya jagoan TI. Sementara di skala ASEAN, Vietnam dan Thailand kini sedang tumbuh pesat. Secara kuantitas, programmer Indonesia masih jauh di bawah dua negara itu,” ujarnya. (f)