Nadine dengan fasih bercerita tentang perjalanannya yang menegangkan terombang-ambing di atas medan yang berbatu-batu dalam jeep off road hingga sambutan hangat yang ia terima dari masyarakat pedalaman Kampung Testega yang, menurutnya, mengajarkan pelajaran hidup yang sangat berarti, yaitu berbagi. Ia pun mendeskripsikan budaya tradisional yang dimiliki masyarakat pedalaman dengan sangat indah dan lengkap. Membuat pembacanya seolah turut hadir di tengah-tengah kegembiraan yang tengah ia rasakan.
Tak mengherankan jika kemudian Nadine berencana membukukan kisah perjalanannya selama kurang lebih 3 tahun itu. “Saya ingin sekadar berbagi pengalaman suka dan duka, tantangan, dan juga kesulitan yang dialami selama menjadi backpacker,” ungkapnya. Ia berharap, siapa pun yang membaca bukunya nanti terdorong untuk ikut mencicipi keindahan dunia yang telah ia jelajahi, mulai dari Aceh hingga Papua. Juga pengalamannya berkenalan dengan aneka satwa liar dan mendaki Pegunungan Himalaya. “Di dalam buku ini saya juga membeberkan tip memilih perjalanan bagi pemula supaya tidak takut bepergian,” ujarnya, membocorkan sedikit isi buku yang kini sedang dalam proses pengeditan.
Lalu, perjalanan ke mana yang paling menarik dan berkesan baginya? “Pulau Weh di Aceh!” serunya cepat. Perjalanan yang tak mudah karena ban mobil yang ia tumpangi sempat pecah, melewati hutan tanpa penerangan sedikit pun, tertinggal kapal feri untuk menyeberang ke pulau, menginap seadanya di rumah penduduk, sampai harus berbagi tidur di kamar yang sangat sempit, harus ia lakoni. Namun, perjuangan Nadine tak sia-sia. Sesampainya di sana, ia yang kala itu baru saja mendapatkan open license menyelam, langsung jatuh hati pada alam Pulau Weh. “Ada satu sisi favorit menyelam saya, namanya The Canyon. Batunya berwarna-warni dan sangat tinggi tebingnya,” sambung Nadine, yang juga mengolaborasikan foto-foto perjalanan dan puisi di dalam bukunya nanti.
Stephanie Mamonto