____________________________________________________________________________________________
Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya ketika kami memulai perjalanan keliling Selandia Baru Utara menggunakan mobil. Pada pertengahan musim dingin seperti ini, pukul 7.00 pagi pun suasananya masih gelap. Awalnya saya ragu untuk memegang kemudi. Tapi, melihat kondisi jalan yang mulus, rasanya saya tak sabar untuk segera mengambil alih kemudi dari suami saya, Frans. Apalagi di sini, para pengemudinya sangat tertib, mereka hampir tidak pernah membunyikan klakson saat berkendara.
Rute perjalanan kali ini dimulai dari rumah kami di Palmerston North menuju Ruapehu, yang terletak di Tongariro World Heritage Park, taman nasional pertama di Selandia Baru. Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang kami disajikan keindahan alam khas Selandia Baru yang mengundang decak kagum. Tiap kawasan yang kami lalui memiliki keindahan yang berbeda-beda. Suatu waktu, kami berkendara di hutan pinus yang gelap. Lalu, kami melewati daerah dengan asap mengepul yang rupanya adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Berkendara beberapa kilometer, kami lalu melintasi perbukitan yang tertata rapi, seperti ada seseorang yang memang sengaja mengatur semua itu. Kontur alam wilayah ini dibentuk oleh pegunungan yang berbaris di bagian tengah. Persis seperti tulang punggung, membagi dua wilayah yang di tiap sisinya terhampar luas lahan pertanian. Tak heran jika potensi keindahan alam menjadi daya tarik utama.
Sebagai sebuah negara dengan luas 268.021 km², populasi penduduknya hanya 4 juta saja. Bandingkan dengan Jawa Barat misalnya, yang luasnya hanya 35.377 km², tapi jumlah penduduknya mencapai lebih dari 46 juta jiwa. Tidak mengherankan, Selandia Baru menjadi destinasi yang paling cocok untuk siapa saja yang ingin berlibur dan mencari ketenangan.
Sedikitnya jumlah populasi manusia di kawasan ini kerap dibandingkan dengan populasi domba dan sapi yang menjadi komoditas ternak terbesar. Di perjalanan, kami melewati wilayah yang didominasi oleh peternakan domba dan sapi. Dari kejauhan, domba dan sapi yang jumlahnya mencapai ratusan itu tampak seperti titik-titik putih di atas kanvas hijau. Kami sempat bertanya-tanya, milik siapa semua hewan tersebut, karena sejauh mata memandang tak terlihat adanya rumah penduduk.
_______________________________________________________________________
Setelah berkendara selama kurang lebih 3,5 jam, tibalah kami di Ruapehu. Dua lengkung pelangi seolah menyambut kedatangan kami di salah satu gunung api aktif yang terletak di Taman Nasional Tongariro ini. Dengan salju yang tebal, Ruapehu menjadi salah satu tempat wisata favorit di musim dingin bagi warga Selandia Baru.
Salju sudah mulai tampak menggunung sejak dari area parkir kendaraan. Setelah berjalan kaki sekitar 500 meter, kami menaiki chairlift yang dapat digunakan secara gratis untuk menuju arena bermain salju. Karena saat itu bertepatan dengan hari libur sekolah, kawasan ini terlihat cukup banyak dipadati pengunjung. Meski begitu, area yang luas itu terlihat tak penuh sesak karena pengunjung yang sangat disiplin dan rela mengantre dengan tertib.
Ada beragam aktivitas seru yang bisa dilakukan di Ruapehu. Tapi, karena hari itu saya datang bersama anak saya, Rinjani, jadilah kami menghabiskan banyak waktu bermain salju membuat boneka-boneka salju aneka ukuran. Kami juga mencoba meluncur dengan sledge yang dapat disewa seharga 15 dolar (Rp200.000).
Jika ingin mencoba aktivitas yang lebih menantang adrenalin, Anda dapat bermain ski dan snowboarding, Terdapat dua arena ski di Ruapehu, yaitu Whakapapa di sisi barat laut dan Turoa di sisi barat daya. Tidak perlu khawatir mengenai kostum dan perlengkapannya, karena di lokasi ini tersedia tempat penyewaan perlengkapan mulai dari jaket, celana, sepatu, sampai peralatan untuk bermain ski dan snowboarding. Bahkan, Anda bisa mengambil paket kursus bermain ski bersama instruktur yang terlatih.
Puas bermain salju, menjelang siang hari perut mulai terasa lapar. Kami pun mulai membuka bekal yang dibawa dari rumah. Bagi penduduk lokal, membawa bekal makanan untuk dinikmati di deretan meja dan bangku panjang yang tersedia di kawasan ini, bukan hal aneh. Untuk turis yang tidak membawa bekal, jangan khawatir, tersedia jajaran kafe tak jauh dari area parkir.
Seperti kebanyakan penduduk lokal, kami pun memilih membawa bekal, sandwich isi telur buatan sendiri. Sambil menyantap sandwich, saya menuangkan cokelat hangat dari termos dan mulai menyeruputnya perlahan. Di tengah cuaca yang dingin, segelas cokelat hangat menjadi penghangat tubuh yang pas. Hmm… sedap!
_______________________________________________________________________________________
Perjalanan kami berlanjut. Setelah berkendara selama 2 jam dari Ruapehu, kami tiba di Taupo, kota di pinggiran Danau Taupo. Taupo memiliki nama lengkap dalam bahasa Maori, Taupõ-nui-a-Tia. Nama tersebut diambil dari nama Tia, orang yang pertama kali menemukan danau ini.
Danau Taupo merupakan kaldera yang terbentuk akibat letusan gunung berapi sekitar 26.500 tahun lampau. Dengan luas mencapai 616 km², danau ini menjadi danau air tawar terbesar di Selandia Baru, bahkan kawasan Australasia. Tak heran jika ribuan ikan menjadikan danau ini sebagai habitat mereka, terutama ikan trout. Banyak turis lokal yang datang ke danau ini hanya untuk memancing ikan trout yang memang dikembangbiakkan secara alami di danau ini.
Jika ingin menikmati Danau Taupo secara utuh, Anda dapat mengambil paket wisata naik kapal feri. Anda akan dibawa mengelilingi danau dan melihat pahatan suku Maori pada dinding-dinding batu yang hanya bisa dilihat dengan perjalanan lewat air. Sangat indah!
Tapi, sekadar berpiknik di tepi danau pun tak kalah menyenangkan. Seperti yang saya dan keluarga lakukan di sore itu. Kami menyewa sepeda dari motel tempat menginap untuk menyusuri tepian danau berair jernih itu. Setelah lelah, kami menggelar selimut, piknik di tepi danau sambil menikmati kue muffin. Air danau yang jernih, langit yang biru, dan matahari yang hangat terasa, bagai kado istimewa di musim dingin.
__________________________________________________________________________________
Kota Taupo berpenduduk sekitar 32.000 jiwa, menyediakan berbagai sarana penginapan bagi para wisatawan yang ingin bermain salju di Ruapehu, sekaligus menjelajahi fenomena geotermal di wilayah ini. Beberapa akomodasi di kota ini bahkan menyediakan kolam spa air panas alami.
Ketika matahari mulai tenggelam dan suhu udara mulai terasa menggigit tulang, rasanya tidak ada yang lebih nyaman selain berendam di kolam air panas. Kami memang sengaja memilih sebuah motel di tepi danau yang menyediakan fasilitas kolam renang air hangat serta kolam rendam air panas.
Tak sabar rasanya ingin segera menceburkan tubuh ke dalam hangatnya air. Saat mencelupkan kaki pertama kali, air terasa sangat panas, tapi lama-kelamaan sepertinya tubuh mulai beradaptasi dengan hangatnya air kolam, sehingga memberi sensasi yang sangat menyenangkan. Otot-otot tubuh yang terasa kaku setelah seharian beraktivitas terasa mengendur, lelah dan penat pun seperti hilang dari tubuh.
Di Taupo memang banyak terdapat kolam ar panas. Didominasi oleh pegunungan vulkanik menyebabkan banyak aktivitas thermal yang terjadi di kawasan ini. Air panas meluap dari permukaan kerak bumi dan membentuk kolam panas. Selama berabad-abad, penduduk lokal telah memanfaatkan kolam-kolam air panas ini untuk berendam dan sekadar melepas lelah sekaligus untuk kesehatan. Air panas dan campuran mineral dari bebatuan di sekitarnya dipercaya memberikan khasiat bagi kesehatan tubuh.
Jika ingin menikmati sensasi berendam air panas di kolam air panas alami, Anda dapat mengunjungi Otumuheke Stream. Sungai yang melintas tepat di Kota Taupo ini memiliki suhu air yang berbeda-beda di sepanjang alirannya. Anda dapat mengeksplorasi beberapa titik di sungai ini untuk mendapatkan suhu yang tepat.
Pilihan lain adalah berendam di kolam buatan. Selain penginapan yang menyediakan fasilitas pemandian air panas alami, ada pula beberapa tempat yang dapat dikunjungi secara khusus untuk berendam tanpa harus menginap di sana. Biasanya, tempat-tempat ini jadi favorit warga lokal. Kami menutup hari itu dengan menyantap makan malam di balkon kamar sambil memandang langit Taupo yang bertabur bintang. Romantis!
____________________________________________________________________________
Road Trip di Selandia Baru
• SIM Indonesia berlaku selama satu tahun terhitung sejak tanggal kedatangan di Selandia Baru. Namun demikian, akan lebih baik kalau Anda menyiapkan terjemahan SIM dalam bahasa Inggris
• Seperti halnya di Indonesia, kendaraan berjalan di sisi kiri. Aturan lalu lintas pun sederhana dan mudah dipahami. Supaya lebih percaya diri, tak ada salahnya mempelajari aturan berkendara yang dapat dilihat di http://www.nzta.govt.nz/resources/roadcode/road-code-index/.
• Sewa mobil lengkap dengan GPS. Beberapa penyewaan mobil menyediakan fasilitas mengambil dan mengembalikan mobil sewaan di kota yang berbeda. Hal ini membantu jika Anda datang dan pulang kembali ke Indonesia melalui bandara yang berbeda.
• Penting untuk selalu mengisi full bahan bakar kendaraan saat berada di kota. Jangan sampai mobil Anda kehabisan bahan bakar sebelum tiba di tempat tujuan. Perlu diingat, jarak antar-pom bensinnya bisa sangat jauh.
• Tiap beberapa puluh kilometer, tersedia tempat beristirahat. Walaupun tak merasa lelah, beristirahatlah tiap beberapa jam sekali agar kondisi tetap prima. Luruskan kaki dan lakukan gerakan senam ringan.
Edilburga Yayi