Dibangun pada tahun 1876 untuk menghormati korban perang Franco-Prussian atau Franco-German, perang antara Kerajaan Prancis melawan Kerajaan Prussia (Jerman). Berada di puncak bukit, titik tertinggi Kota Paris, basilika ini tampak megah dan anggun. Bangunan bergaya Byzantine-Romanesque ini terbuat dari batu travertine, yang terus menghasilkan calsite, suatu senyawa yang menghasilkan warna putih. Hasilnya, basilika akan tetap berwarna putih, tidak terpengaruh usia atau polusi. Salah satu yang unik dari bangunan ini adalah adanya ornamen gargoyle babi di dinding bagian belakang luar basilika.
Berjalan ke belakang basilika, saya menemukan Place du Tertre, plaza yang dipenuhi kafe open air, restoran, toko suvenir, dan pelukis jalanan. Beberapa pelukis akan menawarkan keahlian mereka untuk ‘melukis’ kita, sesuai ‘aliran’ masing-masing. Mulai dari impresionis sampai karikatur. Ada juga yang hanya duduk-duduk dan memajang hasil lukisan mereka.
Saya tak berminat dilukis, hanya ingin duduk-duduk di salah satu teras kafe, dan memandang hiruk-pikuk di plaza mungil ini. Sangat menyenangkan. Tiap sore, anak tangga menuju basilika dipenuhi turis dan penduduk lokal yang sedang bersantai menikmati pemandangan Paris, sambil mendengarkan pengamen jalanan beraksi. Ada juga pemain bola akrobatik yang dengan canggih berakrobat dengan bola, di atas satu pilar pagar di tangga. Sementara bocah-bocah kecil tampak menikmati panggung boneka di plaza di ujung anak tangga.
2. Moulin Rouge
Film musikal yang dibintangi Ewan McGregor dan Nicole Kidman berjudul Moulin Rouge, yang pernah saya tonton, membuat saya penasaran untuk mengunjungi tempat ini. Ditandai dengan kincir angin merah di atas bangunannya, Moulin Rouge ternyata adalah salah satu kabaret yang masih tersisa di Montmartre. Sejatinya, dahulu kawasan ini termasuk red-light district, sekarang masih tersisa beberapa gedung yang menawarkan live show dan deretan sex shop, berdempetan dengan kafe dan toko cendera mata di tepi jalannya.
Pertunjukan di Moulin Rouge merupakan gabungan pertunjukan tari dan akrobatik dengan kostum indah serta tata lampu yang cantik. Untuk menonton kabaret di Moulin Rouge, siapkan uang minimal 130 euro (Rp1,7 juta) untuk tiket masuk yang dilengkapi makan malam. Sebaiknya jangan mencoba untuk datang go show karena sering kali tiket pertunjukan sudah sold out untuk malam itu.
3. Kafe Amélie
Anda pernah menonton film Amelie? Sempatkan untuk singgah ke salah satu kafe yang terletak di Rue Lepic ini. Kafe ini aslinya bernama Café des 2 Moulins, namun lebih terkenal sebagai Kafe Amélie, karena penulis skrip, Guillaume Laurant, mendapat inspirasi menulis naskah film Amélie di kafe ini. Ketika film ini akan dibuat pada tahun 2001, dengan sutradara Jean-Pierre Jeunet, Laurant kekeuh ingin menggunakan kafe ini sebagai lokasi syuting (kafe tempat Amélie bekerja). Namun, pemilik kafe keberatan, karena artinya selama proses syuting berlangsung, yaitu sekitar 3 bulan, kafe harus ditutup. Padahal, syuting berlangsung di musim panas, saat turis sedang ramai-ramainya berkunjung ke Montmarte.
Laurant mati-matian membujuk pemilik kafe agar diizinkan menggunakan kafenya sebagai lokasi syuting. Usahanya itu akhirnya berhasil, dengan syarat film yang dibuat haruslah sukses, dan Laurant harus berjanji bahwa dirinya tidak boleh datang lagi ke kafe itu. Setelah film Amélie meledak, banyak orang sengaja datang ke kafe yang didominasi warna merah ini. Sebagai penghargaan, di salah satu dinding kafe terdapat lukisan mural Amélie. Jika Anda berkunjung ke sana, jangan lupa memesan crème brulee andalan mereka, yang dinamakan Amélie.
4. I Love You Wall
Ada dua pilihan stasiun untuk mencapai daerah Montmartre dengan menggunakan metro. Turunlah di Stasiun Anvers atau Abbesses. Jika turun di Stasiun Abbesses, tepat di seberang pintu keluar Anda akan menemukan sebuah taman mungil dengan sebuah carousel di depannya. Masuklah ke dalam taman, Anda akan menemukan sebuah dinding berlapis keramik biru dengan tulisan ‘I Love You’ dalam banyak bahasa.
‘I Love You’ Wall digagas oleh Frederic Baron, dengan bantuan seniman Claire Kito, terpilih 311 bahasa yang kemudian dituliskan di dinding biru ini. Saya sengaja datang pagi-pagi saat masih sepi, jadi tak perlu berebutan dengan orang lain untuk berfoto di depan dinding ini. Setelah mencari-cari, akhirnya saya temukan dua tulisan ‘aku cinta padamu’. Segera saja saya dan suami berfoto di bawahnya. Setelah itu, kami duduk-duduk di bangku taman menikmati sepotong pastry hangat dan kopi, sambil memandang beberapa turis yang datang untuk berfoto di depan dinding ini.
5. Kincir Angin Terakhir di Paris
Dahulu, ada sekitar 16 kincir angin di seputaran Kota Paris. Kincir-kincir ini berfungsi untuk mengolah tepung yang kemudian dijadikan bahan baku untuk roti, makanan pokok orang Prancis. Ketika Rusia datang tahun 1814, mereka menghancurkan kincir-kincir itu dengan tujuan supaya penduduk Paris kelaparan. Karena, tanpa roti, penduduk Paris tidak akan bertahan hidup. Hanya satu kincir yang tersisa, yang dikenal dengan nama Moulin de la Galette. Pemilik kincir angin, keluarga Debray, terbunuh dalam perebutan kincir, lalu jenazahnya diikat di salah satu kincir!
Kincir angin ini dulunya juga berfungsi sebagai restoran, tempat para seniman biasa berkumpul untuk minum wine, menikmati roti hangat dan menonton kabaret. Seniman besar seperti Vincent Van Gogh dan Auguste Renoir pernah melukis suasana Moulin de la Galette, yang lokasinya terdapat di Rue Lepic ini.
Moulin de la Galette yang asli sekarang sudah tidak berfungsi, turis juga tidak bisa sembarangan masuk ke dalamnya. Berjalan beberapa langkah dari kincir angin, saya menemukan sebuah restoran mungil dengan sentuhan warna biru, yang juga bernama Moulin de la Galette, dengan miniatur kincir angin di atas atapnya. Tapi, menurut Onno, teman saya yang berprofesi sebagai tour guide freelance, restoran ini bukanlah restoran yang asli, hanya menumpang ketenaran Moulin de la Galette. Harga makanannya pun menurut saya overpriced dengan rasa biasa saja.
6. Flea Market
Keberuntungan bagi saya yang datang ke Montmartre di akhir pekan. Karena, sepanjang Avenue de Clichy dan Avenue de Saint Ouen terdapat pasar loak dadakan, sepertinya luberan dari Marché aux Puces de Saint-Ouen yang terkenal sangat luas dan besar. Berbagai macam barang saya temui di sini. Saya menemukan sebuah lapak yang memajang deretan sun glasses vintage bermerek. Harganya bervariasi, 30 - 200 euro (Rp390.000 – Rp2,6 juta). Lapak lain menggelar tumpukan baju vintage, piringan hitam kuno, kamera-kamera antic, dan banyak lagi. Kebanyakan barang masih bisa ditawar.
7. Rumah Van Gogh
Melewati Rue Epic, di depan bangunan nomor 54, saya perhatikan selalu ada sekelompok orang yang berhenti dan berfoto-foto. Apartemen yang terletak di lantai 3 itu rupanya dulu pernah ditinggali oleh Vincent Van Gogh, pelukis terkenal yang memiliki kisah hidup tragis. Pelukis asal Belanda ini tinggal bersama kakaknya, Theo, di apartemen ini pada tahun 1886 - 1888. Sebelum memutuskan menjadi pelukis, Van Gogh pernah mencoba berbagai pekerjaan, namun selalu gagal. Setelah menjadi pelukis pun, ia tenggelam dalam depresi. Hobinya memakan cat lukis juga memperburuk kesehatannya. Dalam depresinya, ia memotong telinganya sendiri. Kata terakhir sebelum kematiannya adalah, ”The sadness will never end.”
8. Dalida, Sang Ratu Disko
Di ujung Rue de l'Abreuvoir dan Rue Girardon terdapat kediaman Dalida, dan tak jauh dari situ berdiri patung Dalida. Dalida adalah ratu disko terkenal tahun ‘60-‘70-an. Bernama asli Lolanda Cristina Gigliotti. Setelah memenangkan kontes kecantikan di Mesir, Dalida hijrah ke Prancis dan memulai karier sebagai penyanyi. Dalida meninggal karena bunuh diri pada tahun 1987. Konon, jika kita menyentuh bagian dada patung sambil mengucapkan permohonan, niscaya permohonan kita akan terkabul. Hmm, saya tak terlalu percaya, sih.
9. La Maison Rose
Berarti rumah pink. Tepatnya terletak di Rue Abreuvoir, restoran cantik berwarna pink yang berada di persimpangan jalan ini dulunya merupakan restoran favorit beberapa pelukis terkenal, salah satunya adalah Picasso. Bangunan ini juga menjadi objek foto yang menarik.
10. Lapin Agile
Lapin Agile adalah salah satu kabaret paling terkenal di Montmartre. Letaknya tepat di seberang perkebunan anggur terakhir di Montmartre. Dulunya merupakan salah satu tempat favorit para seniman miskin yang sedang berjuang menggapai ketenaran, termasuk Picasso. Ketika Picasso belum terkenal, ia sering makan di sini dengan bayaran lukisannya. Salah satu lukisan Picasso yang terkenal menggambarkan suasana kabaret ini berjudul At the Lapin Agile. Lapin Agile masih berfungsi sebagai restoran sampai saat ini.
Boks
Tip:
• Jangan ragu menawar cendera mata. Sepuluh buah gantungan kunci bisa dibawa pulang dengan harga 5 euro (Rp65.000).
• Daerah turis yang ramai sering ada copet. Hati-hati bawaan Anda.
• Ada 300 tangga untuk mencapai Basilique du Sacré-Coeur, siapkan kaki Anda.
• Mencapai Montmartre: gunakan kereta bawah tanah (metro) dan turun di Abbesses Station (line 12), Anvers Station (line 2), atau Blanche Station (line 2). Semua lokasi tadi tak terlalu berjauhan.