Career
Meraih Ambisi

25 Aug 2014


Bagi banyak orang, sukses kerap diidentikkan dengan pekerjaan bergaji besar dan jabatan tinggi.  Beberapa waktu lalu, pendiri Huffington Post, Arianna Huffington, memperkenalkan konsep third metric. Sebuah istilah untuk menggambarkan sukses melampaui dua hal: uang dan kekuasaan. Lewat buku terbarunya, Thrive, The Third Metric to Redefining Success and Creating a Life of Well-Being, Wisdom and Wonder, Arianna mengungkapkan bahwa kesuksesan yang hanya mengejar uang dan kekuasaan itu telah membawa epidemi besar-besaran: kelelahan fisik dan mental, penyakit yang diakibatkan oleh stres, dan melonggarnya kualitas hubungan, keluarga, dan ujung-ujungnya, karier kita sendiri.
   
Lantas, apa bedanya konsep third metric ini dibandingkan dengan gagasan yang sebelumnya diungkap oleh COO Facebook, Sheryl Sandberg, tentang lean in seperti yang ditulis dalam bukunya, Lean In: Women Work and The Will to Lead
   
Lewat Lean In, Sheryl lebih menyoroti tentang masih minimnya wanita yang menjadi pemimpin di dunia profesional, dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan wanita untuk bisa lebih maju, bukannya berguguran di level menengah sebelum sampai ke puncak. Adapun, lewat buku Thrive, Arianna lebih menyoroti tentang perlunya mengejar kesuksesan dari sisi yang berbeda, sukses yang berbasis pada empat pilar: well being, wisdom, wonder, dan giving.

Tentang Ambisi
Lean In:  Masih sedikitnya jumlah wanita yang menjadi pucuk pimpinan. Menurut Sheryl, selain faktor hambatan dari luar, seperti diskriminasi, faktor terbesar yang menjadi penyebab kondisi ini adalah adanya hambatan internal, yaitu gap ambisi untuk menjadi pemimpin.
Advertisement
“Untuk itu, wanita harus menghentikan segala ketakutan yang sesungguhnya tidak perlu. Tanpa didera ketakutan itu, niscaya wanita akan lebih leluasa meraih sukses profesional dan kepuasan pribadi,” ujar Sheryl, yang mengawali kariernya sebagai konsultan di McKinsey Company Amerika Serikat, yang kemudian bergabung dengan Google ketika perusahaan itu masih menjadi perusahaan kecil. 

Thrive: Ambisi yang diartikan untuk meraih uang dan kekuasaan nyatanya memang bisa membawa wanita masuk ke berbagai jenis profesi, dan bahkan menjadi pucuk pimpinan dari industri yang ditekuninya. Tapi,  menurut Arianna, sebetulnya revolusi belum selesai sampai di situ. Arianna menilai, ada revolusi ketiga yang diperlukan oleh kaum wanita, yang akan bisa mengubah dunia. “Tidak cukup sekadar mengatakan, ‘Saya ingin menjadi pemimpin dunia,’ tapi dengan cara yang sama yang dilakukan kaum pria. Lihat saja, para pria itu kini telah membayarnya dengan harga mahal. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan juga depresi. Tentu kita tidak mau seperti itu,” komentar Arianna, wanita kelahiran Yunani, yang mengawali kariernya sebagai penulis program musik di televisi dan penulis buku biografi.

Arianna memberi saran, “Menurut saya, jika wanita harus menjadi pemimpin, namun masih menggunakan cara pandang yang sama (yakni mengejar uang dan posisi), kita akan membayar dengan harga yang jauh lebih besar. Berdasarkan statistik, wanita yang stres di pekerjaan 40% lebih tinggi terancam menderita penyakit jantung, dan 60% lebih tinggi terancam diabetes.”
Arianna menggarisbawahi, wanita bisa mencapai apa pun yang diinginkannya, asalkan ia tidur cukup. Kata Arianna, “Women, we can sleep our way to the top!”

Ficky Yusrini




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?