Siena merupakan salah satu kota cantik di Toscana (Tuscany), Italia. Kotanya sendiri berada di Provinsi Siena. Kontur kotanya berbukit-bukit. Dari jendela bus yang saya naiki, tampak pemandangan perkebunan gandum, bunga-bunga matahari, perkebunan anggur, dan jajaran pohon cemara. Kira-kira tidak jauh berbeda dengan gambaran tipikal desa Italia di film-film Hollywood, seperti film Letters to Juliet dan Under the Tuscan Sun.
Di kota yang dibangun sejak tahun 900 Sebelum Masehi ini, saya banyak melihat bangunan-bangunan tua, gereja-gereja antik dan megah, serta museum. Bangunan kota ini umumnya merupakan bangunan abad pertengahan yang masih terjaga apik dan bersih. Di antara deretan toko-toko yang menjual suvenir, saya juga melihat enoteca atau toko wine. Di sini kita bisa membeli dan mencicipi berbagai jenis wine pilihan dari Toscana. Dua yang cukup terkenal di seluruh dunia adalah anggur merah chianti dan montepulciano. Keduanya dari jenis anggur Italia sangiovese. Anggur chianti rasanya lebih kuat dari anggur montepulciano. Bentuknya mudah dikenali dari kemasan botol yang disebut fiasco, berupa botol pendek yang dibungkus keranjang anyaman. (f)
Kota Siena dibagi menjadi contrada-contrada (kalau di sini seperti kelurahan), yang dilambangkan oleh binatang seperti burung hantu, kura-kura, elang, kepompong, naga, jerapah, dan sebagainya. Setiap ada acara, semua warga Siena di setiap contrada bahu-membahu membantu secara sukarela tanpa pandang bulu. Contohnya, menurut cerita teman saya, ada seorang direktur bank terkemuka di Italia, tak segan mengangkat meja keliling dari satu jalan ke jalan lainnya demi membantu contrada-nya.
Palio diadakan dua kali setahun, yakni Juli dan Agustus. Hari-hari menjelang diadakannya Palio, seluruh kota dipenuhi dengan suasana abad lampau. Kuda-kuda terbaik dipilih, diadakan acara jamuan makan untuk anak-anak, kaum muda, orang tua, hingga jamuan khusus pastor di contrada tersebut, di jalan-jalan di seluruh kota Siena. Sayangnya, turis atau orang luar tak bisa mengikuti acara jamuan itu kecuali ia diundang oleh salah seorang warga dari contrada setempat.
Pemilihan kuda dan joki sendiri cukup rumit pemilihannya. Menjelang Palio, semua orang Siena berubah jadi fanatik pada contrada-nya, seperti halnya fanatisme fans sepak bola. Pada saat mendekati Palio, para warga mengenakan scarf bergambar lambang contrada mereka.
Selama berhari-hari kota Siena selalu dipenuhi percakapan tentang Palio. Jalan-jalan dan rumah-rumah dihiasi oleh bendera sesuai dengan contrada-nya. Semakin dekat acara Palio, banyak diadakan gladi resik Palio. Gladi resik diadakan beberapa kali, bisa berlangsung pagi hari atau di malam harinya. Ada pula tradisi unik, sebelum bertanding, kuda dengan diantar joki datang ke gereja untuk dibaptis dan diberkati oleh pastor setempat. (f)
Palio diadakan di Piazza del Campo. Piazza di Indonesia seperti alun-alun yang berada di tengah kota yang merupakan tempat bertemunya semua penduduk kota. Pada zaman dahulu, piazza digunakan pemerintah setempat untuk mengumpulkan rakyatnya guna memberikan pengumuman dan menjadi tempat segala macam kegiatan, seperti kesenian, kebudayaan, dan lain-lain, hingga sekarang. Tempat ini dikelilingi oleh bangunan museum, kafe, restoran, dan bar.
Piazza Del Campo ini berbentuk lingkaran. Bagian pinggir luar merupakan area pacuan, yang awalnya berlantai batu disulap menjadi area berkuda yang ditutup oleh tanah. Dan area dalam merupakan tempat penonton.
Siena merupakan kota kecil, jadi hanya dengan berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya saya sampai di Piazza Del Campo. Supaya kebagian tempat, pukul 10, saya sudah sampai di sana. Dan benar saja, sudah terlihat banyak turis dari berbagai negara. Mereka membawa tempat duduk dari plastik dan tas piknik.
Pukul 14.00, orang-orang mulai memenuhi Piazza del Campo. Sebetulnya bisa juga melihat Palio dari tempat yang teduh dan ada tempat duduk yang nyaman, tapi harus membayar sekitar 200 euro. Mahal sekali! Tak apalah menonton dari tepi lapangan di bawah terik matahari, asal bisa melihat Palio gratis. (f)
Tepat pukul 15.00, dimulailah iring-iringan Palio di Piazza del Campo. Diawali dengan iring-iringan penjaga keamanan, pemadam kebakaran, kemudian dilanjutkan iring-iringan pembersih yang membawa sapu. Mereka adalah panitia Palio. Kemudian masuklah iring-iringan carabinieri (tentara nasional Italia). Mereka menunggang kuda dengan seragam tentara lengkap dengan pedangnya, seperti tentara zaman lampau. Carabinieri mengelilingi piazza sambil menunjukkan kebolehan mereka, memberi hormat dengan pedangnya. Keren sekali!
Setelah itu, mulai masuk iring-iringan orang dari contrada. di barisan paling depan adalah kuda dan joki, serta penabuh genderang. Lambang-lambang contrada dibawa oleh masing-masing perwakilan contrada yang menggunakan kostum pertengahan. Bendera lambang contrada itu dilukis oleh seniman lewat pemilihan yang cukup rumit.
Dari kejauhan terdengar nyanyian dari para pendukung contrada. Setiap contrada yang bertanding, dari balita hingga orang tua berjalan bersama-sama dalam satu contrada menyanyikan lagu contrada mereka. Masing-masing contrada memiliki irama musik yang sama namun dengan lirik berbeda. Liriknya menggunakan bahasa Italia khas dialek Siena, yang kurang lebih mengenai dukungan contrada mereka dan contrada merekalah yang paling kuat. Setelah itu, masih ada lagi arak-arakan, seperti sapi putih besar yang mendorong kereta, sebagai lambang Siena, dan arak-arakan lainnya. (f)
Setelah semua arak-arakan selasai dan semua tempat penuh, dimulailah Palio. Awalnya dipanggil satu per satu nama kuda yang mewakili contrada, seperti, burung hantu, bebek, dan jerapah, dan lainnya, yang memanggil adalah juri, sesuai dengan undian yang keluar.
Kuda yang ditunggangi para joki lalu beradu. Joki saling menyerobot tempat untuk start. Banyak yang mengatakan itu semacan politik joki, membuat kuda lawannya marah dan letih supaya dia bisa memenangkan pertandingan. Hali ini terjadi karena di arena tidak ada garis pembatas. Belum juga aba-aba mulai, sudah ada yang curang ‘mencuri’ start. Akhirnya pertandingan tidak kunjung mulai karena harus diulang berkali-kali. Pada saat saya menonton, start diulang sampai sembilan kali dan memakan waktu dua jam. Semua penonton dan contrada sudah ‘panas’, ramai mengomentari sampai terjadi teriakan ’buuuuuuuuu…!’’ Namun, rupanya hal ini memang selalu terjadi dan terjadi lagi pada setiap Palio. Bahkan ada Palio yang terpaksa diundur esok harinya karena kejadian pengulangan start.
Menurut cerita teman saya, pernah ada kejadian joki terjatuh selama pacuan. Ternyata hal itu dianggap sah-sah saja. Jika kuda itu tetap berlari hingga menang, ia tetap dikatakan menang. Bagi mereka, yang terpenting adalah kuda, karena joki adalah profesional bayaran.
Akhirnya dibunyikan meriam besar sebagai tanda dimulainya Palio. Sepuluh contrada yang bertanding memutar tiga kali, selama kurang lebih 3-5 menit. Begitu ada kuda yang mencapai garis finish, itulah pemenangnya. Aha, ternyata lombanya hanya berlangsung selama 3 menit saja. Padahal persiapan start-nya memerlukan waktu berjam-jam. Semua terjadi dalam waktu cepat, sampai-sampai saya tidak tahu siapa yang menang. Tanpa diumumkan siapa pemenangnya, semua penonton langsung berteriak, keluar melewati pagar dan bubar seketika. Barulah saya diberi tahu, pemenangnya adalah contrada kura-kura. Para supporter berkumpul dengan contrada-nya masing-masing. Pemenangnya, joki dan kuda beserta pendukung contrada, berduyun-duyun dengan diiringi tabuhan genderang, langsung menuju ke gereja untuk pemberkatan kemenangan.
Kemeriahan Palio belum usai. Setelah itu, pemenang menggelar pesta semalam suntuk. Bagi yang tinggal di daerah contrada yang menang, bisa-bisa tidak tidur karena ramainya jamuan makan dan minum wine dari malam hingga pagi, setiap malam sampai sebulan lamanya! (f)
1. Siena bisa ditempuh dengan bus atau kereta api dari Firenze (Florence), Roma, atau Pisa, Italia.
2. Sebagai salah satu kota turis, biaya hidup di Siena cukup mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Italia. Biaya hotel sekitar 77 euro (Rp960.000), bisa juga memilih tempat menginap yang lebih murah seperti hostel, biayanya sekitar 20 euro (Rp250.000). Biayanya sekali makan di restoran sekitar 13-30 euro (Rp162.500-Rp375.000)
3. Transportasi dalam kota menggunakan bus. Mengingat banyaknya bangunan tua yang menjadi UNESCO World Heritage, ada kawasan tertentu yang tidak bisa dimasuki oleh kendaraan bermotor, misalnya Piazza del Campo.
Marda Dian (Kontributor, Bologna, Italia)
Foto: dok.pribadi.