Memang, diakui Adriana, memilih bertahan atau bercerai bukan perkara mudah. Masing-masing punya konsekuensi ke depan yang harus dipertimbangkan masak-masak. Walau begitu, Adriana sangat menyayangkan jika pasangan cepat mengucapkan kata cerai di saat sedang emosi. “Kesiapan diri saat membuat keputusan bercerai itu penting. Jangan mengambil keputusan saat kemarahan sedang menggebu-gebu. Perceraian tanpa pertimbangan bisa jadi kesalahan, karena juga akan berdampak panjang pada anak,” katanya.
Untuk itu, Adriana menyarankan agar pasangan yang sedang bermasalah dapat duduk bersama dan membicarakan harapannya masing-masing. “Tunggu setidaknya 6 bulan. Jika perlu, lakukan konseling dengan penasihat pernikahan. Adanya seorang profesional akan memberikan sudut pandang berbeda atas masalah yang sedang dihadapi,” katanya.
Menurut Adriana, setelah rujuk, pasangan harus dapat mengembalikan keharmonisan keluarga. Ini bukan perkara mudah. “Setelah mengklarifikasi masalah dan masing-masing telah mengetahui harapan pasangannya, maka langkah selanjutnya adalah menurunkan stres. Mungkin ada rasa malas untuk berubah, tapi diharapkan keduanya melakukan perubahan sederhana, untuk memenuhi harapan pasangannya. Proses ini tentunya butuh waktu,” kata Adriana. Itulah pentingnya komunikasi yang lebih terbuka dengan pasangan.
Lalu, bagaimana jika akhirnya perceraian yang menjadi pilihan terbaik?
Adriana menyarankan agar hal tersebut sudah melalui proses panjang yang akhirnya diputuskan dengan hati-hati dan usaha yang maksimal. Coba pikirkan kembali apakah jika bercerai sudah pasti bahagia? Inilah pentingnya merencanakan perceraian, jika hal tersebut telah benar-benar dipilih sebagai jalan terakhir.
“Apalagi jika menyangkut anak di dalamnya. Perceraian sudah pasti memengaruhi kehidupan anak. Namun, dampaknya bisa bermacam-macam. Semua bisa diminimalkan jika perceraian yang terjadi sudah benar-benar direncanakan dengan rapi,” ungkap Adriana.
Jadi, saat anak menanyakan apa alasannya, orang tua bisa menjelaskan dengan baik. Pembagian peran juga sebaiknya tetap sama seperti sebelum ayah dan ibunya berpisah. Dengan demikian, anak tidak merasa kehilangan peran ayah atau ibu.(f)