Mulai awal Oktober hingga puncaknya, tanggal 5, umat muslim di seluruh dunia secara bersamaan berdatangan ke Kota Mekah, Arab Saudi. Ibadah haji, rukun Islam ke-5, merupakan ibadah bagi umat muslim yang mampu secara keimanan, amal ibadah, material, dan fisik. Dalam hukum Islam, ibadah haji dilaksanakan paling tidak sekali seumur hidup.
Perjalanan ziarah spiritual para jemaah tahun ini juga dihantui oleh berbagai acaman kesehatan, yaitu merebaknya Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV) dan virus Ebola. Namun, menurut, dr. Yenny Tirtaningrum, dokter dari RSIA Evasari Jakarta, virus Ebola kemungkinan kecil menulari para jemaah karena Arab Saudi telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan yang dinilai cukup efektif, salah satunya tidak menerima izin visa dari negara-negara Afrika yang terjangkit virus Ebola, yaitu Liberia, Sierra Leone, Guinea, dan Nigeria.
Berbeda dengan virus MERS, perlu diwaspadai karena saat ini masih menjadi epidemi di Timur Tengah. “Jangan menyepelekan flu dan demam, segera hubungi petugas kesehatan jika mengalami flu,” saran dr. Yenny. Untuk itu, sebagai langkah antisipasi, jemaah haji diminta untuk menjalani hidup bersih dan sehat, terutama makan makanan yang bergizi, berolahraga, dan cukup beristirahat. Ia menyarankan kepada jemaah haji untuk melakukan persiapan matang, olahraga 4 minggu sebelum keberangkatan.
Tantangan lain yang dihadapi jemaah haji adalah suhu udara tinggi yang melanda Arab Saudi, hingga mencapai 40 derajat Celsius. Ditambah dengan kelembapan udara yang rendah sehingga dapat menyebabkan sengatan panas dan dehidrasi. “Dehidrasi bisa diatasi dengan minum air putih minimal 3 liter, juga memperbanyak konsumsi buah-buahan,” kata dr. Yenny.
Menurut Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Dr. Irfan al-Alawi, kaum Wahabi (cabang dari Sunni) menganggap penyembahan dan penyucian benda seperti makam adalah praktik syirik. Saat ini diketahui, tiap hari jutaan umat muslim Syiah dan Sunni berziarah dan berdoa di makam Nabi.
Irfan memperkirakan pemindahan makam dimaksudkan untuk mencegah perbuatan syirik atau penyembahan berhala. “Banyak jemaah yang mengunjungi ruang-ruang di masjid di mana dulu Nabi Muhammad pernah tinggal. Kemudian mereka akan berdoa di makam Nabi,” ungkap al-Alawi kepada The Independent, 1 September 2014. “Mereka ingin mencegah jemaah haji mengunjungi makam karena dinilai sebagai bentuk syirik. Oleh sebab itu, salah satu caranya adalah memindah makam Nabi Muhammad,” ungkap Irfan.(DAR)