Career
Mengapa Harus Takut?

8 Jul 2013

Sebelum sempat sampai ke puncak, faktanya, satu per satu wanita berguguran di dunia kerja. Hal inilah yang disadari oleh COO Facebook, Sheryl Sandberg. Lewat bukunya, Lean In: Women Work and The Will to Lead, ia ingin menginspirasi wanita di dunia kerja untuk terus mengejar mimpi mereka. Berikut ini beberapa advis karier berharga dari Sheryl, yang disarikan dari buku tersebut.  

Pencarian Seorang Mentor

“Jadilah unggul, maka kamu akan mendapatkan mentor.”

Sheryl mengangkat poin menarik tentang pentingnya wanita memiliki mentor dan sponsor. Mentor adalah orang yang memberi advis karier, sedangkan sponsor  orang yang menggunakan pengaruhnya untuk mempromosikan kita. Kedua hal ini ternyata penting dalam menunjang kesuksesan seseorang.

Namun demikian, hal ini tidak perlu membuat kita terpaku harus mencari orang seperti itu dan ‘melamar’ mereka untuk menjadi mentor kita. Sesungguhnya, tanpa kita sadari, di sekeliling kita selalu ada orang-orang yang berperan sebagai mentor kita, baik itu atasan, klien, maupun rekan kerja. 

Yang harus dilakukan supaya kita menemukan mentor dan sponsor dalam perjalanan karier kita, menurut Sheryl, adalah dengan menunjukkan performa sebaik mungkin. “Mentor akan ‘mencari’ murid berdasarkan performa dan potensi. Secara intuitif, orang cenderung ‘berinvestasi’ pada mereka yang prestasinya menonjol,  yang akan bisa memberi keuntungan pada orang di sekitarnya.”
 
Jadikan Pasangan Sebagai Partner Sejati
“Jika sebuah hubungan dimulai dengan ketidaksetaraan, maka ke depannya akan menjadi makin tidak seimbang ketika ada anak.”

Sejak 30 tahun terakhir, wanita sudah membuat kemajuan di dunia kerja, tetapi tidak demikian dengan kaum pria dalam hal pekerjaan rumah. Sebuah survei yang dilakukan di Amerika tahun 2009, menemukan, hanya 9% pasangan yang keduanya sama-sama kerja, yang membagi kerja domestik dan pengasuhan anak secara seimbang. 

Di samping wanita sukses, sesungguhnya ada pria yang mendukung penuh kariernya. Dukungan yang lebih dibutuhkan seorang wanita yang berkarier adalah pasangan yang bersedia dan lebih terlibat dengan pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.

Begitulah seharusnya. Supaya wanita lebih berdaya di dunia kerja, para pria juga harus lebih berdaya di rumah. Untuk itu, ekspektasi masing-masing harus berubah. Wanita sebaiknya tidak menuntut pasangannya untuk melakukan pekerjaan rumah sebaik dirinya. “Anak-anak perlu role model, seorang ayah yang berbagi pekerjaan rumah dengan seimbang. Kita memerlukan lebih banyak lagi para ayah yang ambisius dengan rumah,” kata Sheryl.

Mitos "Kesempurnaan"
“Done is better than perfect.”

Advertisement
“Saat awal-awal bekerja di Facebook, saya sempat cemas, kalau pulang kantor terlalu sore akan membuat saya dianggap orang yang menjengkelkan. Saya pun sering pulang larut malam. Saya sadar, jika kondisi ini terus berlangsung, saya tidak akan bisa bertahan lama di pekerjaan baru ini. Saya pun memaksakan diri untuk meninggalkan kantor pada pukul 17.30. Kecuali memang ada rapat yang sangat penting, barulah saya lembur. Sekali saya bisa melakukannya, ternyata seterusnya lebih mudah,” tutur Sheryl. Setelah itu, Sheryl mengubah semua jam rapat malam hari menjadi pagi hari.     

Bagi Sheryl, rumah dan kantor adalah dua hal yang sama penting. Menjadi orang tua bekerja, berarti membuat penyesuaian, kompromi, dan pengorbanan  tiap hari.  Ketika ia berhasil mengatur jadwal pekerjaan sedemikian rupa sehingga ia bisa pulang tepat waktu, punya quality time untuk keluarga, produktivitasnya justru akan lebih baik.

Faktanya, menurut pengamatan Sheryl, banyak wanita yang menggebu-gebu mengejar kesempurnaan. Akibatnya, ia justru menjadi frustrasi. Tiap orang punya definisi tentang pencapaian mereka, sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Yang perlu dipahami, kita bisa ambisius tanpa harus membuat kita menyiksa diri. Bukan  mengejar kesempurnaan, akan lebih tepat kalau yang kita kejar adalah keberlanjutan karier dan kepuasan diri,” tutur Sheryl.

Jangan Berhenti Sebelum Waktunya
“Tanpa disadari, wanita telah berhenti mencari kesempatan baru, jauh sebelum waktunya.”

Sebuah survei yang dilakukan Universitas Princeton di kalangan mahasiswa angkatan 2006 mengungkap, 62% wanita mengatakan, mereka sudah siap mengantisipasi konflik antara pekerjaan dan keluarga. Sedangkan jawaban yang sama hanya dijawab oleh sebanyak 33% pria. Adapun, 46% pria mengharapkan, kelak istrinya yang akan mengundurkan diri dari pekerjaan.

Sering kali, keputusan seorang wanita untuk berhenti dari karier bukanlah keputusan yang datang dengan tiba-tiba, akan tetapi bermanifestasi ke dalam bentuk keputusan-keputusan kecil yang ditemui di sepanjang kariernya. Misalnya, seorang pengacara muda, enggan mengincar posisi partner hanya karena ia berharap suatu hari ia akan berkeluarga. Seorang account executive memilih untuk tidak mengincar posisi manajerial di kantornya. Belum apa-apa, wanita sudah merasa tak akan bisa mencapai puncak dan mengambil keputusan berdasarkan masa depan yang sebetulnya belum tentu terjadi.

“Memang benar bahwa ada banyak alasan kuat mengapa seseorang keluar dari dunia kerja. Tentu saja,  merupakan hak asasi jika seorang wanita ingin break dari kariernya. Misalnya, ketika ia melahirkan. Itu baru alasan. Bukan sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi,” tegas Sheryl.

Berani Bicara Gender
“Keberhasilan sosial bukanlah diwariskan, melainkan harus diusahakan.”

Apa yang sudah dirasakan para wanita di generasi sekarang ini tak lepas dari perjuangan para tokoh feminisme di era-era sebelumnya. Mereka adalah orang-orang pemberani yang lantang menuntut kesetaraan dan hak-hak kaum wanita di ranah publik. Namun demikian, perjuangan masih belum selesai. Buktinya, diskriminasi berdasarkan gender itu masih ada. Ada yang terang-terangan, ada pula yang tersembunyi di bawah permukaan.

Ketika kita berhadapan dengan situasi ini atau diperlakukan tidak adil karena gender, jangan diam saja. Kita harus berani menghadapi status quo. Mungkin, diam adalah cara yang paling aman. Akan tetapi, sikap ini tidak akan menguntungkan para wanita lain. “Kemajuan kita terletak pada kemauan kita untuk speak up tentang pengaruh gender. Dengan berbicara, kita bisa mengubah pikiran, yang kemudian akan mengubah perilaku, yang seterusnya akan mengubah institusi,” jelas Sheryl.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?