Trending Topic
Menerima Perubahan

31 Jan 2015

Hampir semua individu akan melewati lima tahapan yang sama (penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan akhirnya penerimaan) ketika dihadapkan pada perubahan. Tapi, bisa saja seseorang tidak melewatinya secara berurutan. “Ada orang yang menyangkal suatu kejadian, langsung dapat menerima kenyataan, atau  siap bangkit sesegera mungkin,” ungkap Ratih Pramanik, psikolog.
   
Memang, peristiwa yang datang mendadak dan traumatis tentu lebih sulit diterima. Hal ini menyebabkan lebih tingginya intensitas dan durasi waktu dari tahap penerimaan di atas.
   
“Reaksi di atas juga biasanya akan terjadi jika ada perubahan pada suatu peristiwa yang sudah diantisipasi sebelumnya. Misalnya, ada hal yang muncul di luar rencana atau harapan awalnya,” Ratih menerangkan. Misalnya, pernikahan yang dianggap membahagiakan ternyata justru menyakitkan, karena suami tidak semesra yang diharapkan, pasangan selingkuh, atau suami bangkrut.

Di saat inilah dibutuhkan kemampuan seseorang dalam beradaptasi. Namun, kemampuan ini tidak sama pada  tiap orang. Ada orang yang mudah beradaptasi dengan hal baru, ada yang tidak. “Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian, pola asuh, daya tahan terhadap stres, serta kemampuan resiliensi atau kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan,” jelas Ratih lagi.
 
Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan. Ada orang yang terus- menerus menyangkal, ada yang depresi berkepanjangan, dan ada yang terus menyalahkan orang lain. “Jika sudah begini, ia akan sulit move on. Tetap terjebak dalam masa yang suram. Menjadi orang yang bitter dan tidak menyenangkan. Padahal, kita harus tetap hidup dan merajut masa depan, juga bergaul dengan orang lain untuk kembali hidup,” Ratih menambahkan.
Advertisement
   
Sebenarnya, ada juga yang telah berusaha sekeras mungkin menerima perubahan itu, namun seiring waktu, ia kembali  pada kehidupan lamanya. Contohnya, si A yang dulu terkenal playboy, hidupnya menjadi lebih tenang setelah menikah dan punya anak. Tapi, lama-kelamaan ia kembali selingkuh. “Bisa saja terjadi, perubahan dari positif kembali ke titik negatif. Biasanya karena ia kecewa dan merasa perubahan yang ia lakukan sia-sia. Misalnya, ia merasa tak dihargai pasangannya ketika di rumah atau ia merasa kehilangan teman-temannya sejak disibukkan oleh anak,” kata Ratih.    
   
Karena itulah, Ratih menambahkan, “Untuk bisa kembali menikmati hidup dengan perubahan baru yang telah terjadi, dibutuhkan keteguhan dan ketegaran diri, kemauan untuk berubah ke arah yang lebih baik, positive thinking, punya harapan dan cita-cita, juga adanya dukungan orang lain.”

Argarini Devi






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?