Rumah sekaligus garasi mereka di daerah Serpong difungsikan sebagai dapur produksi untuk nurung kerah yang dipasok Rupana ke pedagang di Pasar Senen. Bahan ini laris manis!
Kini, dengan nama usaha Bangun Mulia Family, Rupana yang telah menjanda bersama kelima anaknya, mampu memenuhi permintaan Jabodetabek dan Bandung. Sehari, ia mengolah 300 kg ikan lele untuk ini. Alternatif bahan untuk nurung kerah adalah patin, mujair, nila, dan belut.
Proses nurung kerah meliputi membersihkan ikan segar, membuang isi perut, mencucinya dan melakukan proses pengasapan selama 2 hari hingga mengering. Kunci utama menjaga kualitas ikan salai salah satunya pada kualitas kayu bakar. Bersama tim dari Institut Pertanian Bogor, Rupana melakukan riset mencari bahan kayu bakar yang baik untuk mengasapkan. Penelitian menemukan bahwa kayu buah-buahan seperti mangga, duku, dan kelengkeng sangat pas untuk menjadi kayu api.
“Kayu tersebut menyumbangkan cita rasa asap yang lebih manis dan harum dibandingkan batu bara atau arang yang lain,” tutur Rupana. Meski sudah menginjak usia 71 tahun, Rupana masih sanggup mengangkat palu besar untuk memecahkan kayu bakar! Keuletannya memproduksi nurung kerah di Jakarta mendapat perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2005, beliau memesannya untuk dinikmati di Istana Negara. Hebatnya, Rupana tak hanya memberi memasok ikan salai, tetapi juga 4 resep dan bumbu untuk mengolah ikan tersebut di dapur Istana Negara. (f)
Ibu Rupana: 081298485548