Trending Topic
Mencari Makna Hidup

15 Sep 2015

Orang sibuk berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat. Tak cukup dengan lari-lari keliling kompleks, target pun dipasang untuk mengikuti 5K, 10K, dan seterusnya. Fenomena ini sebetulnya sudah lama menjadi perhatian dalam ranah ilmu psikologi. ”Kebutuhan akan transcendence atau hal yang melampaui diri itu membuat manusia selalu merasa ada yang kurang dari dirinya. Biasanya, saat ia berhasil mencapai satu titik yang lebih baik, yang tadinya ia idealkan, pencapaian itu menjadi sesuatu yang nyata dan tidak ideal lagi,” jelas Bagus Takwin, psikolog sosial.

Maka, ia pun akan kembali mengembangkan satu bayangan ideal baru tentang dirinya yang lebih dari pencapaian terakhir, dan terdorong untuk melakukan pencapaian baru. Trancendence inilah yang membuat manusia terus berkembang, bukan hanya mengembangkan dirinya, tapi juga peradabannya.

”Jika seseorang hidupnya monoton, tidak ada perkembangan sama sekali, ia akan bosan, stres, depresi, dan merasa hidup tidak bermakna. Karena kebutuhan itu ada pada setiap manusia. Karena pencapaian-pencapaian, meski kecil, bisa membuat hidup kita lebih baik,” jelas Bagus.
   
Yang perlu diperhatikan, apakah kemudian pencapaian itu memberi makna, dalam arti, memberi manfaat bagi orang lain? Karena, menurut Bagus, jika pencapaian-pencapaian itu selalu fokus pada dirinya dan tidak bermakna, sementara dirinya tidak juga merasa puas, ia tidak akan bisa menikmati keberhasilannya. Akhirnya, ia akan merasa kurang dan kurang terus.

Ketika ingin menggapai hal yang lebih tinggi, tanyakan kepada diri sendiri apa makna dari hal itu. Apakah mendaki gunung setinggi lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut dapat memberi manfaat bagi orang lain atau lingkungan? Apakah menerbitkan puluhan buku membuat orang yang membacanya menjadi manusia yang lebih baik?

Advertisement
Karena sebuah pencapaian idealnya memberi manfaat positif bagi jiwa seseorang, di sinilah pentingnya bagi seseorang untuk memiliki makna hidup. ”Karena makna hidup selalu berkaitan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri orang itu,” ujar Bagus.

Dengan memiliki makna hidup, kita akan tahu apa yang mesti dilakukan, apa yang seharusnya dijauhi. Dengan memiliki makna hidup, rasa bahagia atau kepuasan atas pencapaian tersebut tidak berlalu begitu saja. Itulah yang dilakukan para  tokoh besar dunia. Mereka sadar, apa yang ingin mereka capai adalah untuk kepentingan orang banyak.

Mungkin awalnya apa yang kita lakukan ditujukan untuk meraih kepuasan pribadi, namun kemudian lahirlah makna hidup yang lebih berarti. Seperti yang terjadi pada Hendra Wijaya, seorang pengusaha konfeksi yang baru serius menekuni olahraga lari pada usia di atas 40. Ia mengaku ingin pencapaian yang ia raih berguna bagi orang lain dan memberi manfaat lebih luas, setidaknya menjadi inspirasi bagi anak muda untuk selalu bersikap dan berpikir positif.

Ia ingin membangun persepsi bahwa usia bukan halangan untuk tetap kuat dan bugar, serta meyakinkan masyarakat  bahwa kita juga dapat melakukan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang di negara maju. ”Saya ingin generasi muda Indonesia selalu berpikir ultra dalam kehidupannya. Sukses dalam karier, serta bugar dan kuat dalam olahraga,” katanya, mengenai alasannya mendirikan F-One Sport, sport organizer yang khusus menyelenggarakan lomba lari lintas alam dan ultra.

Lewat lomba, ia tak hanya ingin olahraga trail run dan ultra run berkembang, tapi sekaligus memamerkan keelokan alam Indonesia pada dunia. Ya, F-One Sport memang selalu menyelenggarakan lomba di tempat-tempat yang indah, seperti Gunung Rinjani, kawasan Bromo-Tengger-Semeru, Taman Nasional Gede Pangrango, hingga area Gunung Tambora di Sumbawa. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?