Trending Topic
Mencapai Kesejahteraan Batin Keluarga

18 Mar 2014


Dari total 60 juta keluarga Indonesia, 6 juta di antaranya menghadapi kenyataan terpisah oleh jarak, sebab sebanyak 80% perempuan menjadi tenaga kerja di negara lain. Karena mayoritas tenaga kerja bekerja di sektor informal, seringkali mereka juga tak punya akses berkomunikasi dengan sanak keluarga yang kemudian menyebabkan beragam masalah keluarga. Permasalahan komunikasi ini ternyata juga tidak dialami oleh keluarga yang terpisah jarak, yang berdekatan secara fisik pun juga mengalaminya.

Di zaman modern ini, banyak sekali keluarga yang tinggal seatap justru berkomunikasi secara semu. Seluruh anggota keluarga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. kegiatan sosial maupun keasyikkan berteknologi. Secara fisik mereka berdekatan, namun batin mereka berjauhan.

Melihat fenomena sosial ini, SariWangi mengajak keluarga Indonesia memanfaatkan kesempatan berkumpul dengan percakapan mendalam minimal 15 menit tiap harinya.
“Karena sudah terbiasa satu sama lain, bertemu setiap hari, banyak keluarga yang tinggal serumah tidak melakukan effort lebih untuk berkomunikasi secara mendalam. Melalui ekspresi jujur atau ungkapan perasaan sayang yang kelihatannya sepele ini penting untuk membangun kebersamaan yang berkualitas. Misalnya berbincang santai sambil menikmati secangkir teh," ujar Mario Abdisa, Brand Manager SariWangi.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. (Nina) selain faktor kedekatan fisik hambatan berkomunikasi yang memicu fenomena sosial sekarang antara lain, hambatan situasional misalnya kehamilan yang memicu ketidakstabilan emosi seorang ibu, hingga membuat orang sekitarnya menjadi malas berkomunikasi. Hambatan psikologis, ketakutan akan penolakan atau diacuhkan oleh lawan bicara dan hambatan gender antara pria dan wanita dalam mengemukakan emosi.

Advertisement
“Keluarga yang dekat secara fisik memiliki kesempatan yang lebih untuk berbicara dari hati ke hati, dan melihat langsung perkembangan anak. Hal ini patut disyukuri karena keluarga yang berjauhan secara fisik punya keterbatasan komunikasi dan pengasuhan anak. Agar perkembangan psikologis anak berjalan baik maka perlu diterapkan pola komunikasi efektif sejak dini,” jelas Nina.

Inilah yang dialami oleh penyanyi, Widi Mulia. Dengan jadwal kesibukan yang padat, obrolan dari hati ke hati bersama dua buah hatinya menjadi terbatas. “Suatu ketika Dru mendapat penilaian kurang di sekolahnya, setelah diselidiki ternyata ia merasa kurang mendapatkan perhatian dari saya. Menyadari hal ini saya memperbaiki cara berkomunikasi agar lebih berkualitas dan berusaha memahami anak-anak dengan lebih baik,” aku Widi.

Berhubung masih banyak orang yang kesulitan mengungkapkan perasaan mereka secara lisan, medium surat dapat mengawali obrolan agar lebih mendalam. “Walau tidak dapat menggantikan komunikasi lisan, melalui surat tiap anggota keluarga bisa lebih bebas untuk mencurahkan isi hati yang sulit terucap. Ini akan membuat perasaan jadi lega,” tambah Nina.

Untuk lebih memberi semangat dalam menciptakan keluarga harmonis, SariWangi mengajak keluarga Indonesia mengikuti ‘Kompetisi Berbagi Surat’. Caranya dengan menuliskan surat ke anggota keluarga, baik ungkapan perasaan sayang atau terima kasih ke PO BOX 8711 JKB Jakarta 11000 dan website www.mari-bicara.com. Sepuluh pemenang dengan surat paling unik, menarik dan inspiratif akan diumumkan bulan Agustus 2014 dan akan mendapatkan hadiah liburan keluarga beserta uang saku.

Woro Hartari Trianti




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?