Godaan untuk menyerah saat hampir tiba di puncak pun pernah dialami Dion. Ketika mendaki Gunung Rinjani, semangatnya sempat terjun bebas justru saat ia berada sekitar 200 meter dari puncak. Di titik itu, oksigen sudah mulai berkurang, sehingga berpikir jernih pun mulai sulit. Belum lagi kondisi tubuh yang lelah setelah tiga hari mendaki. Saking lelahnya, tebersit keinginan untuk tak melanjutkan perjalanan.
“Tetapi, hati kecil saya melawan dan bilang, ‘Masa enggak bisa? Tinggal sedikit lagi, nih, ayo, dong!’” kenang pria yang lebih memilih bepergian di Indonesia ini. Maka, ketika akhirnya berhasil tiba di puncak, ia bisa sungguh-sungguh mensyukuri hasil kerja kerasnya, sebuah rasa yang terbit di hatinya saat memandang matahari dari puncak gunung. “Kalau kita menyerah di tengah jalan dan akhirnya tidak sampai ke puncak, sampai di sana sajalah perjuangan kita,” tegasnya.
Sebelum gemar naik gunung, Dion mengaku biasa menghabiskan waktu senggangnya dengan pergi sendirian ke mal untuk minum kopi di kafe, dan menonton film. Sebagai orang yang cenderung penyendiri, hal ini menjadi cara Dion menikmati me time. “Sampai sekarang pun masih begitu, meskipun saya punya pacar,” ungkap Dion, yang kini menjalani hubungan jarak jauh karena sang kekasih bekerja sebagai pramugari di Singapura.
Selain menantang jiwa petualangannya, mendaki gunung juga memberi Dion kesempatan untuk merefleksikan berbagai hal dalam hidup. Misalnya, meski ada pemandu yang mendampingi yang bisa menolong, seorang pendaki adalah dirinya sendiri. Ia pun seolah kembali diingatkan akan pentingnya menguatkan diri sendiri, agar dapat menghalau rasa lelah dan putus asa.
Puji Maharani