Menurut Budhy Munawar-Rachman, dosen Filsafat Islam dari Universitas Paramadina, pada umumnya, orang di zaman modern ini banyak yang tidak bahagia. Mengapa? “Karena, pandangan orang modern, kita di zaman sekarang, melihat kebahagiaan itu pada hal yang bersifat material atau body consciousness. Kita selalu mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan,” katanya. Kepemilikan di sini bukan hanya dengan uang, tetapi apa saja yang membuat kita terikat dengannya. Sesuatu yang menjadi identitas kita.
Karena itu, tidaklah mengherankan, bila seseorang mendapatkan identitasnya, maka ia merasa puas karena telah memilikinya. Padahal, dalam hidup, kita punya risiko kehilangan identitas. Mulai dari yang sederhana, misalnya, ada orang yang menempatkan pekerjaan sebagai identitasnya. Kemudian, kalau ada yang melecehkan pekerjaannya itu, maka ia tersinggung. “Hal-hal yang ia anggap sebagai sumber kebahagiaan ini yang rentan menjadi sumber ketidakbahagiaannya. Contoh sederhana, saya sebagai dosen, ketika mengajar dan ada mahasiswa yang mendebat dan menganggap saya bodoh, maka saya akan marah,” jelas Budhy.
Dengan ‘teori’ identitas ini, maka bisa dijelaskan mengapa agama dipilih oleh responden Indonesia sebagai sumber kebahagiaan. Menurut Budhy, orang Indonesia begitu kuatnya mengidentifikasikan dirinya dengan agama. Orang Indonesia saat ini memang menganggap agama begitu penting. “Sayangnya, melihat fakta di lapangan, tampaknya agama itu hanya menjadi simbol atau salah satu body conscious yang terbesar. Saya bahagia sebagai muslim. Tetapi, sifatnya eksklusif. Padahal, idealnya, peranan agama dalam kehidupan sosial kita adalah menciptakan keberagamaan yang inklusif, toleran, ramah terhadap yang lain,” tegas Budhy.