Trending Topic
Lisensi Menjadi Orang Tua

11 Aug 2015


Survei yang dilakukan femina kepada 126 responden (periode 15 – 17 Juni 2015) menemukan, sebanyak 18% orang tua merasa tidak lagi memiliki me time, dan 15% tidak punya waktu berduaan dengan suami. Mayoritas responden mengaku menyesuaikan diri dengan ritme si kecil (67%). Apakah berarti menjadi orang tua tidak boleh memiliki me time dan bersenang-senang untuk dirinya sendiri? Tentu tidak!

Biar bagaimanapun, penting bagi para orang tua punya waktu untuk dirinya sendiri dan bersama pasangan. Anda tetap bisa mengakalinya, kok. Dengan pengelolaan waktu yang baik, orang tua tetap bisa memenuhi  semua kebutuhan anak.
   
“Sesekali mengajak anak ikut hang out, juga tidak masalah. Sebagai orang tua, Anda juga membutuhkan pergaulan bukan? Ketika Anda tidak bisa menitipkan anak kepada siapa pun yang dipercaya, bukankah sebaiknya mengajak anak? Tentu, sadari juga lingkungan yang akan dituju saat mengajak serta si kecil,” saran Anna Surti Ariani, psikolog. Salah satunya adalah dengan tidak mengajak anak ke tempat yang banyak asap rokok dan mempertontonkan aksi pornografi dan kekerasan.
   
Frekuensi gaul dengan menjagak anak juga perlu menjadi perhatian.  “Anak punya kebutuhan untuk beristirahat, bermain, mendapatkan perhatian orang tuanya sepenuhnya, tidak tersita dengan gawai dan pekerjaannya. Orang tua harus banyak menyediakan waktu dan energi demi kepentingan anak,” tegas Nina.  Bolehlah mampir sebentar pada acara kumpul bersama teman-teman, sekadar setor muka, dan sudahi segera. Hal ini juga telah disadari oleh 45% responden survei femina, yang menyatakan bahwa segera menyudahi acara gaul di malam hari, ketika si kecil sudah terlihat mengantuk.
    
Satu lagi, apa pun yang dilakukan orang tua akan menjadi referensi anak, yang akan membentuk kepribadian anak. Nina mencontohkan, jika orang tua terlalu sering mengajak anak pergi ke tempat yang penuh asap rokok, selain berbahaya untuk kesehatan, anak akan melihat bahwa merokok adalah hal yang lazim dan boleh dilakukan.
Advertisement

“Kebiasaan ini menjadi penanaman nilai buat anak, yang menjadi dasar untuk pembentukan sikap, dan sikap ini akan menjadi dasar untuk berperilaku. Jika sikap anak positif terhadap rokok, maka anak cenderung lebih mungkin merokok, atau melakukan hal-hal lain yang dia ketahui terkait dengan hal tersebut,” jelas Nina.

Apakah kemudian kita merasa enggak asyik lagi karena jadi jarang gaul karena anak? Atau sering mendapat komplain dari teman-teman karena susah sekali sekarang mengajak kita hang out? “Menurut saya, orang tua perlu percaya diri bahwa menjadi berbeda dengan teman-teman sepergaulannya itu ok saja. Justru dengan mengurangi kesenangan pribadi, bukan menghilangkannya, demi kepentingan anak merupakan sesuatu yang perlu dilakukan untuk kesejahteraan anggota keluarga,” ujar Nina kembali.

Nah, berbekal semua ‘persyaratan’ tadi, Anda sudah siap kan memegang ‘lisensi’ sebagai orang tua terbaik bagi anak-anak?  


Rully Larasati




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?