Asean Literary Festival ini kemudian ditujukan sebagai wadah atau forum yang bisa saling memperkenalkan karya sastra dari masing-masing negara serta ajang temu para sastrawan, kritikus sastra, maupun ilmuwan dari masing-masing negara. “Kami juga ingin agar karya sastra, tidak hanya karya sastra Indonesia, tapi juga karya sastra dari ASEAN pada umumnya, lebih dikenal di publik internasional. Apa yang baik bagi Asia Tenggara, tentu akan berdampak baik pula bagi Indonesia,” tuturnya, bersemangat.
Meski begitu, apa yang mereka lakukan bukan tanpa tantangan. Ketika hendak menyelenggarakan ASEAN Literary Festival, Okky Madasari berangkat dari kebutaan tentang karya sastra dari Asia Tenggara. “Jadi, kami kesulitan memetakan dan mencari tahu karya sastra berkualitas mana yang perlu ditampilkan dan siapa sastrawan yang perlu diundang,” ujar Okky, yang kemudian mendapat bantuan dari kedutaan besar negara-negara ASEAN dan juga non-ASEAN, serta lembaga-lembaga sastra independen.
Demikian juga dengan para pendiri taman bacaan di Indonesia. Damasia Restu Rahmita, pendiri Taman Baca Masyarakat Rumah Mentari di Desa Wates, Semarang, contohnya, membangun taman bacaannya bermodalkan uang Rp4 juta, sekitar 300 buku, dan dua unit komputer yang ia beli sendiri. “Tiap bulan, saya juga menyisihkan dana Rp500.000 untuk membeli buku,” ungkap guru bahasa Inggris di salah satu SMK di Kabupaten Semarang, yang juga menerima donasi berupa buku, ini. Kini, jumlah buku di taman bacaannya sudah mencapai 4.000 buah.
Cerita Ridwan Sururi (42), penggagas Kuda Pustaka, dari Purbalingga, Jawa Tengah, tak kalah menginspirasi. Meski tak punya uang untuk membeli buku, semangatnya untuk membuat taman bacaan tak surut. Bermodalkan 136 buku yang dikirimkan temannya, Nirwan Arsuka, dari Jakarta, Ridwan memulai taman bacaan Kuda Pustaka, pada Januari 2015.
Sebagai sarana, ia menggunakan seekor kuda yang ia rawat, milik seseorang di Kota Purbalingga. Luna, demikian nama kuda itu, rupanya berhasil menarik minat anak-anak untuk mendekati perpustakaan kelilingnya. “Awalnya, saya belum mendapat izin dari pemilik untuk menggunakan kudanya menyebarkan buku. Namun, akhirnya pemilik mengizinkan setelah melihat liputan mengenai Kuda Pustaka dalam siaran berita salah satu stasiun televisi,” ungkap Ridwan. (f)