Hawa panas menyeruak, ketika saya menginjakkan kaki di bumi Natuna. Dari kejauhan, Gunung Ranai, satu-satunya gunung di Kepulauan Natuna, tampak menjulang tinggi.
Siang itu saya menuju Pulau Tiga di daerah Selat Lampa, bagian selatan Pulau Bunguran, pulau terbesar Natuna. Butuh waktu 3 jam berkendara dengan mobil untuk sampai ke Selat Lampa. Dilanjutkan dengan kapal pompong, melaju perlahan, memecah ombak menuju Desa Pulau Tiga. Pompong adalah kapal kayu yang digunakan sebagai sarana transportasi antarpulau, kapasitas maksimalnya 20 orang. Bunyi ‘pong-pong’ dari mesin kapal membuatnya disebut pompong. Tak kurang dari satu jam, dari kejauhan, saya melihat dermaga Pulau Tiga dengan bukit-bukit hijau membingkai tegak di belakangnya. Pemandangan alam yang menyejukkan mata.
Rumah-rumah di Desa Pulau Tiga dibangun terapung, di atas laut. Begitu juga penginapan sederhana tempat saya bermalam. Rodhial Huda, tokoh masyarakat Natuna, mengatakan, “Ini budaya asli penduduk Natuna. Leluhur kami bangsa pelaut, turun-temurun tinggal di atas laut, daratan hanya untuk berkebun,” ungkapnya.
Saat matahari mulai tenggelam saya kembali ke laut, mengikuti nelayan yang sedang mencari ikan bilis atau ikan teri. Ikan bilis atau ikan teri banyak keluar di malam hari. Mengandalkan cahaya lampu petromaks, kami berlayar dalam kegelapan. Suasana begitu hening. Hanya ada kecipak air dan gemerlap ribuan bintang di angkasa yang menemani.
Nelayan mulai menebarkan jala. Sekali tebar, banyak sekali ikan didapat. Saya tertarik mencobanya. Ah, ternyata saya hanya memperoleh segenggam saja. Saya belajar dari nelayan. Perlu ketenangan untuk menangkap ikan bilis supaya mereka tak keburu kabur. Ikan bilis digunakan untuk lauk masyarakat Natuna. Dahulu, penduduk Natuna menjualnya langsung ke Singapura. Namun, setelah ada larangan, saat ini lebih untuk konsumsi lokal.
Selain bilis, hasil laut terkenal dari Natuna adalah ikan napoleon. Ikan berwarna biru kehijauan ini harganya bisa mencapai Rp1,3 juta per kg. Masyarakat Natuna membudidayakan ikan napoleon di keramba untuk diekspor ke Hong Kong.
Hasil laut lain yang tak bisa diremehkan adalah ikan kerapu. Berbagai jenis ikan kerapu hidup di Natuna. Kerapu tiger, kertang, bakau, pasir dan kerapu minyak. Perairan Natuna yang penuh dengan koral merupakan ‘rumah’ nyaman bagi ikan laut seperti ikan napoleon dan kerapu.
Kembali ke Pulau Tiga, malam itu, untuk pertama kalinya saya tidur di rumah apung. Rumah apung berukuran layaknya rumah sederhana, seluas 12 x 5 meter, dengan sedikitnya ada 3 jendela. Banyaknya jendela membuat rumah nyaman, karena angin laut yang segar bebas masuk ke rumah. Tiang, dinding, dan lantai semua terbuat dari kayu, sedangkan atapnya terbuat dari seng. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu rengas, yang kuat menahan air laut. Sayangnya, saat ini kayu rengas hampir punah, karena tidak adanya reboisasi. Beberapa penduduk kini menggantinya dengan kayu balau atau bahkan tembok sebagai tiang penyangga.
Ada rasa waswas ketika sesekali ombak menerjang kayu penyangga rumah, memberikan sensasi ayun seperti di atas kapal. Dari jendela kamar, saya melihat sebuah kapal berlayar di laut lepas dengan bulan setengah lingkaran di atasnya.
Sinar matahari menerobos jendela, membangunkan saya pagi itu. Hari kedua di Desa Pulau Tiga, dibuka dengan sarapan sup ikan cakalang dan sagu. Sagu merupakan makanan pokok penduduk Natuna, selain nasi. Sagu dikukus hingga menjadi bergumpal-gumpal, mengingatkan saya pada tiwul, makanan dari singkong khas Yogyakarta. Makan beberapa sendok sagu, perut saya terasa kenyang.
Selesai makan pagi, saya berjalan-jalan mengelilingi desa. Samar-samar tercium aroma harum cengkih. Saat musim laut utara (ombak besar), nelayan berubah profesi menjadi petani cengkih. “Hasil cengkih kering bisa mencapai Rp100.000 per kilogram. Sekali panen, bisa untuk biaya sekolah anak,” ungkap Hanafi, kepala desa. Sekolah di Pulau Tiga hanya sampai tingkat SMA. Penduduk yang mampu secara ekonomi, biasanya mengirim anaknya kuliah di Batam, Pontianak, atau Yogyakarta.
Untuk membantu ekonomi rumah tangga, para wanita di Pulau Tiga membuat kerupuk ikan. Saya mendatangi salah satu usaha rumahan milik Riana (47). “Kelebihan kerupuk kami, tiap 1 kg ikan kami campur dengan 1 kg tepung sagu, untuk menjaga kualitas rasa,” ujar Riana. Kerupuk ikan asal Natuna terkenal gurih. Saat ini, kerupuk ikan sudah dijual ke Batam, Pekanbaru, dan Bangka.
Namanya di pulau, belum lengkap kalau belum berenang. Penduduk setempat merekomendasikan ke Pulau Setahi, tak jauh dari Pulau Tiga, kira-kira setengah jam mengendarai kapal. Pulau Setahi adalah pulau sepi tak berpenghuni. Butiran pasirnya seperti gula dan berwarna putih bersih. Perairan di sekitar pulau ini terkenal sebagai lokasi menyelam yang indah. Karena belum punya lisensi diving, saya cukup menikmati keindahan bawah lautnya dengan snorkeling.
Tak jauh dari bibir pantai, saya sudah bisa melihat koral berwarna-warni. Cokelat, kuning, merah, dan putih. Jenis koral yang hidup di sini antara lain Acropora, Fungia, Merulina, Montipora, Pachiseris, Pectinia, Pavona, Pocillopora, Potites dan Styllopora. Sebaran koral di perairan Natuna mencapai 828,34 km² atau 0,32% dari luas laut keseluruhan.
“Menurut survei yang diadakan Tata Tuang Laut Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Natuna, 62% koral yang ada di perairan Natuna merupakan koral sehat,” ungkap Rodhial. Itulah sebabnya, ribuan spesies biota laut dengan mudah ditemukan di perairan Natuna.
Air yang jernih memudahkan saya melihat kima atau kerang raksasa tergeletak di dasar laut dan menemukan ikan badut berwarna jingga di anemone. Sesekali melintas blue fish menari-nari menggoda saya.
Seorang wanita penyelam, Ria Qorina, menceritakan pengalamannya diving di Pulau Setahi. “Di sini hampir tidak ada arus, airnya jernih, dan tidak terlalu dalam, hanya sekitar 10 meter. Dive site ini cocok untuk penyelam pemula,” katanya. Paling menarik, menurutnya, penyelam bisa melihat wreck atau bangkai kapal Djadajat yang tenggelam tahun 1980.
Kapal Djadajat adalah kapal Belanda yang sempat dipakai Presiden Soekarno sebagai kantor saat berlayar. Kapal ini kemudian digunakan sebagai kapal perintis yang membawa penumpang dan bahan logistik untuk penduduk Natuna. “Bentuk jendela dan pintu kapal masih terlihat. Wreck ini kini menjadi rumah bagi ratusan ikan dan koral,” ujar Ria, bersemangat.
Seorang penyelam lain, mahasiswi Pascasarjana STP Trisakti, Meis Musida, mengatakan, “Melihat keunikan dive site Natuna, saya ingin mengangkat marine tourism Natuna untuk tesis saya.”
Penduduk Natuna punya permainan tradisional yang dipengaruhi budaya Melayu, yaitu gasing. Saya beruntung mendapat kesempatan melihat perlombaan gasing di Desa Cemaka. “Selain Natuna, Batam dan Tanjung Pinang juga mengenal permainan ini,” ungkap Khaerun Nazar, wasit perlombaan gasing. Untuk melestarikan kebudayaan ini, tiap tahun diadakan perlombaan gasing tingkat kabupaten dan tingkat provinsi.
Para pemain gasing adalah para pria dewasa, bukan anak-anak. Mereka membentuk lingkaran sekitar 20 orang. Masing-masing pemain berpasangan dengan musuh. Saat gasing diadu, yang kalah akan berusaha menangkap gasing yang berputar dengan papan kaca.
“Filosofi gasing ini mengajarkan kita untuk sportif. Saat kalah, musuh tetap menjaga gasing agar terus berputar. Untuk itulah permainan ini dianggap sebagai alat silaturahmi bagi masyarakat,” ujar Khaerun.
Permainan gasing ini ternyata tidak sembarangan. Ada 3 jenis gasing yang dipakai: tendin, mangkak, dan penahan. Masing-masing gasing memiliki skor yang berbeda. Pemenang ditentukan oleh gasing terlama yang berhenti berputar. Sangat menarik!
Untuk mengetahui sejarah Natuna, saya mengunjungi Museum Sri Serindit. Museum ini sebenarnya rumah milik Zaharudin, seorang kolektor benda-benda bersejarah, yang sebagian digunakan sebagai museum.
Zaharudin pertama kali menemukan piring antik Cina sekitar tahun 1980-an, saat ia berjalan-jalan di kebunnya. Sejak itu, ia terus mencari benda-benda lain, baik di darat maupun laut. Saat ini, lebih dari 1.500 benda bersejarah asal Cina tersimpan di museumnya. Piring, cangkir, mangkuk, guci, dan masih banyak lainnya.
Menurut Zaharudin, pada masa kejayaan Sriwijaya, Natuna menjadi tempat berteduh para pelaut dari amukan badai Laut Cina Selatan yang ganas. Selain tempat berteduh, pelaut mengisi air bersih dan perbekalan untuk meneruskan pelayaran. Melihat dari banyaknya peninggalan Cina, ia memperkirakan, masyarakat Natuna dahulu adalah bangsa Tionghoa yang merantau.
Berikutnya, saya mengunjungi Pantai Senumbing. Sebelum mencapainya, saya harus mendaki Bukit Senumbing yang tidak terlalu tinggi, karena pantai ini terletak di bawah bukit. Dari atas bukit, batu-batu granit hitam berukuran raksasa tampak bertaburan di tepi pantai. Sekilas pantai ini mengingatkan saya pada Pantai Tanjung Kelayang, Belitung, tempat lokasi syuting film Laskar Pelangi. Di kejauhan, tampak Pulau Senoa, batas terluar Indonesia. Di garis batas negara tercinta ini, ada rasa haru terlintas dalam hati.
Rute alternatif menuju Natuna
- Dari Jakarta, Anda bisa transit ke Batam. Penerbangan dari Batam pukul 9 pagi tiap sehari sekali, kecuali hari Minggu. Dari Batam, perlu waktu 1 jam 25 menit penerbangan.
- Anda juga bisa melalui Tanjung Pinang. Pesawat ada tiap hari sekali, kecuali hari Minggu. Dari Tanjung Pinang, perlu waktu 1 jam 30 menit penerbangan.
- Jika Anda dari Surabaya atau Indonesia Timur, Anda bisa mengambil penerbangan dari Pontianak. Penerbangan tiap Selasa dan Jumat. Penerbangan memakan waktu 1 jam 30 menit.
- Jika ingin bepergian ala backpacker, Anda bisa memilih kapal Pelni sebagai alat transportasi. Kapal ini melayani rute Jakarta-Tanjung Pinang-Natuna. Lama perjalanan 3 hari.
Menginap di mana?
- Alifstone Park. Dengan tarif Rp200.000 per malam, Anda bisa menikmati indahnya matahari terbit langsung di tepi laut. Terbuat dari kayu, Alifstone merupakan penginapan terapung.
- Hotel Sentral. Terletak di pusat Kota Ranai. Hotel ini berfasilitas lengkap, seperti AC dan air hangat. Harga mulai Rp300.000 per malam.
- Penginapan Sunrise. Satu-satunya penginapan di Pulau Tiga. Penginapan terapung yang dekat dengan dermaga. Harga, Rp50.000 per malam.
Tip
- Bawa cukup uang tunai. Mesin ATM hanya ada di Kota Ranai.
- Transportasi umum sangat minim. Alternatifnya, sewa mobil, antara Rp300.000-Rp500.000 per hari.
- Jangan lupa bawa sunblock.