Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Lilik Sulistyowati, M.Si, Kasubdit Program dan Evaluasi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemandirian siswa sangat menentukan keberhasilan pendidikannya. “Siswa tiap hari harus masuk ke sistem untuk absensi, mereka wajib online tiap hari untuk mengerjakan tugas-tugas dari guru,” ungkapnya.
Perbedaan lain yang mencolok adalah kebiasaan siswa, peserta didik saat ini sudah sangat akrab dengan gadget, hal ini justru bertolak belakang dengan guru dan dosen senior, yang di masanya tidak mengenal proses belajar online. Di setiap SMA Terbuka harus ada 2 guru yang melek teknologi, membuat presentasi powerpoint dan materi video. Begitu pula di tingkat universitas, dosen berusaha keras untuk mengerti teknologi.
“Mengubah kebiasaan dosen dari yang menerangkan panjang lebar menjadi presentasi selama 3 menit susah, namun mereka mau beradaptasi. Materi video yang ringan dibutuhkan karena disesuaikan dengan kebutuhan online,” ujar Kuncoro.
Bicara mengenai masa depan dunia pendidikan Indonesia, Kuncoro menilai perkuliahan dan sekolah online akan menjadi alternatif metode pembelajaran yang makin banyak digunakan oleh kampus-kampus di Indonesia. “Kita tidak bisa membendung arus perubahan. Teknologi informasi yang makin maju terbukti membantu kehidupan manusia. Di luar negeri sudah tidak ada lagi perdebatan tentang kuliah online,” ujarnya.
Universitas asal luar negeri tidak mungkin mendirikan bangunan fisik berupa kampusnya di Indonesia. Mereka akan kesulitan dalam perizinan karena universitas harus dalam bentuk lembaga nirlaba. “Namun, content presence melalui penyedia kursus online semacam Coursera, Lynda, makin deras menyerbu Indonesia. Dari yang gratis maupun yang berbayar. Orang bebas memilih dan punya kesempatan sama untuk meraih pendidikan bermutu dengan sangat mudah,” pungkas Kuncoro. (f)