Setiap orang bebas untuk memilih dengan siapa ingin berteman, selama merasa memiliki kecocokan bersama. Bagi yang masih lajang, tentu tak ada masalah dengan hal ini. Tapi lain halnya bagi yang telah berkeluarga, biasanya kondisi ini tak mudah untuk diterima oleh pasangan masing-masing. Apalagi jika itu adalah persahabatan dengan mantan. Hubungan seperti itu seringkali dianggap sebagai ancaman bagi perkawinan. Satu pesan singkat di ponsel Anda yang datang dari mantan kekasih, bisa membuat suami curiga dan memicu cemburu.
Sebenarnya, menurut Nunik Hermawati, konsultan Sekolah Pernikahan.com menjalin pertemanan usai menikah mungkin saja, asal tahu cara mengemasnya. Syaratnya adalah harus sadar dengan apa yang dilakukan dalam pertemanan tersebut.
Tak dipungkiri, memiliki teman itu tak sekedar menyenangkan, namun bisa memberi manfaat lebih bagi kita. Hubungan pertemanan memberikan kita dukungan, membuat kita tidak merasa kesepian, sekaligus memberi rasa terlindungi. Semua itu seolah menjadi penyemangat sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
Teman biasanya menjadi tempat curhat. Ia yang akan mendengarkan dan membuat kita merasa nyaman. Ia juga mendukung apapun pilihan yang kita ambil dan memaafkan kesalahan yang tidak sengaja kita lakukan. Kita pun akan cenderung meminta pendapat, saran, dan mencari mereka saat kita menghadapi masalah.
”Berbeda dengan pasangan, kadang ada hal yang tidak bisa kita ceritakan kepada pasangan kita. Jujur saja, sedekat apapun Anda dengan pasangan, terkadang Anda juga butuh teman yang lain, bukan? Walaupun seharusnya pasangan Anda adalah sahabat terbaik sekaligus teman yang paling mendukung dan mengerti Anda,” jelas Nunik.
Itulah sebabnya, menurut Nunik, meski seseorang telah menikah, bukan berarti dia tidak bisa memiliki pertemanan. Tak terkecuali juga dengan lawan jenis. Perlu disadari bahwa kehidupan setelah menikah tak hanya berkutat pada urusan rumah tangga. Ada kehidupan lain yang juga harus dijalani demi keseimbangan mental. Disinilah perlunya pengertian dan kebijaksanaan setiap pasangan, bahwa kehadiran teman akan membuat keseimbangan dalam hidup seseorang.
”Yang perlu diperhatikan ketika berteman adalah tujuan dan alasan dari pertemanan tersebut. Apakah sekadar bersenang-senang atau ada alasan lain, seperti bosan dengan pasangan,” jelas wanita yang juga menulis buku Menikah untuk Bahagia, bersama suaminya, Indra Noveldy.
NURI FAJRIATI