“Menjadi volunteer atau relawan buat kalangan muda adalah solusi ‘ajaib’ untuk menjalani hidup yang lebih ‘kaya’. Waktu kosong tidak lagi hanya diisi dengan nongkrong atau belanja, yang sebetulnya tidak ada salahnya juga. Tapi, kalau hanya itu-itu saja, rasanya seperti hampa,” tutur Arief Aziz, yang juga bekerja dengan banyak tenaga relawan di platform petisi online, Change.org.
Ia menilai, ketika motivasi ekonomi tidak terlibat, partisipasi seseorang dalam acara atau tujuan tertentu seakan memiliki kebebasan tertentu. “Menjadi relawan itu kebebasannya besar, sehingga kita menjadi lebih kreatif. Berbeda dengan pekerjaan yang dibayar, tentunya kita harus mengikuti aturan orang lain,” jelasnya.
Selain itu, rasa kekeluargaan dalam kegiatan volunteer, menurut Arief, juga lebih besar dan membuat tim cenderung lebih solid. “Karena di sini semangatnya adalah semangat rame-rame, bukan semangat untuk orang, perusahaan, atau brand tertentu. Kepuasan yang didapatkan juga berbeda,” tambah Arief, yang melalui Change.org membantu banyak individu dengan misi mulia.
Menjadi volunteer dan bekerja dengan banyak volunteer lain dengan tujuan yang berbeda-beda membuat Arief berada dalam lingkungan pergaulan yang luar biasa. “Jejaring pertemanan dan jejaring profesional saya sekarang terdiri dari orang-orang yang paling kreatif dan paling berdampak. Sulit dipercaya kalau semua itu berasal dari kegiatan sukarela, ‘kan?” tuturnya, bangga.
Lantas, apakah semua orang bisa menjadi volunteer di acara-acara yang diminati? Sebab, sebelum menyatakan diri bersedia untuk menyumbangkan waktu dan tenaga, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, apakah posisi yang dibutuhkan memerlukan ilmu atau skill tertentu dari para volunteer-nya. Seperti yang dituturkan Ochie, kebanyakan volunteer yang ia cari harus mampu berbahasa Inggris, karena mereka berurusan dengan berbagai pihak pembicara dan peserta dari luar negeri.
Berdasarkan pencarian femina di berbagai situs festival dan event kelas internasional di Indonesia, posisi untuk volunteer lebih banyak yang tidak terlalu membutuhkan skill spesifik. Java Jazz Festival misalnya, biasanya membutuhkan tenaga di bagian promosi, artis, tiket, merchandise, dan sebagainya.
Demikian pula dengan Ubud Writers and Readers Festival. Tiap tahun mereka mencari tenaga untuk mengisi bagian seperti media relations, special event, writer’s liason atau writer’s assistant, dan masih banyak lagi. Menurut Ochie, posisi-posisi seperti ini bisa diisi oleh siapa saja yang memiliki people’s skill yang bagus. Namun, beberapa posisi lain, misalnya bagian audiovisual, memang harus diisi oleh orang-orang yang memiliki latar belakang multimedia.