Trending Topic
Keluarga Bertanggung Jawab

3 Nov 2013


Punya anak adalah hak asasi setiap orang. Namun, amat disayangkan jika masa konsepsi, kehamilan, dan kelahiran anak yang seharusnya merupakan momen terindah bagi mereka yang amat mendambakan anak, terjadi di luar kehendak atau perencanaan (unintended pregnancy).

Data terbaru dari UNFPA menyebut, diperkirakan di tahun ini di seluruh dunia akan terjadi 80 juta kehamilan yang tidak direncanakan. Sebanyak 63 juta di antaranya akan dialami oleh 222 juta wanita yang tidak mendapatkan akses terhadap alat kontrasepsi.

Akan tetapi, faktanya, tidak semua kehamilan yang tidak direncanakan itu berasal dari kalangan wanita di pelosok ataupun masyarakat prasejahtera. Negara maju seperti Amerika Serikat juga menjadi penyumbang terbesar kehamilan tak direncanakan. Tahun 2006, di Amerika, sebanyak 49% kehamilan merupakan unintended pregnancy. Angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu solusi (mudah) yang bisa mencegah tingginya unintended pregnancy adalah dengan kontrasepsi. Menurut Fasli, program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah, bukan hanya masalah alat kontrasepsi, tapi juga edukasi tentang risiko, konsekuensi memiliki anak banyak, terlalu dini, ataupun jarak kelahiran yang terlalu dekat.  
   
KB adalah tentang family planning. Punya anak semestinya adalah sebuah pilihan yang bertanggung jawab. Ada konsekuensi yang panjang dari sebuah proses konsepsi, masa kehamilan, melahirkan, hingga membesarkan seorang anak ke dunia ini.  Lebih dari sekadar menunaikan kewajiban sosial dan tuntutan keluarga besar ataupun masyarakat.

Advertisement
Hal ini sejalan dengan laporan World Population UNFPA 2012, bertajuk “By Choice, Not By Chance: Family Planning, Human Rights and Development”, mengungkapkan, mengabaikan hak orang untuk mengakses gnoring people’s rights to access family planning will have serious impacts on poverty, social exclusion, poor health and gender equality.

The report, said Ferraris, laid out pathways for positive actions that governments, international organizations and civil society should pursue. “Selain itu, sekalipun orang tua berkemampuan finansial cukup untuk membiayai banyak anak, masalah waktu, kasih sayang, dan perhatian tentunya akan terbagi. Dalam keluarga kecil, anak yang mendapat cukup perhatian akan mengalami tumbuh kembang lebih baik,” ujar Sonny.     
   
Dorongan memiliki keluarga kecil rupanya tumbuh akibat makin tingginya biaya hidup dan pendidikan anak, terbatasnya waktu untuk mengasuh anak (karena ibu juga harus bekerja demi tuntutan kebutuhan rumah tangga), sehingga membuat wanita memilih   membatasi jumlah anak mereka dengan sendirinya.
   
Lain halnya dengan wanita yang di pelosok atau pedalaman. Sekalipun kesadaran itu sudah mulai tumbuh, sayangnya  tak selalu didukung oleh alat maupun pelayanan yang tersedia. “Bisa jadi seorang ibu ingin ber-KB, tapi ternyata bidan yang terlatih atau alat kontrasepsi yang diinginkan tak tersedia. Atau, bisa juga terbentur kendala biaya transportasi untuk mencapai klinik di kabupaten yang tak dimilikinya,” sesal Fasli. Menurutnya, ada 9% wanita di  daerah yang ingin ber-KB, tapi sayangnya belum terlayani.      
   
Selain menggenjot program KB, BKKBN juga rencananya akan bergerilya ke lebih 30.000 sekolah dan 3.200 kampus secara bertahap untuk memberi penyuluhan lewat program ‘Genre’ dalam bentuk peer education mengenai fungsi reproduksi remaja untuk mencegah kehamilan di luar nikah atau terlalu cepat menikah. “Harapannya, angka kelahiran dari kehamilan di luar nikah dapat ditekan dengan adanya program penyuluhan ini, sekaligus mencegah narkoba dan penyebaran HIV-AIDS,” kata Fasli. Kontrol terhadap perilaku permisif remaja akan seks juga sebaiknya dilakukan dari keluarga lewat perhatian, pendidikan seks, dan penanaman nilai-nilai religi.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?