Travel
Keindahan Senyap Kashmir

11 Jan 2014


Akhir September lalu Garuda Indonesia dan Jet Airways mengundang femina mengunjungi Srinagar di Jammu-Kashmir, India. Kedua maskapai penerbangan full board ini terkoneksi untuk mempermudah perjalanan wisatawan dari Jakarta ke India. Redaktur senior femina, Nuri Fajriati, menjelajahi tempat indah di kaki Pegunungan Himalaya ini.


Wisatawan lokal biasanya datang ke Kashmir pada pertengahan tahun untuk melarikan diri dari bagian India lain yang panas menyengat. Danau Dal yang senyap, taman-taman yang dinaungi pohon chinar berusia ratusan tahun, kerajinan tangan yang indah, atau pegunungan bersalju memang membuat daerah ini istimewa.


Kampung di Atas Danau

Pemandangan Kota Srinagar terlihat jelas dari Vivanta by Taj, tempat saya menikmati makan siang. Danau Dal tampak mendominasi. Danau ini seolah menjadi ’pusat’, terlihat dari segala penjuru Srinagar. Termasuk dari Nishat Garden dan Shalimar Bagh, peninggalan raja-raja Mughal empat ratus tahun lalu. Menginap di houseboat di Danau Dal adalah pengalaman wajib bagi wisatawan yang datang ke Srinagar.
    Biasanya pengelola houseboat menyediakan fasilitas perahu yang menjemput dari dermaga terdekat. Perahu kayu tanpa mesin ini disebut shikara, biasanya membawa empat orang. Bentuknya cantik, memiliki kursi berlapis bantalan busa yang berhadapan, dilengkapi penutup dengan tirai warna-warni. Pendayung biasanya duduk di belakang. Ujung dayung berbentuk seperti hati atau daun teratai. Shikara yang saya gunakan ini biasanya hanya digunakan oleh wisatawan, penduduk yang tinggal di sini menggunakan perahu biasa tanpa atas atau hiasan.
    Houseboat tempat saya menginap ini, menurut Sajad, ’kapten’ kapal yang mengantarkan saya, terbuat dari kayu. Ukurannya cukup luas, berisi 4 kamar, dapur, ruang makan, dan ruang keluarga. Tiap kamar dilengkapi tempat tidur ukuran dobel dan kamar mandi dengan bath tub. Betul-betul seperti rumah. Meski tidak terlalu mewah,  suasana dalam houseboat sangat hangat. Danau Dal sangat tenang, nyaris tanpa riak, tidur di houseboat pun tak terasa goyang.
    Danau Dal yang luasnya kurang lebih 25 km persegi ini sesungguhnya adalah kampung bagi sekitar 7% penduduk Srinagar. Selain rumah perahu, sebagian rumah juga berdiri di atas tanah yang menyembul di danau, seperti pulau-pulau kecil.
Sebagian lahan yang ada juga dimanfaatkan untuk menanam sayuran. Itu sebabnya, saat menyusuri danau  kita akan menemukan gang-gang seperti layaknya di daratan. Semua fasilitas seperti toko penjual pakaian, penjahit, tukang daging, toko kelontong, sampai klinik pengobatan yang biasa di kampung pada umumnya juga ada, hanya saja sebagian besar bangunan di atas air. Mobilitas penduduk selalu menggunakan perahu. Tak heran, penduduk danau sejak kecil sudah jago mendayung.
    Meski udara pagi hari di danau menusuk tulang,   saya senang bangun pagi di sini. Entah untuk mengunjungi pasar apung tradisional atau duduk-duduk di teras sambil menikmati secangkir kahwa, teh dari seduhan rempah seperti saffron. Sekadar menikmati keheningan pagi, mengamati perahu penuh tumpukan daun teratai yang didayung seorang wanita, atau memperhatikan tingkah burung bangau dan bebek yang mencari ikan. Damai sekali.
    Pagi itu saya terbangun oleh suara azan subuh. Ya, mayoritas masyarakat Kashmir atau disebut Kashmiri memeluk agama Islam. Perawakan dan wajah Kashmiri pun lebih mirip bangsa Persia.



Karpet Sutra dan Pashmina

Malam hari di houseboat, saya kedatangan ‘tamu’, penjual selendang pashmina. Dari dalam koper yang ia bawa, sang penjual mengeluarkan puluhan syal dan menggelarnya di meja ruang tamu. Ada tiga jenis syal yang ia tawarkan, yang termurah seperti dari katun biasa. Adapun yang lebih mahal terbuat dari wol yang agak tebal dan dihiasi sulaman khas Kashmiri. Sementara yang paling mahal, ia menyebutnya pashmina, terasa sangat halus saat dipegang dan ringan. Meski kesannya ’ringkih’, pashmina mampu memberi kehangatan.
    Pashmina, syal yang terkenal itu, memang berasal dari Lembah Kashmir. Pashmina sebetulnya berarti wol dalam bahasa Persia, namun wol yang ini istimewa. Jika wol biasanya berasal dari bulu domba, pashmina berasal dari bulu di daerah leher, dada, dan perut kambing chyangra (capra hiracus), yang hidup di Lembah Kashmir yang dingin.
Bulu itu sangat halus dan ringan. Seperenam kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Karena jumlah   benang yang bisa didapat dari seekor chyangra sangat sedikit, sekitar 80 gram, setidaknya diperlukan empat ekor chyangra untuk membuat selembar syal. Belum lagi prosesnya yang tradisional:  dipintal menjadi benang, diberi warna, hingga ditenun menjadi kain. Karena sangat halus, semua itu harus dikerjakan menggunakan tangan, bukan mesin. Tak heran kalau kemudian harga selembar pashmina juga  tinggi.
Karena berbagai alasan, seperti menekan harga dan membentuk yang lebih mantap, pembuatnya mencampur pashmina dengan sutra dan wol biasa. Makin banyak campuran,  makin murah harganya. Akhirnya, cukup sulit bagi orang awam untuk membedakan seberapa ‘murni’ pashmina yang ditawarkan penjual, apalagi di sini hampir tidak ada harga pasti, semua tergantung kelihaian kita menawar.
Kabarnya, pemerintah setempat sedang merancang cara memberi sertifikasi pashmina untuk mengurangi penipuan. Anda tak akan menyesal membeli pashmina asli di sini. Di luar Kashmir, harganya minimal sepuluh kali lipat lebih mahal.
Bukan hanya pashmina, karpet dari Kashmir juga terkenal indah. Motif dan cara pembuatannya mirip dengan pembuatan karpet Persia, membuktikan bahwa masyarakat Kashmir ’dekat’ dengan budaya Persia. Tak hanya terbuat dari wol, tapi juga dari sutra. Kerumitan pembuatan karpet sudah terlihat dari pola motif yang ditulis dalam bentuk rumus yang disebut talim. Karpet tidak ditenun. Benang sutra diikat satu demi satu ke tali dasar karpet yang terbuat dari tali katun atau sutra juga, sesuai pola. Perlu waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan selembar karpet.
Advertisement
Karpet sutra ini memang tidak seempuk karpet wol yang tebal, tapi punya keistimewaan lain. Jika dilihat dari sudut berbeda, warnanya  akan terlihat  berbeda. Misalnya, dari sisi kiri terlihat berwarna merah muda, tapi dari sisi sebaliknya berwarna jingga. Lalu, saat diinjak, karpet terasa sangat halus di kaki. Karpet ini juga ringan dan mudah dilipat.
Secangkir teh hijau disajikan oleh pelayan toko untuk memberikan kesempatan pada pembeli untuk mengamati dan melakukan tawar-menawar. Triknya adalah mulai menawar dari sepertiga harga yang ditawarkan. Makin banyak jumlah yang dibeli, harga bisa berkurang. Murah mengingat proses pembuatannya yang njelimet. Bahkan, kalau tak mau repot, mereka bisa mengirimnya langsung ke alamat Anda.
Kerajinan lain yang terkenal adalah ukiran kayu pohon walnut serta peralatan dan perhiasan rumah dari kertas yang dihancurkan (papier mache). Ada juga bedding dan hiasan dinding berupa kain katun yang dipenuhi sulaman kashida sehingga menyerupai lukisan.
Bunga lotus, daun chinar, burung, dan gajah menjadi inspirasi motif hias. Hampir semua kerajinan itu, dari karpet hingga bedding dan tirai jendela bersulam kashida, menghiasi houseboat tempat saya menginap.



Swiss-nya India
Gulmarg yang berarti padang bunga adalah primadona wisata Kashmir di musim dingin. Letaknya sekitar 60 km dari Kota Srinagar atau 1,5 jam perjalanan. Di Bandara Srinagar terpampang papan yang menyamakan serunya bermain ski di Gulmarg tak kalah seru dengan Swiss. Paling tidak, Swiss dan Gulmarg sama-sama ramai saat suhu membekukan udara dan air. Kamar-kamar di Khyber, sebuah resort yang baru dibuka tahun 2012, sudah habis dipesan untuk masa puncak liburan di akhir Desember.
Di musim dingin, seluruh pohon pinus di sekitar resort diselimuti salju. Dari jendela kamar di resort yang didominasi kayu ini, kita bisa melihat puncak gunung yang dijadikan lokasi ski. Untuk mencapai puncak gunung bersalju itu wisatawan menggunakan gondola.
    Di luar musim dingin, kita bisa mengelilingi padang rumput Gulmarg menggunakan kuda atau hiking menelusuri hutan. Atau, jika gondola sedang beroperasi, kita masih bisa menikmati pemandangan alam hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut. Gulmarg gondola merupakan salah satu gondola tertinggi di dunia.
    Baru saja saya turun dari mobil, saya diserbu para pemandu yang berebut menawarkan kuda mereka. Untuk perjalanan sekitar satu jam harga yang ditawarkan rata-rata 500 rupee (Rp100.000). Melintasi padang rumput, terlihat sebidang lahan yang dijadikan lapangan golf sederhana, juga berpapasan dengan domba-domba penghasil wol yang sedang digembalakan.
Kabarnya, lokasi ini sering juga dijadikan setting dalam film-film Bollywood. Di jalan yang melintasi pepohonan pinus yang tinggi, burung elang dan gagak tampak melayang, terbang cukup rendah, membuat saya ngeri tersambar paruhnya. Sebagian besar pemandu bukan pemilik kuda, mereka mengandalkan tip wisatawan untuk menambah penghasilan.
    Perjalanan menuju dan dari Gulmarg sendiri cukup menyenangkan mata. Kanan kiri jalan banyak terdapat kebun apel dan pir, juga sawah dengan padi yang menguning siap panen. Kashmir memang subur dan memikat.



Tip

• Penerbangan menggunakan Garuda Indonesia berangkat siang hari transit di Singapura, dilanjutkan dengan Jet Airways menuju New Delhi. Dari New Delhi menuju Srinagar ada dua kali jadwal penerbangan menggunakan Jet Airways dan memakan waktu satu setengah jam.
• Pemeriksaan di Bandara Srinagar sangat ketat, datanglah 2 jam lebih cepat. Bawa barang seminimal mungkin di tas yang dibawa ke kabin.
• Perhatikan musim dan cuaca. Jika Anda pergi di bulan akhir tahun hingga awal tahun, Anda perlu pakaian musim dingin. Suhu bisa di bawah nol derajat.
• Untuk mengelilingi Srinagar, sewalah mobil dan sopir setempat.
• Di Srinagar kerap terjadi demonstrasi dan protes, perhatikan peringatan dari pemandu. (NURI FAJRIATI)






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?