Pernyataan ini senada dengan Ardana Riswari atau Ires, wanita asal Indonesia yang telah lama menetap di Jepang dan bekerja sebagai talent coordinator untuk acara televisi. “Bali mungkin satu-satunya daerah wisata yang penunjang pariwisatanya paling lengkap di Indonesia,” katanya.
Orang Jepang, menurut Yoko, adalah pekerja keras. Mereka memilih Bali karena orang Indonesia memang terkenal dengan keramah-tamahannya. “Orang Jepang dan Bali senang mengobrol. Berbeda kalau mereka berlibur ke Hawaii misalnya, di sana mereka nggak dapat teman mengobrol,” kata Yoko.
Ia menambahkan, kesamaan lain orang Jepang dan Bali adalah keduanya menjunjung peninggalan adat dan budaya tradisional. “Di antara gedung-gedung pencakar langit di Tokyo, masih bisa ditemui kuil-kuil. Anak muda Jepang juga masih ada yang suka berkimono saat musim panas,” katanya. Namun, meski menghargai budaya, mereka sebenarnya tidak menjalankan kepercayaan yang dianut. “Orang Jepang pergi ke kuil hanya saat malam tahun baru,” jelas Ires lagi.
Tren yang terjadi di Bali sekitar 3-4 tahun ini juga bisa dijadikan contoh. Saat ini banyak wisatawan Jepang yang datang ke Bali tidak sekadar untuk berwisata, tapi juga untuk melangsungkan upacara pernikahan layaknya warga setempat yang beragama Hindu. “Tidak peduli upacara dilangsungkan dengan cara apa, yang penting unik,” kata Yoko, yang juga menjelaskan bahwa upacara pernikahan ala Barat juga jamak dilakukan di Jepang.
Menurut pengamatan Ires, orang Jepang yang baru lahir diupacarakan dengan agama Shinto. Setelah dewasa, menikah di gereja seperti orang Kristen/ Katolik, lalu meninggal dengan cara Buddha. Yoko pun menyadari hal itu. Ia mengatakan bahwa orang Jepang percaya agama, tapi tidak menjalankannya. “Dalam lingkungan adat Bali dan agama Hindu yang kental, orang Jepang seperti diingatkan bahwa manusia hidup dalam kebersamaan. Dengan adanya bencana tsunami, kami juga diingatkan untuk berserah diri pada kekuatan yang lebih besar, yaitu Tuhan.” (f)