Jika angka kelahiran masih sama seperti pada saat ini, maka Indonesia akan mengalami ledakan penduduk di tahun-tahun mendatang,” demikian menurut Ketua Lembaga Demografi FE UI, Dr. Sonny Harry Budiutomo Harmadi, mengingatkan. Diperkirakan, dalam dua tahun lagi, penduduk Indonesia akan berjumlah 253,8 juta jiwa dan pada 2035 melonjak menjadi 302,5 juta jiwa!
Apa yang salah dengan punya banyak anak? Pertanyaan ini sudah djawab dua abad silam oleh ilmuwan Thomas Robert Malthus. Salah satu dalil Malthus yang terkenal, bahwa jumlah penduduk cenderung meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil meningkat secara aritmatik (deret hitung). Malthus juga mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk jah lebih cepat daripada makanan. Akibatnya, pada suatu saat akan terjadi perbedaan yang besar antara penduduk dan kebutuhan hidup. Ramalan itu sudah terjadi. Di masa sekarang, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi (lebih dari 3 juta tiap tahunnya), melahirkan masalah multidimensional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 237,6 juta jiwa. Diperkirakan, dalam dua tahun lagi, penduduk Indonesia akan berjumlah 253,8 juta jiwa dan pada 2035 melonjak menjadi 302,5 juta jiwa!
Pertambahan penduduk ini diperparah dengan ketidakmerataan penyebaran penduduk. Kepadatan hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Migrasi dan urbanisasi besar-besaran tak bisa terelakkan dan tak pernah bisa dikendalikan. Di Indonesia sebanyak 58% penduduk bermukim di Pulau Jawa (Provinsi Jawa Barat memiliki penduduk tertinggi di Indonesia). Sedangkan Papua Barat jadi provinsi dengan jumlah penduduk paling sedikit.
Lahan yang makin terbatas akibat lahan pertanian dikonversi jadi permukiman dan industri, juga menjadi ancaman nyata yang bisa membahayakan ketahanan pangan nasional. Akibatnya, jelas Sonny, ketersediaan pangan terpaksa dicukupi dengan impor karena negara kewalahan mencukupi kebutuhan pangan dalam negerinya. Hal ini tentunya merambat pada anggaran pemerintah yang membengkak untuk penyelenggaraan pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, dan kebutuhan infrastruktur yang besar untuk melayani kebutuhan penduduk yang banyak.
“Pada akhirnya, keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari pembangunan justru akan habis untuk membiayai penduduk. Negara harus menanggung biaya untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya,” jelas Sonny. Kalau sudah terjadi seperti ini, maka perlahan tapi pasti negara tersebut bergerak menjadi negara yang miskin, dengan kualitas hidup menurun.
Pada dasarnya, setiap jumlah anak yang dilahirkan (baik dari keluarga mampu maupun tidak mampu) menjadi beban tanggungan negara. Di sinilah, hubungannya, mereka punya banyak anak, tanpa disadari, sebenarnya telah mengambil biaya sosial yang ditanggung oleh negara.(Reynette Fausto.Ficky Yusrini)