Meski begitu, sebelum digunakan, tripsin tersebut telah dicuci bersih terlebih dahulu. Apalagi, pada produksi vaksin tersebut terdapat tahap ultrafiltrasi. “Jadi, secara kimiawi unsur babi di dalam tripsin hilang karena telah disaring sedemikian kecilnya dengan nonpartikel. Sehingga, dalam produk akhirnya sudah tidak terindikasi lagi bahwa vaksin tersebut mengandung tripsin babi,” jelas dr. Apin.
Memastikan bahwa kandungan tripsin babi sudah tidak teridentifikasi lagi dalam ketiga vaksin tersebut adalah hal yang krusial. Karena, menurut dr. Piprim, jika masih ada kandungan tripsin babinya, vaksin itu akan gagal. “Tripsin dapat memecah-mecah protein, sehingga vaksinnya pun tidak dapat digunakan,” ujarnya.
Menurut Dr. Amirsyah Tambunan, M.A., Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dalam memandang persoalan halal-haram, ada beberapa hal yang bisa menjadi acuan umat muslim. “Jika soal makanan dan minuman, kita harus ketat karena ada alternatif makanan dan minuman yang halal. Dan sebagai muslim, ketika ada pilihan-pilihan, kita tidak boleh memilih yang haram,” ujar Amirsyah.
Ulama-ulama dunia yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) juga telah memperbolehkan penggunaan vaksin, termasuk ketiga vaksin tersebut, karena manfaatnya sangat besar. Fatwa-fatwa yang memperbolehkan penggunaan vaksin antara lain telah dikeluarkan oleh Dr. Mohamed Sayed Tantawi, Imam Besar Al-Azhar Al-Sharif, Mesir, dan Syeikh Abdul Aziz bin Abdullan bin Baaz, Mufti Besar Arab Saudi.
Demikian juga dengan MUI yang sudah mengeluarkan fatwa halal untuk vaksin polio suntik, rotavirus, dan meningitis. Namun, lagi-lagi teori konspirasi diangkat. Pihak yang antivaksin menggulirkan kecurigaan bahwa fatwa tersebut merupakan fatwa pesanan perusahaan farmasi.
Dengan tegas Amirsyah menyangkal hal tersebut. “Tidak ada konspirasi apa pun antara MUI dengan perusahaan farmasi. Fatwa tersebut dikeluarkan setelah melalui kajian mendalam dan prosedur yang tepat karena MUI melihat manfaat dari ketiga vaksin tersebut terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Eka Januwati