”Tak hanya pria, wanita juga memilih dan menikmati jenis hubungan ini, karena sifatnya lebih santai dan tidak ada tuntutan serius dalam merencanakan masa depan. Biasanya kasus seperti ini disebabkan oleh keraguan terhadap kemampuan diri sendiri atau pasangan dalam menjalani hubungan serius. Alasan lain adalah karena belum sreg dengan kekurangan dan kelebihan pasangan, situasi yang kurang mendukung, atau sedari awal hanya ingin main-main saja dan enggan terikat,” tutur Ajeng.
Pengalaman traumatis, seperti pernah dikecewakan oleh kekasih, pernah bercerai, atau latar belakang keluarga yang broken home, juga bisa menjadi latar belakang terjalinnya hubungan semacam ini. Ajeng melihat, hal ini bisa terjadi pada pria dan wanita. Trauma inilah yang perlu terlebih dulu disembuhkan sebelum seseorang memulai sebuah hubungan.
Agar tidak terjebak dalam situasi hubungan tanpa kejelasan status ini, Ajeng menyarankan agar kita mengambil sikap tegas. Yakinkan dulu diri kita, benarkah ingin menghabiskan waktu bersamanya? Jangan sampai, sudah gencar menyinggung masalah komitmen, ternyata kita sendiri ragu.
”Selama menjalani hubungan tanpa status, jangan libatkan sentuhan fisik. Karena, akan membuat perasaan kita justru makin dalam. Jika Anda sedang menjalani hubungan semacam ini, idealnya batas toleransi waktu yang Anda luangkan adalah tiga bulan! Waktu ini cukup untuk menyadari apakah memang ada kecocokan, gairah, dan cinta di antara kedua pihak. Kerelaan untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing bisa menjadi salah satu acuan apakah hubungan ini akan berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius atau malah harus diakhiri,” tegas Ajeng.
Trifosa Dewi