Travel
Honoured To Meet You

16 Jan 2015

Mengunjungi Stratford-upon-Avon adalah mimpi yang saya, Tina Savitri, simpan di dalam hati entah sejak kapan. Mimpi tersebut baru bisa terwujud pada akhir April lalu, bertepatan dengan tahun peringatan 450 tahun kelahiran William Shakespeare (1564-1616), pujangga besar asal Inggris yang lahir, besar, menikah, punya anak, dan tutup usia di kota ini.


Surganya Pencinta Sastra
Bagaikan tergulung lorong waktu dan  terlempar kembali ke abad-14, saya menjejakkan kaki di kota kecil (tepatnya borough) di barat daya London, Inggris, ini. Yang langsung memerangkap mata saya adalah pemandangan bangunan-bangunan tua bergaya Tudor dari abad ke-14 yang bertingkat dua atau tiga, bercat putih dengan aksen kayu warna hitam.
Suasana shakespearian langsung terasa begitu saya keluar dari perhentian bus di kota itu. Di sebuah taman berdiri tugu kecil yang di puncaknya terdapat patung perunggu Sang Pujangga. Di sekeliling tugu berdiri patung-patung sejumlah karakter terkenal dalam karya-karya Shakespeare, antara lain: Hamlet, Lady Macbeth, Ophelia, King Lear. Mereka seolah menyambut para wisatawan untuk lebih jauh mengenal Sang Pujangga.
Spanduk-spanduk besar bertuliskan ‘Shakespeare: 450 Years Young’ menyambut saya ketika memasuki pusat kota. Selain pemandangan bangunan-bangunan tua bergaya Tudor dari era Elizabethan itu, yang tak kalah menarik perhatian saya adalah kedai-kedai teh (tea house) gaya pedesaan Inggris yang cukup banyak bertebaran. Meskipun selama ini orang Inggris selalu dikenal dengan tea time-nya, faktanya kedai teh kini sudah menjadi barang langka di seantero Inggris Raya.
Mengikuti penunjuk arah, saya tiba di sebuah bangunan tua yang bagian depannya dipenuhi wisatawan. Di gerbangnya tertulis: Shakespeare’s Birth Place. Bagian depan bangunan ternyata merupakan museum yang memiliki jalan tembus di belakang menuju ke rumah tempat kelahiran sang pujangga.
“I long to hear the story of your life.” Kalimat yang dikutip dari dialog drama The Tempest itu menyambut pengunjung di depan pintu masuk Museum Shakespeare. Museum ini bagaikan surga bagi para pencinta sastra.
Naskah-naskah asli drama dan puisi karya Sang Pujangga dipajang di dalam lemari kaca; ratusan patung dari gips, perunggu, pualam, kayu, kawat; lukisan kuno dan kontemporer; kartun; silsilah keluarga; hingga petikan puisi dan dialog Shakespeare yang terkenal, semua tersedia lengkap di museum ini. Juga ada ruangan audio visual yang menyajikan pertunjukan-pertunjukan drama dan film layar lebar yang ceritanya diangkat dari karya-karya Shakespeare.


Kamar Tidur William Kecil

Tiket untuk memasuki museum Shakespeare sudah termasuk tiket untuk memasuki rumah tempat kelahiran Shakespeare. Rumah bergaya Tudor yang berlokasi persis di belakang museum itu diperkirakan sudah berusia 500 tahunan. Terdiri dari tiga lantai, lantai dasar dulunya semacam toko sarung tangan sekaligus rumah minum. Lantai dua untuk kediaman keluarga, dan lantai teratas merupakan loteng yang dijadikan gudang. Konsep ruko ternyata sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Shakespeare lahir pada bulan April 1564 dan meninggal pada 23 April 1616. Tanggal kelahirannya tidak ada yang tahu persis. Tapi, ia tercatat dibaptis pada 26 April 1564 di Gereja Saint George’s Day. William adalah anak ke-3 dari 8 bersaudara, tapi menjadi sulung karena kedua kakaknya meninggal saat masih dalam kandungan.
Yang unik, tidak ada sedikit pun darah penyair atau seniman mengalir dari keluarga besarnya. Ayahnya, John Shakespeare, adalah seorang anggota dewan desa yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat sarung tangan. Ibunya, Mary Arden, adalah putri seorang petani tuan tanah yang cukup berpengaruh.
Ada kemungkinan ketertarikan William pada dunia kesusastraan muncul saat ia bersekolah di King’s New School yang cukup banyak mengajarkan kesusastraan Latin. Meski tidak kaya raya, keluarga Shakespeare cukup berada. Dan, karena William adalah anak pertama yang hidup, tak heran bila ia diperlakukan dengan istimewa oleh orang tuanya.
Hal ini terlihat dari kondisi kamar, buaian bayi, tempat tidur, dan mainan yang disediakan untuk William, yang terhitung mewah pada zamannya. Semua itu bisa disaksikan di rumah kelahirannya dan sebagian besar merupakan barang-barang asli, bukan replika. Beberapa pemandu ditempatkan di beberapa sudut rumah, lengkap dengan kostum abad ke-15, siap untuk memberi penjelasan atau menjawab pertanyaan para wisatawan.
Di samping rumah ada taman bunga yang bunga-bunganya mulai bermekaran. Melewati sebuah pintu pagar dari kayu, terdapat sebuah pondok kecil yang dijadikan toko suvenir. Sebelum meninggalkan rumah itu, saya menyempatkan diri mengisi buku tamu dengan tulisan besar-besar, lalu memotretnya. Aih, noraknya!


Puisi di Batu Nisan

Tak jauh dari rumah kelahirannya, berdiri sebuah rumah lain yang lebih baru dan lebih mewah yang dibeli setelah Shakespeare menjadi seniman terkenal di Eropa. Tetapi, rumah tersebut tidak dibuka untuk umum, sehingga saya hanya bisa menyaksikan dari luar pagar.
Pondok keluarga Anne Hathaway, istri Shakespeare, adalah tujuan saya selanjutnya. Jaraknya lumayan jauh dari pusat kota, sekitar 1,6 km atau 3/4 jam berjalan kaki. Dari arsip di gereja setempat, Shakespeare tercatat menikah di usia 18 tahun, sementara Anne berusia 8 tahun lebih tua.
Saat keduanya menikah, Anne sudah mengandung 3 bulan. Pasangan ini memiliki tiga anak, dua di antaranya kembar. Yang sulung bernama Susannah, sedangkan si kembar bernama Hamnet (laki-laki) dan Judith (perempuan). Namun, Hamnet meninggal dunia di usia 11 tahun karena sakit.
Menyaksikan pondok keluarga Hathaway, saya serasa menjadi Alice di Negeri Ajaib. Rumah pertanian dengan 12 kamar ini memiliki atap khas bergelombang yang terbuat dari semacam ijuk dan dilengkapi beberapa cerobong asap. Pondok ini dikelilingi kebun gaya Inggris yang sangat cantik. Di mata saya, pondok ini terlihat seperti rumah para peri dari negeri dongeng. Sayangnya, saya hanya bisa melihatnya dari luar, karena tiket saya tidak termasuk memasuki pondok ini.
Dalam perjalanan kembali ke pusat kota, mendung yang sedari tadi mengikuti saya berubah menjadi hujan yang lumayan deras. Untung saya membawa payung, sehingga tidak sampai basah kuyup. Nah, ini saat yang tepat untuk minum teh sembari berteduh di salah satu tea house itu. Sayangnya, semua wisatawan juga berpikiran sama. Semua meja di dalam kedai-kedai itu penuh, sementara meja-meja di luar ruangan tak bisa diduduki karena disiram hujan. Alhasil, saya terpaksa berteduh di sebuah kedai burger.
Setelah hujan mereda, meskipun mendung terus mengancam, saya melanjutkan perjalanan ‘ziarah’ ke perhentian terakhir kehidupan sang pujangga, yaitu ke makamnya. Meskipun sudah memiliki nama besar, bahkan akrab dengan kalangan istana di London, di hari tuanya William kembali ke kota kelahirannya dan menutup mata di sana.
Setelah (lagi-lagi) berjalan kaki sekitar setengah jam melewati benteng kota dan deretan rumah  cantik serta sebuah gedung teater kecil yang hari itu mementaskan lakon Sweeney Todd  dan Oliver, tibalah saya di Gereja Holy Trinity. Seperti umumnya gereja desa di Eropa, di halaman depan dan belakangnya dipenuhi makam para jemaatnya. Namun, sebagai warga kota kehormatan, Shakespeare tidak dimakamkan di halaman, melainkan di dalam gereja.
Sebetulnya tidak dipungut biaya bagi pengunjung untuk memasuki gereja ini. Namun, beberapa wanita setempat –yang usianya sudah sangat tua dan sikapnya sangat ramah-- menawarkan karcis seharga 1 pound bagi wisatawan yang ingin menyumbang sukarela untuk membantu panti asuhan setempat.
Di salah satu dinding gereja, dibangun semacam balkon dengan patung dada Shakespeare yang sedang memegang pena bulu. Di area sekitar altar gereja, dengan latar belakang jendela kaca tinggi dengan lukisan mozaik, terdapat beberapa nisan. Nisan yang berada persis di tengah-tengah altar bertuliskan ‘The Grave of The Poet William Shakespeare (1564-1616)’.
Tak jauh dari situ ada semacam batu prasasti bertuliskan sajak dalam bahasa Inggris abad ke-15 yang diciptakan oleh Sang Pujangga sendiri dan konon dipesankan agar dipasang di batu nisannya: “Good Frend for Iesvs sake forbeare, To dig the dvst encloased heare. Blesse be ye man ty spares thes stones, and crvst be he ty moves my bones.” Shakespeare tidak sendirian dimakamkan di area altar itu. Di dekatnya juga ada makam istrinya, Anne, putri sulungnya, Susannah, suami Susannah, John Hall, dan beberapa tokoh terhormat di desa itu.
Hujan gerimis yang turun lagi di sepanjang sore itu mengakhiri perjalanan ziarah saya menapak tilas jejak-jejak kehidupan William Shakespeare, yang ditutup dengan ‘mengantar’ Sang Pujangga ke peristirahatan terakhirnya. Saya bahagia karena mimpi saya pada akhirnya kesampaian juga. Dan, dalam perjalanan menuju halte bus untuk kembali ke London, sepotong dialog dalam drama Hamlet melintas di kepala saya: "Doubt that the sun doth move, doubt truth to be a liar, but never doubt I love."










Advertisement
































TIP
• Mungkin, karena dianggap tak diminati, Stratford-upon-Avon (hampir) tak pernah masuk dalam itinerary paket wisata ke Inggris yang dibuat biro wisata tanah air. Padahal, dari London kota ini bisa dikunjungi pulang hari.
• Perjalanan dari London ke Starford-upon-Avon membutuhkan waktu sekitar 3 - 3,5 jam. Anda bisa naik kereta api (www.thetrainline.com, www.southeasternrailway.co.uk), naik bus (www.nationalexpress.com), atau mengikuti tur yang diselenggarakan biro wisata lokal. Akan lebih praktis dan murah bila Anda membeli tiket via online jauh-jauh hari.
• Setiba di Stratford-upon-Avon, Anda tinggal berjalan kaki dari stasiun kereta atau terminal bus ke pusat kota.
• Jangan lupa bawa payung, karena hujan bisa turun sewaktu-waktu, di musim panas sekalipun.(f)





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?