Hubungan Anda dan suami sudah tiga tahun ini terasa hambar. Tidak ingin bercerai, tapi rasanya ada kebosanan setelah 10 tahun menikah. Andapun belum memiliki anak. Tanpa ada perjanjian, seolah Anda membiarkan satu sama lain ’bebas’.
Anda tahu suami dekat dengan teman kantornya, dan suami tahu Anda akhir-akhir ini dekat dengan seorang teman kantor. Walaupun sama- sama tak keberatan karena tidak berniat meninggalkan pernikahan, apakah hubungan ini sehat?
Menurut Psikolog Irma Makarim, kehidupan perkawinan akan mengalami pasang surut. Kesenangan, kesulitan, kekecewaan bahkan kebosanan bisa datang silih berganti. Karena itu, penting adanya kesadaran untuk memelihara kehangatan hubungan serta komunikasi di antara kedua belah pihak.
Untuk mengatasi kebosanan, Anda berdua perlu terbuka mencari penyebab dan cara terbaik untuk mengatasinya. Mungkin semua ini berasal dari adanya kekecewaan atau kekurangan dari salah satu atau kedua pihak. Atau, Anda berdua telanjur terperangkap dalam kesibukan sehari-hari atau rutinitas yang berkepanjangan, sehingga kurang menyediakan waktu untuk bersama.
Jangan berharap kondisi akan membaik tanpa usaha. Apalagi bila Anda berdua menutup mata atau melarikan diri untuk mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan di luar dengan orang lain. Perkawinan Anda jadi taruhannya. Sebaliknya, bila masih ingin mempertahankan perkawinan, lakukan perubahan sikap hidup. Lakukan sesuatu yang berbeda.
Anda bisa memulainya dari kegiatan bersama dalam kehidupan sehari-hari atau melakukan perjalanan jauh yang bisa dinikmati bersama. Masih banyak hal baru lain yang bisa dilakukan. Semoga dengan melakukan berbagai perubahan, rasa kasih dan kehangatan dalam hubungan Anda berdua bisa dihidupkan kembali. Yang terpenting adalah Anda berdua harus sama-sama berperan aktif untuk menyegarkan dan memperbaiki kembali hubungan ini.
Sedangkan menurut Psikolog Monty Satiadarma, mempertahankan pernikahan sebaiknya dilakukan atas landasan hubungan yang sehat, walau pernikahan mungkin juga bertahan dalam hubungan yang kurang atau tidak sehat. Memberikan kebebasan berinteraksi sosial bagi pasangan merupakan salah satu bentuk penghargaan kemandirian masing-masing individu. Namun, tiap kebebasan perlu disertai rasa tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan sebagai landasan. Kebebasan tanpa tanggung jawab akan membuka peluang tindakan lepas kendali, dan pembiaran kelangsungan tindakan tersebut merupakan bentuk penelantaran. Adapun, penelantaran merupakan salah satu bentuk emotional abuse.
Jika kedua belah pihak dapat bertindak bebas, namun dapat bertanggung jawab, mampu mengendalikan emosi dalam berinteraksi sosial, tentu ini bentuk hubungan yang sehat. Karena, satu sama lain dapat menanamkan kepercayaan sebagai landasan kokoh hubungan perkawinan. Namun, jika kebebasan disalahgunakan tanpa atau kurang bertanggung jawab karena sikap masa bodoh satu sama lain, maka hal ini bersifat penelantaran emosi, dan bentuk hubungan ini menjadi tidak sehat.(f)