Tak perlu lama menunggu dari waktu memesan, pelayan sudah membawa seluruh makanan dengan gaya rumah makan Padang. Piring aneka lauk ditumpuk secara apik. Dendeng Batokok menjadi primadona. Berupa dendeng basah dari irisan daging sapi rebus yang ditokok (‘dipukul-pukul’, dalam bahasa Minang). Warna merah yang ‘garang’ pada dendeng ternyata bukan berarti pedasnya menyengat lidah. Turis asing yang mencoba ini bisa menikmati kelezatan rasa dagingnya itu sendiri tanpa perlu megap-megap.
Untuk hidangan berkuah, rekomendasi jatuh pada Soto Padang. Kuah kaldunya kental dan gurih, dagingnya pun renyah. Daging sapinya diiris tipis sekali dan tidak banyak mengandung lemak. Sambal Goreng Ati, Kikil, dan Gulai Otak mencari ‘temannya’. Maka, pesanlah sepiring nasi putih panas untuk ini. Segera, siram nasi dengan kuah gulainya. Hmm, rempahnya benar-benar pekat!
Setelah puas dengan sajian utama, jangan lupa pesan Bubur Kampiun. Bubur yang biasa disantap saat sarapan ini memang juara. Ketan hitam dan bubur sumsum harmonis dengan kenyalnya biji salak. Memang tak ada habisnya pikat masakan Minang! (f)
Telp: (021) 25558783.
Jam buka: 09.00-22.00 WIB.
Harga*): Rp.10.000-Rp.115.000 (belum termasuk pajak 10%)
Suasana: Minimalis dengan furniture kayu yang tampak modern.
*)Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
FOTO: VL, TV.