Menurut Syahmedi Dean, pengamat mode, alat komunikasi itu ada dua, yaitu komunikasi verbal dan visual. Fashion itu bahasa komunikasi visual. "Masalahnya, umumnya orang Indonesia sehari-sehari berbahasa verbal sehingga tidak terlalu terbiasa berkomunikasi visual. Jadinya, komunikasi visual mereka jadi bisa ngaco," jelasnya.
Yang dimaksud komunikasi visual adalah sebuah rangkaian proses berkomunikasi dengan menggunakan media yang hanya terbaca oleh penglihatan. Menurut Dean, penggunaan komunikasi visual ini jelas terlihat pada orang Barat yang jarang bicara satu sama lain, namun lebih bicara secara visual. Misalnya, menampilkan diri sedang liburan, sedang party, atau dari kelas sosial tertentu, dan sebagainya, lewat fashion. "Jadi, fashion itu sebenarnya bicara, clear dan tujuannya tepat," tambah Dean.
Selain kemampuan berkomunikasi visual, di dunia Barat produk fashion-nya lengkap. Baju untuk anak-anak yang mewakili anak-anak, sangat lengkap. Sementara di Indonesia secara industri umumnya bergaya ala princess, ala selebritas Bollywood, atau baju wanita dewasa yang dibuat ukuran kecil. “Nah orang tua yang kurang bisa berbahasa visual memakaikan saja itu baju princess dan Bollywood, padahal enggak sesuai dengan waktu dan tempatnya. Akhirnya malah jadi salah kostum,” kata Dean.
ARGARINI DEVI