Tertarik berinvestasi dalam bentuk saham, namun mental belum kuat untuk menghadapi risiko merugi? Mindset seperti apa yang harus dimiliki untuk bisa survive 'bermain' saham?
Menurut perencana keuangan independen, Ligwina Hananto, sebetulnya jual beli saham tidak berbeda jauh dengan jual beli beras atau kerudung. Kita membeli di harga lebih rendah untuk dijual di harga lebih tinggi. Yang membedakan adalah barang yang diperjualbelikan, berupa surat kepemilikan perusahaan terbuka. Yang juga membedakan adalah pasar saham yang terintegrasi sehingga transaksi terjadi sangat cepat tiap detiknya. Nah, inilah yang menyebabkan banyak orang takut masuk ke pasar saham.
Sekarang, cari tahu dulu alasan mengapa Anda ingin masuk ke pasar saham. Jika hanya ingin untung, lalu tidak mau rugi, lupakan saja. Dalam transaksi apa pun, baik saham maupun beras atau kerudung, selalu ada risiko transaksi tidak menghasilkan untung, ‘kan?
Belajar tentang saham tidak bisa hanya dengan tanya jawab pendek ini, ‘kan. Ayo, mulai riset lagi. Kalau perlu Anda bisa datang ke Bursa Efek Indonesia dan mengikuti pelatihan gratis di sana agar lebih mantap.(f)