Trending Topic
Fokus Pada Solusi

13 Mar 2015


Menurut Elly Nagasaputra, M.K., Personal & Marriage Counselor dari www.konselingkeluarga.com.mengibaratkan sepasang suami-istri seperti dua roda gerigi yang memutar mesin. Kalau klik, maka kedua roda akan berputar dan mesin bisa berjalan. Tapi, kalau gerigi itu saling berbenturan, maka akan saling mematahkan, sehingga mesin rusak. “Apakah ini berarti pernikahan bisa berakhir dengan perceraian, atau mereka tetap tinggal bersama karena faktor anak, walaupun sebenarnya sudah emotionally divorce,” lanjut Elly.

Sebagai konselor, Elly terlalu sering berhadapan dengan klien yang datang dengan keluhan yang praktis sama. “Intinya, kalau hanya mau senang, jangan menikah!” saran Elly, tegas. Sebab, jika masing-masing pihak hanya menginginkan ukuran senang bagi dirinya sendiri, maka menjadi seorang lajang akan jauh lebih menyenangkan. Apa pun yang ia inginkan dan kapan pun waktunya, semua bisa dilakukan sesukanya.

Ketika dua orang mengikatkan diri pada komitmen sakral pernikahan, maka ada aturan main. Adapun, aturan main itu berasal dari bentukan budaya, norma, agama, ataupun dari kedua pasangan itu sendiri yang sifatnya mengikat. Misalnya, setelah menikah, suami tidak bisa lagi bersosialisasi dengan teman-temannya hingga larut malam tanpa memedulikan istri dan anak-anak, atau sebagai istri, Anda tidak bisa lagi bangun pagi suka-suka, karena ada suami dan anak-anak yang perlu Anda perhatikan.

Menikah, berarti penghasilan kita sudah ditakar untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Mulai dari uang bayar listrik, cicilan rumah, mobil, sampai beli susu dan popok bayi. Menikah juga berarti berkunjung ke kediaman mertua, atau datang ke berbagai acara keluarga besar. “Anda harus siap-siap kecewa!” tegas Elly lagi.

Elly mengingatkan bahwa kesenangan merupakan hasil akhir dari proses pembentukan karakter dari masing-masing pasangan. Anda berdua sudah menemukan ‘klik’, baik sebagai teman hidup maupun sebagai mitra dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga.  Namun, untuk menuju ke titik ini, Anda berdua harus dihadapkan pada berbagai masalah yang membuat bibir Anda ‘gatal’ mengucap kata ‘cerai’. Pilihan ada di tangan Anda. Ingin terus menggaruk yang ‘gatal’ ini hingga luka dan infeksi, atau mengobatinya?

Bertengkar bukan hal yang perlu ditakuti dalam sebuah pernikahan. Hanya, bagaimana caranya mengomunikasikan dua keinginan, dua otak, dan dua ego ini agar konflik yang terjadi tidak meracuni pernikahan. Sebenarnya, yang menjadi persoalan adalah ketika gesekan-gesekan itu tidak menemui jalan keluar.

Sangat penting untuk mendapatkan solusi yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Untuk mencapai titik ini, pasangan harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan, berkomunikasi, dan menegosiasikan ego. “Jangan sampai salah satu merasa selalu menjadi pihak yang harus mengalah. Jadi, seolah-olah sudah tercapai solusi, padahal sebetulnya memendam masalah baru,” ujar Elly.

Tidak ada jalur pendidikan formal yang mengajarkan ilmu pernikahan langgeng. Mau tidak mau, Anda berdua harus rela berproses, meski itu berarti harus ‘berdarah-darah’ dan berlinang air mata. Jalan sulit ini pula yang diambil oleh Cindy dan Firman saat kehidupan rumah tangga mereka diguncang isu hadirnya orang ketiga.

Keinginan yang begitu besar untuk mempertahankan rumah tangga membuat mereka berdua berani mengorbankan karier yang mulai berkibar. “Hampir setahun kami sengaja tidak mengambil job apa pun untuk menyelesaikan masalah ini. Lagi pula, rasanya tidak mungkin harus terus-menerus tampil di depan umum dengan masalah yang berat ini. Kami tidak ingin masalah ini sampai ke telinga media infotainment,” ujar Cindy, mengenang masa-masa suram dalam kehidupan rumah tangganya saat itu.

Masa itu, menurut Cindy, betul-betul masa penuh babak belur. Secara keuangan tabungan terkuras, secara mental juga melelahkan. Cindy juga terlihat lebih kurus dan lusuh karena tak punya waktu untuk merawat diri. Fokusnya waktu itu betul-betul untuk memperbaiki hubungan.

Advertisement
Tidak mudah mengembalikan kepercayaan yang telah rusak. Keduanya harus mati-matian menelan ego dan membangun kembali komunikasi. Selama masa vakum dari dunia keartisan itu, keduanya mulai membicarakan kemungkinan solusi. Keduanya berkomitmen untuk melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Termasuk untuk urusan pekerjaan.

“Kalau dulu mengambil pekerjaan sendiri-sendiri, kini kami ambil peran yang bisa kami jalani berdua. Karena, ternyata hubungan kami belum cukup kuat jika kami harus terpisah dalam jangka waktu lama,” terang Cindy, yang telah dikaruniai tiga orang anak.
Jejak komitmen duet pasangan ini terlihat dalam beberapa sinetron, seperti Dewa (2011) dan Tukang Bubur Naik Haji (2012). Di kedua sinetron ini Cindy dan Firman dipasangkan sebagai suami-istri. “Konflik ini sekaligus menjadi titik tolak kami untuk belajar memaknai pernikahan dengan memperdalam spiritual,” lanjut Cindy yang di tahun 2015 ini usia pernikahannya memasuki tahun ke-16.

Setelah hampir menyerah, pasangan Fenita dan Arie mencoba untuk menengok ke belakang,  pada visi dan misi mereka dalam membangun rumah tangga. Fenita pun sempat menantang diri sendiri. “Masa, sih, saya begini saja sudah menyerah. Saya pun bertekad, harus memperjuangkan rumah tangga saya,” tutur Fenita, yang mengatakan, kehadiran anak menjadi titik balik baginya.

“Sambil liatin anak, kami berdua ngobrol. Ada satu momen yang membuat kami jadi terbuka, kenapa, ya, kami jadi seperti ini. Kami pun seperti tersadar, betapa egoisnya kami selama ini,” ujar Fenita. Tepat pada saat itulah keduanya kembali diingatkan pada tujuan mereka saat saling mengikat janji, yaitu membangun rumah tangga dan keluarga yang harmonis untuk kedua anak mereka.

“Memegang komitmen, saling terbuka, tidak gengsi untuk mengakui kesalahan dan minta maaf menjadi ‘mantra’ kami sejak saat itu,” ungkap Fenita, yang merasa bersyukur berhasil melewati masa-masa sulit.

Namun, meski kini pernikahannya sudah memasuki tahun ke-10, bukan berarti mereka lepas dari drama-drama kecil. Soal mengambil keputusan bisnis misalnya, Fenita merasa bahwa terkadang Arie suka bersikeras dengan keputusannya. Pernah, suatu kali Arie ngotot untuk membeli sebidang tanah untuk dibangun properti. Namun, intuisinya mengatakan bahwa tanah itu bermasalah, jadi ia menyarankan sang suami untuk membatalkan niatnya. Benar saja, setelah didirikan bangunan rupanya tanah tersebut memang bermasalah.

“Rasanya waktu itu ingin sekali saya bilang, ‘Nah, benar kan, kata saya. Kamu sih, enggak mau dengar!’ Tapi, jelas sikap seperti ini justru malah tambah memperkeruh suasana. Lebih baik saya fokus membantu suami untuk mencari solusi. Toh, semua yang kami lakukan ini bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan bersama. Susah, senang, harus kami tanggung bersama,” ujar Fenita, bijak.

Pelajaran ini membuat keduanya lebih membuka diri untuk mendengar apa yang menjadi pendapat atau pemikiran pasangannya. “Dengan membuka komunikasi dan jalan kompromi, semua bisa dijalani dengan lebih mudah,” lanjut ibu dua anak ini.

Komunikasi atau keterbukaan memang menjadi hal yang sangat penting. Elly mengamati, banyak sekali permasalahan rumah tangga berawal dari hal-hal kecil yang dipendam begitu saja, dan seiring waktu berubah menjadi kanker ganas yang menggerogoti hubungan dari dalam. Pada akhirnya, pasangan tak lagi punya alasan untuk mempertahankan pernikahan yang sudah kehilangan cinta itu.(Naomi Jayalaksana)






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?