Sehingga, Iben menilai, tiap penyelenggara festival perlu melakukan evaluasi. Jika tujuan mereka adalah memperkenalkan sastra dan buku kepada masyarakat luas, seberapa banyakkah masyarakat yang berhasil mereka sentuh lewat festival tersebut.
Okky Madasari, penulis dan penggagas ASEAN Litertary Festival, yang salah satu novelnya, 86, pernah masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award 2011, tidak memungkiri hal ini. “Kadang-kadang orang mengatakan, ekonomi saja sulit, bagaimana bisa memikirkan sastra. Padahal, sastra dapat menjadi bacaan bagi siapa pun karena darinya kita dapat belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, welas asih, tenggang rasa, serta toleransi. Saya percaya, orang yang membaca karya sastra akan jauh dari perilaku kekerasan,” tuturnya.