Trending Topic
Fenomena Global

25 Nov 2015


Di era media sosial seperti saat ini, persoalan privat pun dengan mudah mendapatkan penonton aktif, yaitu para followers atau orang-orang yang penasaran ingin tahu. Para penonton ini bisa ikut berkomentar, baik komentar yang mendinginkan atau justru mengipasi api agar terus berkobar. Namun, mengapa pengguna media sosial terlihat kesulitan mengendalikan diri dalam berkomentar?

Berbeda dengan penonton orang yang bertengkar di dunia nyata yang cenderung pasif atau justru akan melerai pertengkaran, di media sosial bisa sebaliknya. Mereka bisa aktif menasihati atau justru ikut mengipasi bara api sehingga nyalanya bisa kian membesar. Malah terkadang para ‘penggembira’ ini menyeret pihak lain ikut terlibat, meski sesungguhnya pihak itu tidak ada hubungan dalam kasus semula.

Apakah fenomena ini hanya terjadi di Indonesia? “Tidak juga, karena sebetulnya bukan cuma orang kita yang seperti ini. Misalnya twitwar, kan terjadi juga di Hollywood,” kata Abang Edwin S.A., konsultan media sosial yang akrab dipanggil Bangwin. Bagi penggemar kehidupan ingar-bingar Hollywood tentu tidak akan asing nama-nama tenar yang juga mengguncang dunia digital.

Advertisement
Alasan mengapa masih banyak orang yang ‘tergelincir’ atau ‘menggelincirkan’ diri masuk ke dalam ‘jeratan’ media sosial, baik sebagai korban maupun pelaku, menurut Bangwin karena media sosial itu seperti menipu. “Maksudnya, ketika kita ngomong di timeline, mungkin kita tahu dan sadar bahwa ada orang di luar sana, tetapi kita tidak melihat bentuk fisik mereka. Ketika kita mengetik status atau menulis sesuatu di timeline itu, yang ada kan cuma kita dengan gadget kita,” kata Bangwin.

Hal ini membuat seseorang merasa leluasa karena  tidak  ada orang lain dalam bentuk fisik yang melihatnya. Hal ini berbeda dengan ketika kita di dunia nyata. Ketika ingin curhat, kita akan menelepon sahabat dan mengajak ngobrol secara pribadi. Atau, ketika marah pada orang lain, kemungkinan besar kita akan mampu mengontrol emosi karena malu bila dilihat orang di sekitar kita.
   
Selain itu, kurangnya pemahaman orang akan karakter media sosial juga menjadi faktor penyebab. “Media sosial itu sifatnya meng-extend cara kita berkomunikasi. Analoginya seperti kita bicara dengan toa, sehingga banyak orang yang mendengar,” kata Bangwin.
Masalahnya, banyak orang yang menganggap, dia bisa melakukan apa pun di timeline-nya. Lha, ini kan timeline gue, terserah dong, mau gue isi apa…, begitu mungkin yang dipikirkan. “Tapi, sadar enggak kalau apa pun yang Anda tulis di timeline   juga akan muncul di timeline orang lain. Jadi, jangan heran bila ada yang mengatakan, ‘Terserah gue juga, dong, kalau ikutan komen…,’” kata Bangwin, mengingatkan. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?