Pada saat inilah, kehadiran kelompok dukungan, baik itu dari lingkungan keluarga maupun komunitas luar sangat membantu mereka dalam melalui fase kepedihan yang mendalam ini. “Pada tahapan ini, kehadiran kita hanyalah sebagai pendengar, membantu mereka untuk meluapkan emosi-emosi negatif yang menumpuk di dada,” jelas Verauli. Ketika awan stres gelap itu memudar, otomatis hati mereka menjadi lega, pemikiran atau rasionalitas mereka juga mulai terbuka.
Utamanya, karena di dalam kelompok ini, mereka juga bertemu dengan sesama penderita. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Melalui sesi sharing, mereka juga tidak lagi merasa sebagai orang yang paling malang sedunia. Bahkan, banyak mendapat inspirasi, atau tip-tip bertahan menghadapi situasi-situasi tak tertahankan, seperti menjalani proses kemoterapi. (f)