“Tiga tahun yang lalu, di hampir tengah malam saat hujan deras, kami kedatangan beberapa... ya... beberapa orang serdadu Jepang. Mereka memaksa untuk menggeledah biara dan asrama. Mereka mencari beberapa pelarian dari Solo yang mereka anggap telah menghasut rakyat untuk melawan propaganda Nippon. Namun, mereka tidak menemukan sesuatu pun di sini. Setelah beberapa saat mereka pergi, kami kedatangan tamu lagi. Tiga orang pribumi, satu di antaranya perempuan, berdiri basah kuyup di depan gerbang. Sikap mereka sangat waspada. Salah satunya minta bantuan agar kami bersedia menyembunyikan kawan perempuan mereka. Mereka mengaku sebagai kelompok perlawanan pada penguasa Dai Nippon. Atas dasar kemanusiaan, permintaan mereka kami turuti. Perempuan itu ikut kami, sedangkan dua temannya melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, mereka menitipkan sesuatu kepada perempuan itu.
Esok paginya kami mendengar kabar bahwa ditemukan dua mayat lelaki di perkebunan di daerah Bawen. Tak salah, dari cerita yang kami dengar, mereka pastilah dua orang teman perempuan yang kami sembunyikan. Rupanya, serdadu Jepang berhasil memergoki mereka. Setelah itu, beberapa kali serdadu Jepang masih mencoba untuk menggeledah tempat ini, jika mereka mendengar informasi dari para mata-mata. Namun, berkat Tuhan, perempuan itu dan kami selalu selamat. Setelah kemerdekaan, datang pula orang-orang pribumi dari suatu partai mencari orang yang sama. Sepertinya, ada sesuatu yang sangat rahasia yang dibawa oleh perempuan itu sehingga banyak pihak menginginkannya.“
Biarawati itu tersenyum. “Tuan, kami belum mengenal Tuan. Jadi maaf, kami hanya bisa mengatakan bahwa dia masih hidup dan sehat, Tuan Hans.”
Aku terduduk lemas. Bagiku, jawaban terakhir Muder Franceline seperti meniupku ke awing-awang.
Dengan langkah gontai aku menuruni tangga teras biara. Kuentakkan kakiku menendang guguran buah cemara di halaman. Buah cemara itu melayang ke samping melewati pagar perdu. Suara benda jatuh ke air mengusik minatku untuk mendekat. Ternyata, di samping halaman itu ada sebuah kolam.
Ikan-ikan mas yang berenang di kolam itu tampak sangat terawat. Seperti kolam di rumah dinas Papi di Gondang dulu. Tiba-tiba ikan-ikan itu seperti kaget dan bersama-sama berenang ke arah yang sama. Aku mengikutinya. Kolam itu ternyata cukup luas dan berbelok 90 derajat ke kanan. Di ujung ada seseorang sedang duduk dengan caping petani, menebar makanan untuk ikan-ikan tersebut.
Aku berjalan mendekatinya. Pada jarak sekitar tiga meter aku berhenti. Dia seperti tidak memedulikan aku. Sedikit dia beringsut ke arahku sambil mengulurkan tangannya.
“Ayo, Pak Kemis, tolong bantu saya. Jangan berdiri di situ saja. Ke mana saja, sih? Biasanya Pak Kemis yang lebih dulu datang.”
Aku tercekat. Suara itu…? Ya! Aku kenal suara itu! Ya, Tuhan, itu ….
“Pak Kemis! Mbok, ya, cepet gitu, lho!”
Yah, tak salah lagi! Kusambut tangannya. Dan, ketika telapaknya membuka aku beranikan untuk menggenggamnya. Seperti ada aliran listrik mengejutkan tangan kami. Sepintas teringat aku akan kejadian di kebun tebu sekian tahun yang lalu.
Dan, ketika remang senja mulai menyapu cakrawala dengan warna kesumba, Winih menyandarkan kepala di pundakku, melekatkan wajahnya ke dadaku. Kaki-kaki kami sesekali menyapu air kolam dan mengagetkan ikan-ikan yang berkeriapan di sekitar kami. Winih tersenyum dengan garis bibir yang begitu indah.
“Hans, aku tak pernah menyangka kamu benar-benar akan datang kembali. Setelah semua peristiwa yang kulalui aku sudah putus harapan. Meski demikian, aku tak pernah bisa mengusir semua yang pernah kita lalui.”
“Semua sudah berakhir, Win, aku sudah bersamamu kembali. Kita bisa melakukan apa pun yang selama ini tertunda. Aku harap kamu tak menolak ikut aku ke Rotterdam. Ya, Win, kamu harus ikut aku. Bagaimana mungkin aku harus menjebak diriku kembali dengan keangkuhanku yang akan berakhir pada penyesalan dan derita batin yang berkepanjangan?
Advertisement
Win memandangku berbinar. Namun, sejurus kemudian matanya kembali meredup. Dua helai daun nangka melayang dan jatuh di air kolam dekat kami.
“Tiga tahun aku berada di sini. Sebagian besar waktu itu kujalani dengan cara yang begitu kubenci. Sangkar biara yang terkadang kurasakan terlalu kejam pada gejolak jiwa pemberontakku. Kau tak tahu, Hans, betapa berat hidup yang kujalani saat itu, meski aku sadar bahwa semua itu h