Sebagian anak dapat menerima serta mengatasi perubahan dan stres yang dihadapinya tanpa masalah berarti. Namun, pada sebagian yang lain, terutama jika stres yang dihadapinya lebih berat, seperti mengalami kekerasan fisik dan menghadapi perpisahan orang tua yang disertai konflik, tentu akan memberi tekanan yang sangat besar hingga mengarah pada kondisi depresi. Bila kondisi depresi pada anak tidak ditangani secara baik dan tuntas, kondisi ini lama-kelamaan bisa membuat seorang anak merasa tidak ada gunanya dia hidup dan memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Kecenderungan anak masa kini yang lebih minim beraktivitas fisik juga ikut memberi pengaruh.
Di lain pihak, secara genetis, ada anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi yang memicu bunuh diri. ”Misalnya, pada penderita gangguan bipolar atau anak dengan orang tua depresi.” ujar dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, mengacu pada masalah kesehatan jiwa yang disebabkan oleh gangguan mood.
Menurut KPAI, kekerasan yang dialami anak, baik itu berupa kekerasan fisik, seksual, maupun psikis, memang bisa menyebabkan seorang anak mengalami gangguan psikis, yang bisa mengarah pada depresi.
Jauh sebelum seorang anak memutuskan mengambil tindakan fatal itu, sesungguhnya ada proses atau tahapannya. Tahap pertama, saat anak itu memikirkan bunuh diri. Tahap kedua, ia sudah berpikir bunuh dirinya dengan cara apa atau menggunakan alat apa. Tahap ketiga, dia sudah menyiapkan alat untuk melakukan bunuh diri. Tahap selanjutnya, saat ia sudah melakukan percobaan bunuh diri. (f)