Menurut Irma Makarim, kegagalan dalam kehamilan atau yang kita kenal dengan istilah keguguran adalah peristiwa yang sering terjadi dalam sebuah kehamilan. Anda tidak sendiri, 10% – 25% dari kehamilan berakhir dengan keguguran. Penyebabnya sangat bervariasi, tetapi kebanyakan tidak diketahui pasti. Tetapi, tidak pernah dibuktikan bahwa ibu yang bekerja di luar rumah menjadi penyebab keguguran.
Kegagalan dalam kehamilan tentu menimbulkan kekecewaan dan kesedihan mendalam terutama bagi calon ibu. Andalah yang butuh dukungan dari pasangan dan keluarga terdekat, untuk membantu menjalani kedukaan yang Anda alami. Memang memprihatinkan kalau suami dan mertua malah melemparkan kesalahan pada Anda. Tetapi, ini hanya bisa terjadi karena keterbatasan mereka dalam memahami semua ini. Anda sebaiknya jangan terlalu memasukkan ke hati. Yang terpenting, Anda harus yakin bahwa ini bukan kesalahan Anda.
Bagi orang yang percaya, memang tak ada yang luput dari perhatian dan kekuasaan-Nya. Justru beliau dan suami perlu berbaik sangka dan menerima bahwa apa pun yang diberikan-Nya. Mungkin ini yang terbaik untuk saat ini dan menyadari bahwa banyak hal yang berada di luar kekuasan kita. Sebagai pasangan semestinya Anda bukan saja berbagi dalam kesenangan, tetapi terutama saling mendukung dalam kesusahan. Kalau suami menginginkan Anda kembali, maka yakinkan hal ini padanya. Ini adalah sebuah proses yang semestinya dilalui bersama dengan penuh kasih, bukan saling menyalahkan.
Sedangkan menurut Monty Satiadarma, sikap suami dan ibu mertua memang tidak dapat dibenarkan. Mereka sebenarnya juga merasa tidak berdaya karena merasa kehilangan, padahal sudah bersiap menerima anak dan cucu harapan. Hanya, mereka tidak menyadari bahwa Anda juga tengah mengalami rasa kehilangan. Mereka kurang tanggap atas kehilangan yang Anda alami, dan lebih terfokus pada perasaan kehilangan yang mereka alami.
Anda harus bersabar dan memaklumi sikap mereka, memang hal ini relatif sulit karena Anda sendiri berhadapan dengan masalah ganda yaitu kehilangan dan dipersalahkan. Pulang ke rumah orang tua guna memperoleh dukungan psikologis sementara memang bisa meredakan gejolak yang Anda rasakan, akan tetapi hal ini tidak akan membuat diri Anda menjadi lebih tegar. Ada baiknya jika Anda memperoleh bantuan psikologis langsung dari tenaga profesional di lingkungan hidup Anda. Ada baiknya pula jika ada konselor keluarga yang membantu Anda.